alexametrics
25.6 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Hipmi Bedah Rumah Tak Layak Huni dengan Teknologi Risha

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Semangat gotong royong lintas elemen untuk membantu warga yang membutuhkan terus terjaga di Banyuwangi. Yang terbaru, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Banyuwangi melakukan bedah rumah warga miskin dengan teknologi rumah instan sederhana sehat (Risha).

Yang terbaru, Hipmi membedah rumah dua warga di wilayah Kecamatan Kabat. Salah satunya rumah Hawiyah yang berlokasi di Dusun Gebud, Desa Pendarungan. Sedangkan satu rumah lain adalah kediaman Siami di Dusun Krajan, Desa Macanputih.

Bupati Ipuk Fiestiandani berterima kasih kepada Hipmi yang telah mendukung bedah rumah yang digalakkan Pemkab Banyuwangi. “Bedah rumah tidak sekadar memperbaiki rumah saja. Namun juga turut mengurangi kemiskinan dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Penanganan kemiskinan tidak bisa dilakukan sendiri, tapi harus gotong royong oleh banyak pihak,” ujarnya sesaat usai meletakkan batu pertama bedah rumah milik Hawiyah kemarin (1/7).

Menurut Ipuk, gotong royong membantu warga miskin merupakan  bentuk solidaritas sosial yang terus ditumbuhkan pemkab ke seluruh warga. “Sejak 2015 pemkab telah menggalakkan program bedah rumah. Tahun ini lebih dari 1.500 rumah tak layak huni akan diperbaiki. Pembiayaan dilakukan dengan skema gotong royong banyak pihak,” tuturnya.

Baca Juga :  Pascapandemi, Momentum Sukses Bersama

Tidak hanya dilakukan dengan anggaran pemerintah, pemkab juga mengajak dunia usaha untuk gotong royong melakukan bedah rumah. “Kami punya datanya, nanti mereka tinggal memilih mana yang akan direnovasi. Jadi, bedah rumah ini keroyokan bareng, ada yang didanai pemerintah pusat, pemkab, pemerintah desa, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), dunia usaha, Badan Usaha Desa Bersama (Bumdesma) eks Program Nasional Penanggulangan Kemiskinan (PNPM), dan gotong royong berbagai pihak lainnya,” kata Ipuk.

Ipuk mengapresiasi Hipmi yang merenovasi dengan menggunakan teknologi Risha. Menurutnya, tidak hanya memperbaiki rumah namun sisi kesehatan lingkungan penghuni rumah juga diperhatikan. “Sederhana tapi sehat. Jadi tidak hanya sekadar memperbaiki, namun hal-hal lainnya seperti sanitasi, sirkulasi udara, penyediaan air bersih, dan lainnya juga diperhatikan,” jelasnya.

Selain itu, dengan metode Risha rumah tersebut memiliki kemampuan tahan gempa. Ketua Hipmi Banyuwangi Dede Abdul Ghany menambahkan, pembangunan rumah tersebut menerapkan teknologi Risha sesuai yang dikembangkan oleh Litbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). “Dengan kualitas bangunan lebih baik, kami berharap bisa bermanfaat bagi warga yang mendapatkan,” terangnya.

Baca Juga :  Gencarkan Sosialisasi Kota Hijau dan Lomba Pertamanan

Teknologi Risha adalah perwujudan sebuah rumah dengan desain modular, yaitu konsep yang membagi sistem menjadi bagian-bagian kecil (modul), dengan ukuran yang efisien agar dapat dirakit menjadi sejumlah besar produk yang berbeda-beda.

Desain bangunan rumah dengan sistem modular ini dapat diubah-ubah atau dikembangkan sesuai dengan keinginan atau kebutuhan dari penghuninya. Selain itu rumah sederhana tersebut mampu dibangun dengan cepat dan memiliki kemampuan tahan gempa. “Kami percaya dengan kekompakan seluruh masyarakat, pelaku usaha, organisasi dan asosiasi hingga seluruh perusahaan yang ada di Banyuwangi bisa menurunkan tingkat kemiskinan dan pengangguran, sehingga tercapai rebound ekonomi yang lebih baik,” pungkas Dede. (sgt/afi)

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Semangat gotong royong lintas elemen untuk membantu warga yang membutuhkan terus terjaga di Banyuwangi. Yang terbaru, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Banyuwangi melakukan bedah rumah warga miskin dengan teknologi rumah instan sederhana sehat (Risha).

Yang terbaru, Hipmi membedah rumah dua warga di wilayah Kecamatan Kabat. Salah satunya rumah Hawiyah yang berlokasi di Dusun Gebud, Desa Pendarungan. Sedangkan satu rumah lain adalah kediaman Siami di Dusun Krajan, Desa Macanputih.

Bupati Ipuk Fiestiandani berterima kasih kepada Hipmi yang telah mendukung bedah rumah yang digalakkan Pemkab Banyuwangi. “Bedah rumah tidak sekadar memperbaiki rumah saja. Namun juga turut mengurangi kemiskinan dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Penanganan kemiskinan tidak bisa dilakukan sendiri, tapi harus gotong royong oleh banyak pihak,” ujarnya sesaat usai meletakkan batu pertama bedah rumah milik Hawiyah kemarin (1/7).

Menurut Ipuk, gotong royong membantu warga miskin merupakan  bentuk solidaritas sosial yang terus ditumbuhkan pemkab ke seluruh warga. “Sejak 2015 pemkab telah menggalakkan program bedah rumah. Tahun ini lebih dari 1.500 rumah tak layak huni akan diperbaiki. Pembiayaan dilakukan dengan skema gotong royong banyak pihak,” tuturnya.

Baca Juga :  KMP Labrita Adinda Membara di Selat Bali

Tidak hanya dilakukan dengan anggaran pemerintah, pemkab juga mengajak dunia usaha untuk gotong royong melakukan bedah rumah. “Kami punya datanya, nanti mereka tinggal memilih mana yang akan direnovasi. Jadi, bedah rumah ini keroyokan bareng, ada yang didanai pemerintah pusat, pemkab, pemerintah desa, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), dunia usaha, Badan Usaha Desa Bersama (Bumdesma) eks Program Nasional Penanggulangan Kemiskinan (PNPM), dan gotong royong berbagai pihak lainnya,” kata Ipuk.

Ipuk mengapresiasi Hipmi yang merenovasi dengan menggunakan teknologi Risha. Menurutnya, tidak hanya memperbaiki rumah namun sisi kesehatan lingkungan penghuni rumah juga diperhatikan. “Sederhana tapi sehat. Jadi tidak hanya sekadar memperbaiki, namun hal-hal lainnya seperti sanitasi, sirkulasi udara, penyediaan air bersih, dan lainnya juga diperhatikan,” jelasnya.

Selain itu, dengan metode Risha rumah tersebut memiliki kemampuan tahan gempa. Ketua Hipmi Banyuwangi Dede Abdul Ghany menambahkan, pembangunan rumah tersebut menerapkan teknologi Risha sesuai yang dikembangkan oleh Litbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). “Dengan kualitas bangunan lebih baik, kami berharap bisa bermanfaat bagi warga yang mendapatkan,” terangnya.

Baca Juga :  Taat Prokes, Tradisi Ider Bumi Hanya Ada Satu Barong

Teknologi Risha adalah perwujudan sebuah rumah dengan desain modular, yaitu konsep yang membagi sistem menjadi bagian-bagian kecil (modul), dengan ukuran yang efisien agar dapat dirakit menjadi sejumlah besar produk yang berbeda-beda.

Desain bangunan rumah dengan sistem modular ini dapat diubah-ubah atau dikembangkan sesuai dengan keinginan atau kebutuhan dari penghuninya. Selain itu rumah sederhana tersebut mampu dibangun dengan cepat dan memiliki kemampuan tahan gempa. “Kami percaya dengan kekompakan seluruh masyarakat, pelaku usaha, organisasi dan asosiasi hingga seluruh perusahaan yang ada di Banyuwangi bisa menurunkan tingkat kemiskinan dan pengangguran, sehingga tercapai rebound ekonomi yang lebih baik,” pungkas Dede. (sgt/afi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/