alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Sita Uang Euro dan Uang China Rp 1,7 Triliun

BANYUWANGI – Unit Reskrim Polresta Banyuwangi terus mengembangkan kasus uang asing palsu (upal). Selain menetapkan dua orang DPO (daftar pencarian orang), polisi dapat bukti upal lagi. Kali ini mata uang Euro dan China senilai Rp 1,7 triliun.

Sayang, polisi belum bisa memastikan mata uang tersebut asli atau palsu. Barang bukti baru tersebut berupa mata uang Euro pecahan 1 juta sebanyak 100 lembar dan mata uang China bertuliskan Renmin Yinhang pecahan 100 sebanyak 100 lembar. ”Untuk memastikan asli atau palsu, kami masih akan berkoordinasi dengan Konsul Jenderal China,” tegas Kapolresta Banyuwangi Kombespol Arman Asmara Syarifuddin.

Menurut Arman, atas pengembangan tersebut jumlah barang bukti (BB) secara otomatis bertambah. Sebelumnya hanya sebesar Rp 2,8 triliun, kini menjadi Rp 4,5 triliun dengan bentuk mata uang asing. ”Mata uang Euro yang didapati berlaku pada tahun 1999 sampai 2000 di 15 negara. Uang tersebut dijadikan koleksi karena sudah tidak berlaku,” katanya.

Meski begitu, uang tersebut didapati dalam kekuasaan tersangka berinisial HW yang disembunyikan di sebuah tempat. Saat kasus ini dikembangkan, HW mengakui dan menunjukkan keberadaan uang tersebut. ”Tempat kejadian perkara (TKP) tetap di lokasi saat tersangka diamankan,” jelas Arman.

Baca Juga :  Telat Lapor SPT, Denda Rp 100 Ribu sampai Rp 1 Juta Menanti

HW berperan sebagai pengedar uang tersebut ke sejumlah tempat. Kepolisian masih terus berupaya melakukan pengembangan-pengembangan terhadap kasus tersebut. ”Kita tetap memburu dua orang DPO. Hasil interogasi, tersangka mengaku mendapatkan uang tersebut dari kedua DPO tersebut,” tegasnya.

Satreskrim Polresta Banyuwangi berhasil membekuk sindikat mata uang asing palsu. Setelah dikembangkan, polisi akhirnya menetapkan 10 orang menjadi tersangka. Polisi juga mengamankan barang bukti (BB) berupa uang mata asing dan uang rupiah. Jika dirupiahkan, total mata uang asing palsu itu senilai Rp 2,8 triliun. Petugas juga mengamankan dua mobil yakni Daihatsu Xenia dan Toyota Kijang Innova sebagai barang bukti.

Polisi bukan hanya menetapkan sepuluh tersangka, tapi juga memburu dua pelaku lain yang saat ini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Mereka adalah IW asal Jakarta dan BM warga Kalimantan Selatan. Para tersangka awalnya saling lempar tanggung jawab. Mereka adalah AW, HW, BC, NH, MTW, dan NH. Para tersangka mendapatkan 12 bendel dengan mata uang dolar palsu pecahan $100 dari CH dan SU. Mereka membeli seharga Rp 75 juta. Keenam tersangka mengaku hendak menjual di Banyuwangi seharga Rp 180 juta.

Baca Juga :  Eny Setiawati Dilantik sebagai Ketua DPC Srikandi Pemuda Pancasila

Untuk tersangka CH dan SU mengaku mendapatkan barang tersebut dari AE dan SH seharga Rp 24 juta. Selanjutnya AE dan SH mendapatkan uang palsu tersebut dari IW dan BM. Barang itu juga didapatkan dengan cara membeli seharga Rp 10 juta. Dari hasil penyidikan, ternyata tersangka AW, HW, BU, NH, MTW, dan NH berperan sebagai pengedar uang dolar palsu. Sedangkan tersangka CH, SU, AE dan SH sebagai penyedia uang dolar palsu. (rio/aif/c1)

BANYUWANGI – Unit Reskrim Polresta Banyuwangi terus mengembangkan kasus uang asing palsu (upal). Selain menetapkan dua orang DPO (daftar pencarian orang), polisi dapat bukti upal lagi. Kali ini mata uang Euro dan China senilai Rp 1,7 triliun.

Sayang, polisi belum bisa memastikan mata uang tersebut asli atau palsu. Barang bukti baru tersebut berupa mata uang Euro pecahan 1 juta sebanyak 100 lembar dan mata uang China bertuliskan Renmin Yinhang pecahan 100 sebanyak 100 lembar. ”Untuk memastikan asli atau palsu, kami masih akan berkoordinasi dengan Konsul Jenderal China,” tegas Kapolresta Banyuwangi Kombespol Arman Asmara Syarifuddin.

Menurut Arman, atas pengembangan tersebut jumlah barang bukti (BB) secara otomatis bertambah. Sebelumnya hanya sebesar Rp 2,8 triliun, kini menjadi Rp 4,5 triliun dengan bentuk mata uang asing. ”Mata uang Euro yang didapati berlaku pada tahun 1999 sampai 2000 di 15 negara. Uang tersebut dijadikan koleksi karena sudah tidak berlaku,” katanya.

Meski begitu, uang tersebut didapati dalam kekuasaan tersangka berinisial HW yang disembunyikan di sebuah tempat. Saat kasus ini dikembangkan, HW mengakui dan menunjukkan keberadaan uang tersebut. ”Tempat kejadian perkara (TKP) tetap di lokasi saat tersangka diamankan,” jelas Arman.

Baca Juga :  Sambut HUT Ke-76 Bhayangkara, Polresta Gelar Donor Darah

HW berperan sebagai pengedar uang tersebut ke sejumlah tempat. Kepolisian masih terus berupaya melakukan pengembangan-pengembangan terhadap kasus tersebut. ”Kita tetap memburu dua orang DPO. Hasil interogasi, tersangka mengaku mendapatkan uang tersebut dari kedua DPO tersebut,” tegasnya.

Satreskrim Polresta Banyuwangi berhasil membekuk sindikat mata uang asing palsu. Setelah dikembangkan, polisi akhirnya menetapkan 10 orang menjadi tersangka. Polisi juga mengamankan barang bukti (BB) berupa uang mata asing dan uang rupiah. Jika dirupiahkan, total mata uang asing palsu itu senilai Rp 2,8 triliun. Petugas juga mengamankan dua mobil yakni Daihatsu Xenia dan Toyota Kijang Innova sebagai barang bukti.

Polisi bukan hanya menetapkan sepuluh tersangka, tapi juga memburu dua pelaku lain yang saat ini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Mereka adalah IW asal Jakarta dan BM warga Kalimantan Selatan. Para tersangka awalnya saling lempar tanggung jawab. Mereka adalah AW, HW, BC, NH, MTW, dan NH. Para tersangka mendapatkan 12 bendel dengan mata uang dolar palsu pecahan $100 dari CH dan SU. Mereka membeli seharga Rp 75 juta. Keenam tersangka mengaku hendak menjual di Banyuwangi seharga Rp 180 juta.

Baca Juga :  Satpol Airud Lakukan Penyekatan Laut

Untuk tersangka CH dan SU mengaku mendapatkan barang tersebut dari AE dan SH seharga Rp 24 juta. Selanjutnya AE dan SH mendapatkan uang palsu tersebut dari IW dan BM. Barang itu juga didapatkan dengan cara membeli seharga Rp 10 juta. Dari hasil penyidikan, ternyata tersangka AW, HW, BU, NH, MTW, dan NH berperan sebagai pengedar uang dolar palsu. Sedangkan tersangka CH, SU, AE dan SH sebagai penyedia uang dolar palsu. (rio/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/