alexametrics
24.7 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Bekas Galian Mirip Sirkuit Motor Cross

RadarBanyuwangi.id – Bekas galian C tidak semuanya bisa kembali seperti semula untuk lahan pertanian produktif. Ada yang dibiarkan mangkrak, ada pula yang justru menjadi tempat pembuangan sampah akhir (TPSA).

Seperti yang terlihat di Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari. Jika dilihat dari tepi jalan, bekas galian C seluas 10 hektare memang rata dengan jalan raya. Begitu masuk ke dalam, tanah bekas galian tersebut tampak berkelok naik-turun. Mirip sirkuit balapan motor cross.

Lokasi bekas tambang pasir itu ada yang ditanami jagung, ada pula yang masih kering kerontang seperti lahan mati hingga ditumbuhi rumput liar. Di sudut lain, lokasi yang sudah dikeruk dan diambil pasirnya itu kini difungsikan sebagai tempat pembuangan sampah akhir (TPSA).

Yang mencengangkan, jarak ketinggian lahan bekas galian yang telah diambil pasir dengan tanah sawah yang masih utuh hingga kini antara tiga hingga lima meter. Lahan sawah yang masih memiliki saluran irigasi masih bisa ditanami jagung, cabai rawit, dan palawija. Sementara lokasi yang sawahnya jauh dari irigasi dibiarkan mangkrak seperti lahan kering yang mati.

Baca Juga :  Hasil Otopsi Tak Ada Unsur Kekerasan

Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan lokasi bekas galian C di Desa Karangbendo, Kecamatan Rogojampi. Hingga kini lokasi yang pernah diambil pasirnya tersebut berubah mirip danau dan kerap menjadi jujugan para pemancing ikan.

Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, bekas lokasi galian C yang tidak direklamasi tak bisa dimanfaatkan lagi oleh petani sebagai lahan produktif. Sebagian besar menjadi kubangan mirip danau dan lahan kering yang hanya bisa ditanami pohon sengon.

Pemandangan seperti itu bisa dilihat di sejumlah  desa di Kecamatan Blimbingsari, Srono, dan Rogojampi. Hanya sebagian kecil yang bisa dimanfaatkan kembali sebagai kawasan pertanian. Jenis tanamannya pun bukan padi, melainkan palawija.

Namun demikian, tidak semua kawasan bekas galian C rusak dan tidak bisa ditanami kembali sebagai lahan produktif. Salah satu kawasan yang pernah menjadi lokasi galian C adalah lahan di Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh.

Baca Juga :  Dolar Palsu Ternyata Akan Dipakai di Bali

Meski pernah dilakukan pengerukan pasir, di desa ini nyaris tidak ditemukan areal lahan yang sampai berlubang mirip jurang dan lahan mati. Hampir semuanya masih bisa dimanfaatkan kembali sebagai lahan pertanian. ”Memang ada kesepakatan yang harus dipatuhi penambang sebelum melakukan eksplorasi. Salah satunya melakukan reklamasi lahan usia penambangan,” ujar Kepala Desa Singolatren Apandi.

Tak heran, jika sejumlah petani dan pemilik lahan di desa tersebut justru menawarkan diri kepada penambang agar sawahnya dikeruk untuk diambil pasirnya. Dari lahan yang dikerjasamakan dengan penambang tersebut, petani atau pemilik lahan akan mendapatkan keuntungan berlipat ganda.

Selain lahan sawahnya disewa dengan harga puluhan juta rupiah per hektare, hak milik lahan sawah tersebut juga masih berstatus sah menjadi kepemilikan petani tersebut. 

RadarBanyuwangi.id – Bekas galian C tidak semuanya bisa kembali seperti semula untuk lahan pertanian produktif. Ada yang dibiarkan mangkrak, ada pula yang justru menjadi tempat pembuangan sampah akhir (TPSA).

Seperti yang terlihat di Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari. Jika dilihat dari tepi jalan, bekas galian C seluas 10 hektare memang rata dengan jalan raya. Begitu masuk ke dalam, tanah bekas galian tersebut tampak berkelok naik-turun. Mirip sirkuit balapan motor cross.

Lokasi bekas tambang pasir itu ada yang ditanami jagung, ada pula yang masih kering kerontang seperti lahan mati hingga ditumbuhi rumput liar. Di sudut lain, lokasi yang sudah dikeruk dan diambil pasirnya itu kini difungsikan sebagai tempat pembuangan sampah akhir (TPSA).

Yang mencengangkan, jarak ketinggian lahan bekas galian yang telah diambil pasir dengan tanah sawah yang masih utuh hingga kini antara tiga hingga lima meter. Lahan sawah yang masih memiliki saluran irigasi masih bisa ditanami jagung, cabai rawit, dan palawija. Sementara lokasi yang sawahnya jauh dari irigasi dibiarkan mangkrak seperti lahan kering yang mati.

Baca Juga :  Ditolak KKP Penumpang Pesawat Berang

Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan lokasi bekas galian C di Desa Karangbendo, Kecamatan Rogojampi. Hingga kini lokasi yang pernah diambil pasirnya tersebut berubah mirip danau dan kerap menjadi jujugan para pemancing ikan.

Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, bekas lokasi galian C yang tidak direklamasi tak bisa dimanfaatkan lagi oleh petani sebagai lahan produktif. Sebagian besar menjadi kubangan mirip danau dan lahan kering yang hanya bisa ditanami pohon sengon.

Pemandangan seperti itu bisa dilihat di sejumlah  desa di Kecamatan Blimbingsari, Srono, dan Rogojampi. Hanya sebagian kecil yang bisa dimanfaatkan kembali sebagai kawasan pertanian. Jenis tanamannya pun bukan padi, melainkan palawija.

Namun demikian, tidak semua kawasan bekas galian C rusak dan tidak bisa ditanami kembali sebagai lahan produktif. Salah satu kawasan yang pernah menjadi lokasi galian C adalah lahan di Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh.

Baca Juga :  Yang Baru dari Festival Anak Yatim, Mereka Dibekali Ilmu Fotografi

Meski pernah dilakukan pengerukan pasir, di desa ini nyaris tidak ditemukan areal lahan yang sampai berlubang mirip jurang dan lahan mati. Hampir semuanya masih bisa dimanfaatkan kembali sebagai lahan pertanian. ”Memang ada kesepakatan yang harus dipatuhi penambang sebelum melakukan eksplorasi. Salah satunya melakukan reklamasi lahan usia penambangan,” ujar Kepala Desa Singolatren Apandi.

Tak heran, jika sejumlah petani dan pemilik lahan di desa tersebut justru menawarkan diri kepada penambang agar sawahnya dikeruk untuk diambil pasirnya. Dari lahan yang dikerjasamakan dengan penambang tersebut, petani atau pemilik lahan akan mendapatkan keuntungan berlipat ganda.

Selain lahan sawahnya disewa dengan harga puluhan juta rupiah per hektare, hak milik lahan sawah tersebut juga masih berstatus sah menjadi kepemilikan petani tersebut. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/