alexametrics
24 C
Banyuwangi
Monday, August 8, 2022

Gabah Petani Sulit Pembeli, Pemerintah Sarankan Tunda Penjualan

RadarBanyuwangi.id – Petani padi Situbondo saat ini sedang mengalami masa sulit. Sebab, mereka kesulitan mencari pasar terhadap hasil panennya. Bahkan, slep yang biasanya membeli gabah, kini tidak mau menerima.

Haris, salah satu pemilik slep mengatakan, alasan tidak berani membeli gabah petani karena stok di gudang masih menumpuk. Saat ini ada ratusan ton padi yang belum terjual di gudang miliknya. “Sejak Bulan Maret sudah numpuk,” ujar Haris kepada RadarBanyuwangi.id.

Jika membeli gabah petani, otomatis stok akan semakin menumpuk. Sedangkan gabah dari slep belum menemukan pembeli. “Belum ada pembeli di pasar. Pasar tidak buka harga karena belum ada pembeli juga,” jelas pemilik gudang slep di Dusun Ardiwilis, Desa Sumberkolak, Kecamatan Panarukan itu.

Di satu sisi, sudah satu bulan lebih bulog tidak membeli gabah petani. Oleh sebab itulah, Haris berharap kepada pemerintah untuk turun tangan mengatasi permasalahan ini. “Kalau bulog beli mendingan. Kami meminta bulog jangan terlalu ketat dalam membeli gabah petani,” ujarnya.

Dia juga mengaku, baru kali ini petani dan pemilik slep mengalami kondisi sulit. Sebab, permasalahannya bukan hanya harga gabah dan beras anjlok saja. Akan tetapi petani tidak bisa menjual hasil pertaniannya. “Kalau harga anjlok terus ada yang beli, mungkin tidak terlalu rugi,” pungkasnya.

Baca Juga :  Harga Cabai Rawit Berpeluang Naik

Sekretris Komisi II DPRD Situbondo, Suprapto kepada RadarBanyuwangi.id mengaku, pihaknya sudah melihat secara langsung kondisi para petani Situbondo. Menurutnya, jika dalam satu pekan tidak ada solusi, akan berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat. “Harga anjlok. Harga gabah kering Rp 3.800 dan beras Rp 7.500 per kilogram. Itupun tidak semua slep mau menerima gabah dari petani,” katanya.

Politisi PKB ini menerangkan, stok di beberapa slep saat ini sedang melimpah. Karena itu, mereka tidak berani membeli gabah petani. Sementara, slep juga butuh pembeli karena modal usahanya rata-rata pinjam di bank. “Saya hanya mengambil sampel di beberapa slep, tetapi saya yakin, 30 ribu lebih petani di Situbondo bernasib sama,” ujarnya.

Suprapto berharap kepada pemerintah daerah turun tangan. Misalnya, dengan meminta bulog segera membeli gabah-gabah petani. “Kalau dibiarkan, pertanian kita akan macet. Selama ini, sektor pertanian yang mempertahankan eknomi tetap stabil,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP), Sentot Sugiyono mengatakan, pandemi Covid-19 menjadi pemicu kesulitan pasar. Dia mengatakan, gabah-gabah dari petani di jual ke luar daerah. “Ternyata dengan adanya ledakan Covid-19 banyak pengusaha restoran maupun hotel di kota-kota besar tidak buka, sehingga serapan beras rendah dan stok melimpah,” ujarnya.

Baca Juga :  Evakuasi Mobil dari Dasar Jurang Diwarnai Mesin Crane Mati dan Talinya Putus

Dia mengakui, stok di gudang-gudang slep saat ini sedang melimpah. Persediaan menumpuk sejak panen pertama lalu. Hasil panen pertama belum habis, petani sudah banyak yang melaksanakan panen kedua. “Sehingga stok di gudang semakin banyak,” terangnya.

Sentot membantah bulog tidak mau membeli hasil panen petani. Sebab, bulog sudah bersedia menyerap 1.000 ton gabah petani. Masalahnya, bulog hanya membeli dalam bentuk beras. Sedangkan kebanyakan petani langsung menjual padinya di sawah. “Sarana-prasarana petani yang agak berat disiapkan, ini juga menyebabkan terkendala dan stok menumpuk. Sementara bulog menerima beras,” katanya.

Dengan kondisi demikian, Sentot menyarankan kepada petani untuk menunda menjual hasil panennya. Tetapi, pemerintah juga menyadari, ini sulit dilakukan karena masyarakat juga butuh uang. “Ini menjadi atensi pemerintah. Bupati masih mengupayakan bagaimana pemerintah daerah membantu, dengan mengkonsumi beras masyarakat. Mungkin nanti ASN diminta membeli beras petani,” pungkas Sentot. (bib)

RadarBanyuwangi.id – Petani padi Situbondo saat ini sedang mengalami masa sulit. Sebab, mereka kesulitan mencari pasar terhadap hasil panennya. Bahkan, slep yang biasanya membeli gabah, kini tidak mau menerima.

Haris, salah satu pemilik slep mengatakan, alasan tidak berani membeli gabah petani karena stok di gudang masih menumpuk. Saat ini ada ratusan ton padi yang belum terjual di gudang miliknya. “Sejak Bulan Maret sudah numpuk,” ujar Haris kepada RadarBanyuwangi.id.

Jika membeli gabah petani, otomatis stok akan semakin menumpuk. Sedangkan gabah dari slep belum menemukan pembeli. “Belum ada pembeli di pasar. Pasar tidak buka harga karena belum ada pembeli juga,” jelas pemilik gudang slep di Dusun Ardiwilis, Desa Sumberkolak, Kecamatan Panarukan itu.

Di satu sisi, sudah satu bulan lebih bulog tidak membeli gabah petani. Oleh sebab itulah, Haris berharap kepada pemerintah untuk turun tangan mengatasi permasalahan ini. “Kalau bulog beli mendingan. Kami meminta bulog jangan terlalu ketat dalam membeli gabah petani,” ujarnya.

Dia juga mengaku, baru kali ini petani dan pemilik slep mengalami kondisi sulit. Sebab, permasalahannya bukan hanya harga gabah dan beras anjlok saja. Akan tetapi petani tidak bisa menjual hasil pertaniannya. “Kalau harga anjlok terus ada yang beli, mungkin tidak terlalu rugi,” pungkasnya.

Baca Juga :  Siagakan Penyelam Taifib di Pelabuhan Tanjung Wangi

Sekretris Komisi II DPRD Situbondo, Suprapto kepada RadarBanyuwangi.id mengaku, pihaknya sudah melihat secara langsung kondisi para petani Situbondo. Menurutnya, jika dalam satu pekan tidak ada solusi, akan berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat. “Harga anjlok. Harga gabah kering Rp 3.800 dan beras Rp 7.500 per kilogram. Itupun tidak semua slep mau menerima gabah dari petani,” katanya.

Politisi PKB ini menerangkan, stok di beberapa slep saat ini sedang melimpah. Karena itu, mereka tidak berani membeli gabah petani. Sementara, slep juga butuh pembeli karena modal usahanya rata-rata pinjam di bank. “Saya hanya mengambil sampel di beberapa slep, tetapi saya yakin, 30 ribu lebih petani di Situbondo bernasib sama,” ujarnya.

Suprapto berharap kepada pemerintah daerah turun tangan. Misalnya, dengan meminta bulog segera membeli gabah-gabah petani. “Kalau dibiarkan, pertanian kita akan macet. Selama ini, sektor pertanian yang mempertahankan eknomi tetap stabil,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP), Sentot Sugiyono mengatakan, pandemi Covid-19 menjadi pemicu kesulitan pasar. Dia mengatakan, gabah-gabah dari petani di jual ke luar daerah. “Ternyata dengan adanya ledakan Covid-19 banyak pengusaha restoran maupun hotel di kota-kota besar tidak buka, sehingga serapan beras rendah dan stok melimpah,” ujarnya.

Baca Juga :  Evakuasi Mobil dari Dasar Jurang Diwarnai Mesin Crane Mati dan Talinya Putus

Dia mengakui, stok di gudang-gudang slep saat ini sedang melimpah. Persediaan menumpuk sejak panen pertama lalu. Hasil panen pertama belum habis, petani sudah banyak yang melaksanakan panen kedua. “Sehingga stok di gudang semakin banyak,” terangnya.

Sentot membantah bulog tidak mau membeli hasil panen petani. Sebab, bulog sudah bersedia menyerap 1.000 ton gabah petani. Masalahnya, bulog hanya membeli dalam bentuk beras. Sedangkan kebanyakan petani langsung menjual padinya di sawah. “Sarana-prasarana petani yang agak berat disiapkan, ini juga menyebabkan terkendala dan stok menumpuk. Sementara bulog menerima beras,” katanya.

Dengan kondisi demikian, Sentot menyarankan kepada petani untuk menunda menjual hasil panennya. Tetapi, pemerintah juga menyadari, ini sulit dilakukan karena masyarakat juga butuh uang. “Ini menjadi atensi pemerintah. Bupati masih mengupayakan bagaimana pemerintah daerah membantu, dengan mengkonsumi beras masyarakat. Mungkin nanti ASN diminta membeli beras petani,” pungkas Sentot. (bib)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/