alexametrics
23.2 C
Banyuwangi
Monday, August 8, 2022

Tarif PDAM Dorong Inflasi Oktober

BANYUWANGI- Meroketnya tarif Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) hingga 67,45 persen menjadi pemicu utama terjadinya inflasi Oktober hingga 0,09 persen. Kenaikan tarif PDAM pada September 2017 memberi sumbangan inflasi tertinggi pada bulan Oktober sebesar 0,19 persen.

Inflasi Banyuwangi pada Oktober menyalip inflasi Jatim yang hanya 0,01 persen, dan inflasi nasional 0,02 persen. Dua bulan sebelumnya, Agustus dan September Banyuwangi mengalami deflasi masing-masing 0,11 persen dan 0,02 persen.

Dari delapan kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jatim, lima kota mengalami inflasi dan tiga mengalami deflasi. “Banyuwangi berada diperingkat kedua setelah Kota Madiun diperingkat pertama dengan inflasi 0,14 persen,” ungkap Kepala BPS Banyuwangi, Harsono melalui Kasi Distribusi Statistik, Mulyono. 

Dari tujuh kelompok pengeluaran di Banyuwangi, lima kelompok mengalami inflasi. Sedangkan dua kelompok pengeluaran lainnya mengalami deflasi, yakni kelompok trnsportasi 0,15 persen dan kelompok bahan makanan sebesar 1,57 persen.

Baca Juga :  Dirregident Apresiasi Penerapan PPKM Darurat di ASDP Ketapang

Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi adalah, kelompok peruamahan 1,86 persen, kelompok pendidikan 1,34 persen, kelompok kesehatan 1,08 persen, kelompok sandang 0,45 persen dan kelompok makanan jadi 0,1 persen. Komoditas yang mendorong laju inflasi antara lain, kenaikan tarif PDAM, beras, pasir, mobil dan beberapa komoditas lainnya.

Sementara komoditas yang menahan laju inflasi adalah turunnya harga daging ayam ras, teluar ayam ras, bawang putih,sepeda motor, minyak goreng dan cabai rawit. “Kenaikan tarif PDAM yang dilakukan pada September, berdampak pada pembayaran air minum bulan Oktober sehingga memberikan sumbangan inflasi paling tinggi diantara komponen lainnya,” jelas Mulyono.

Setelah kenaikan tarif PDAM,jelas Mulyono, inflsi Oktober juga didorong oleh pergerakan harga pasir sebagai komoditas vital dalam pembangunan. Panggalian pasir makin lama semakin menipis, sementara kebutuhan terhadap pasir terus meningkat berdampak pada kenaikan harga pasir.

Baca Juga :  Undang Orang Tua untuk Tentukan Pilihan

Pergerakan harga beras, lanjut dia, juga dipicu dengan menurunnya area luas panen sehingga menyebabkan turunnya produksi padi sehingga berdampak pada meningkatnya harga beras. Hanya sumbangan komoditas berhadap inflasi tidak terlalu signifikan hanya sekitar 0,06 persen.

Mulyono mengungkapkan, laju inflasi Banyuwangi tahun kalender Oktober 2017 terhadap Desember 2016 sebesar 2,21 persen atau lebih rendah dari Jatim 3,07 persen dan nasional 2,67 persen. Sedangkan laju inflasi year on year, Oktober 2017 terrhadap OKtober 2016  Banyuwangi sebesar 2,95 persen dan lebih rendah dari Jatim 3,99 persen dan nasional 3,58 persen.

Inflasi Oktober dihambat turunnya daging ayam ras dan telur ayam ras. Turunnya daging ayam ras dipengaruhi adanya kebijakan pemerintah melakukan impor bibit indukan (grand parent stok) yang hingga Juni mencapai 58 hingga 64 juta ekor setiap minggu.

BANYUWANGI- Meroketnya tarif Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) hingga 67,45 persen menjadi pemicu utama terjadinya inflasi Oktober hingga 0,09 persen. Kenaikan tarif PDAM pada September 2017 memberi sumbangan inflasi tertinggi pada bulan Oktober sebesar 0,19 persen.

Inflasi Banyuwangi pada Oktober menyalip inflasi Jatim yang hanya 0,01 persen, dan inflasi nasional 0,02 persen. Dua bulan sebelumnya, Agustus dan September Banyuwangi mengalami deflasi masing-masing 0,11 persen dan 0,02 persen.

Dari delapan kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jatim, lima kota mengalami inflasi dan tiga mengalami deflasi. “Banyuwangi berada diperingkat kedua setelah Kota Madiun diperingkat pertama dengan inflasi 0,14 persen,” ungkap Kepala BPS Banyuwangi, Harsono melalui Kasi Distribusi Statistik, Mulyono. 

Dari tujuh kelompok pengeluaran di Banyuwangi, lima kelompok mengalami inflasi. Sedangkan dua kelompok pengeluaran lainnya mengalami deflasi, yakni kelompok trnsportasi 0,15 persen dan kelompok bahan makanan sebesar 1,57 persen.

Baca Juga :  Dirregident Apresiasi Penerapan PPKM Darurat di ASDP Ketapang

Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi adalah, kelompok peruamahan 1,86 persen, kelompok pendidikan 1,34 persen, kelompok kesehatan 1,08 persen, kelompok sandang 0,45 persen dan kelompok makanan jadi 0,1 persen. Komoditas yang mendorong laju inflasi antara lain, kenaikan tarif PDAM, beras, pasir, mobil dan beberapa komoditas lainnya.

Sementara komoditas yang menahan laju inflasi adalah turunnya harga daging ayam ras, teluar ayam ras, bawang putih,sepeda motor, minyak goreng dan cabai rawit. “Kenaikan tarif PDAM yang dilakukan pada September, berdampak pada pembayaran air minum bulan Oktober sehingga memberikan sumbangan inflasi paling tinggi diantara komponen lainnya,” jelas Mulyono.

Setelah kenaikan tarif PDAM,jelas Mulyono, inflsi Oktober juga didorong oleh pergerakan harga pasir sebagai komoditas vital dalam pembangunan. Panggalian pasir makin lama semakin menipis, sementara kebutuhan terhadap pasir terus meningkat berdampak pada kenaikan harga pasir.

Baca Juga :  Ketua PGRI Jatim Teguh Sumarno Dapat Suntikan Vaksin

Pergerakan harga beras, lanjut dia, juga dipicu dengan menurunnya area luas panen sehingga menyebabkan turunnya produksi padi sehingga berdampak pada meningkatnya harga beras. Hanya sumbangan komoditas berhadap inflasi tidak terlalu signifikan hanya sekitar 0,06 persen.

Mulyono mengungkapkan, laju inflasi Banyuwangi tahun kalender Oktober 2017 terhadap Desember 2016 sebesar 2,21 persen atau lebih rendah dari Jatim 3,07 persen dan nasional 2,67 persen. Sedangkan laju inflasi year on year, Oktober 2017 terrhadap OKtober 2016  Banyuwangi sebesar 2,95 persen dan lebih rendah dari Jatim 3,99 persen dan nasional 3,58 persen.

Inflasi Oktober dihambat turunnya daging ayam ras dan telur ayam ras. Turunnya daging ayam ras dipengaruhi adanya kebijakan pemerintah melakukan impor bibit indukan (grand parent stok) yang hingga Juni mencapai 58 hingga 64 juta ekor setiap minggu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/