alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Stok di SPBU Mulai Kosong, Pembelian Solar Subsidi Dibatasi

BANYUWANGI – Stok bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi di beberapa SPBU di kota Banyuwangi mulai langka dalam sepekan terakhir. Tingginya kebutuhan bahan bakar untuk kendaraan bermesin diesel tersebut menjadi salah satu penyebab kelangkaan solar.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi di tiga SPBU wilayah kota Banyuwangi, hanya SPBU Jalan Gajah Mada yang masih memiliki stok solar bersubsidi. Sisanya, di SPBU Karangente dan SPBU Banterang, stok solar sudah habis. Di dua SPBU tersebut tinggal menyisakan BBM nonsubsidi seperti dexlite dan pertamina dex.

Salah seorang petugas SPBU Banterang mengatakan, kelangkaan solar subdisi sudah terjadi sejak lima hari terakhir karena tidak ada kiriman solar. Yang tersisa hanya dexlite yang harganya lebih mahal, yakni Rp 7.800 per liter. Padahal, banyak pemilik kendaraan yang datang mencari solar bersubsidi.

Gara-gara persediaan solar habis, warga memilih mencari di SPBU yang lain daripada membeli dexlite yang harganya dua kali lipat dari harga solar subsidi. Sedangkan di SPBU Gajah Mada, antrean truk terlihat membeli bio solar. Kebetulan, masih ada stok solar subsidi di SPBU tersebut.

Baca Juga :  Stok Solar Masih Ama

Nurcahyo, salah seorang operator SPBU mengatakan, stok solar masih ada, tapi tidak bertahan lama. Melihat SPBU lain kehabisan, rata-rata kendaraan seperti truk dan mobil bermesin diesel mulai menyerbu SPBU Gajah Mada. ”Semua kendaraan kita layani saja. Berapa pun mereka beli. Suasana SPBU lebih ramai karena di  tempat lain habis. Sekali datang biasanya 16.000 liter,” jelasnya.

Manajer SPBU Karangente Abdul Kadir mengatakan, stok dan pengiriman solar bersubsidi sebenarnya tetap seperti hari-hari biasa. Namun, dalam beberapa hari terakhir, permintaan solar jauh lebih banyak dari sebelumnya. Biasanya, per hari solar bersubsidi yang dijual hanya 2,5 ton. Namun, dalam sepekan terakhir angkanya naik menjadi 5 ton per hari. Padahal, untuk sekali pengiriman, SPBU hanya mendapat jatah 8.000 liter.

Baca Juga :  Pemkab Diminta Buka Setra Vaksin Lansia

Sementara, dalam seminggu hanya ada tiga kali pengiriman. Saat ini pihaknya meminta ada pengiriman setiap hari dari Pertamina. Hal itu dilakukan untuk bisa memenuhi kebutuhan konsumen. ”Kalau stok aman, tapi konsumsinya tinggi sekali. Mungkin ini fenomena nasional, sehingga banyak SPBU kosong,” jelas Kadir.

Untuk mengatur agar semua kendaraan kebagian jatah, pihaknya menerapkan kebijakan pembatasan jatah solar untuk kendaraan. Mobil pribadi dibatasi 30 liter, kemudian untuk Colt diesel 60 liter, truk dibatasi 100 liter, sedangkan bus dibatasi maksimal 200 liter.

Meski dibatasi, tidak ada kendaraan yang mengisi solar hingga mendekati batas maksimal. Rata-rata mereka membeli di bawah batas tersebut. ”Prediksi kami fenomena konsumsi tinggi seperti sat ini masih terus terjadi. Apalagi, harga solar subsidi dan nonsubsidi jauh sekali,” kata Nurcahyo. 

BANYUWANGI – Stok bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi di beberapa SPBU di kota Banyuwangi mulai langka dalam sepekan terakhir. Tingginya kebutuhan bahan bakar untuk kendaraan bermesin diesel tersebut menjadi salah satu penyebab kelangkaan solar.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi di tiga SPBU wilayah kota Banyuwangi, hanya SPBU Jalan Gajah Mada yang masih memiliki stok solar bersubsidi. Sisanya, di SPBU Karangente dan SPBU Banterang, stok solar sudah habis. Di dua SPBU tersebut tinggal menyisakan BBM nonsubsidi seperti dexlite dan pertamina dex.

Salah seorang petugas SPBU Banterang mengatakan, kelangkaan solar subdisi sudah terjadi sejak lima hari terakhir karena tidak ada kiriman solar. Yang tersisa hanya dexlite yang harganya lebih mahal, yakni Rp 7.800 per liter. Padahal, banyak pemilik kendaraan yang datang mencari solar bersubsidi.

Gara-gara persediaan solar habis, warga memilih mencari di SPBU yang lain daripada membeli dexlite yang harganya dua kali lipat dari harga solar subsidi. Sedangkan di SPBU Gajah Mada, antrean truk terlihat membeli bio solar. Kebetulan, masih ada stok solar subsidi di SPBU tersebut.

Baca Juga :  Pulang dari Sawah, Kakek Disambar Sepur

Nurcahyo, salah seorang operator SPBU mengatakan, stok solar masih ada, tapi tidak bertahan lama. Melihat SPBU lain kehabisan, rata-rata kendaraan seperti truk dan mobil bermesin diesel mulai menyerbu SPBU Gajah Mada. ”Semua kendaraan kita layani saja. Berapa pun mereka beli. Suasana SPBU lebih ramai karena di  tempat lain habis. Sekali datang biasanya 16.000 liter,” jelasnya.

Manajer SPBU Karangente Abdul Kadir mengatakan, stok dan pengiriman solar bersubsidi sebenarnya tetap seperti hari-hari biasa. Namun, dalam beberapa hari terakhir, permintaan solar jauh lebih banyak dari sebelumnya. Biasanya, per hari solar bersubsidi yang dijual hanya 2,5 ton. Namun, dalam sepekan terakhir angkanya naik menjadi 5 ton per hari. Padahal, untuk sekali pengiriman, SPBU hanya mendapat jatah 8.000 liter.

Baca Juga :  Satgas RAFI 2022 Usai, Catat Kenaikan Konsumsi Dan Penyaluran BBM, LPG Lancar

Sementara, dalam seminggu hanya ada tiga kali pengiriman. Saat ini pihaknya meminta ada pengiriman setiap hari dari Pertamina. Hal itu dilakukan untuk bisa memenuhi kebutuhan konsumen. ”Kalau stok aman, tapi konsumsinya tinggi sekali. Mungkin ini fenomena nasional, sehingga banyak SPBU kosong,” jelas Kadir.

Untuk mengatur agar semua kendaraan kebagian jatah, pihaknya menerapkan kebijakan pembatasan jatah solar untuk kendaraan. Mobil pribadi dibatasi 30 liter, kemudian untuk Colt diesel 60 liter, truk dibatasi 100 liter, sedangkan bus dibatasi maksimal 200 liter.

Meski dibatasi, tidak ada kendaraan yang mengisi solar hingga mendekati batas maksimal. Rata-rata mereka membeli di bawah batas tersebut. ”Prediksi kami fenomena konsumsi tinggi seperti sat ini masih terus terjadi. Apalagi, harga solar subsidi dan nonsubsidi jauh sekali,” kata Nurcahyo. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/