alexametrics
28.1 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

5.272 Pohon Dibabat, Akses dari Songgon ke Licin Tak Bisa Dilewati

SONGGON – Jalan penghubung antara Kecamatan Songgon dan Kecamatan Licin melalui perkebunan PT Perkebunan dan Dagang Bumi Sari Maju Sukses tak bisa dilewati. Penyebabnya, sebanyak 5.272 pohon yang dibabat orang tidak dikenal, melintang di jalan. Pohon yang dibabat terdiri cengkih, kelapa, mahoni, dan kopi. Akibat pembabatan pohon tersebut, pihak perkebunan mengalami kerugian Rp 3,673 miliar.

Kondisi ini cukup meresahkan warga sekitar. Mobilitas warga yang terbiasa melewati jalur tersebut, kini lumpuh total. Kendaraan roda empat, tidak bisa lewat menuju Afdeling Kalimas, Gunung Wongso, Taman Glugo, dan Pacauda.

Demikian pula yang dialami warga Desa Bayu, Kecamatan Songgon. Warga yang hendak bepergian menuju Desa Pakel, Kecamatan Licin (maupun sebaliknya), terpaksa menempuh jarak lebih jauh.

Akses jalan tersebut tidak bisa dilewati kendaraan jenis apapun. ”Jalur tersebut adalah penghubung, yang biasanya dilewati oleh warga, pekerja kebun, maupun anak sekolah,” ujar Arin, 45, warga Desa Bayu, Kecamatan Songgon.

Arin menuturkan, banyaknya pohon yang tumbang dan dibiarkan berserakan di jalan mengganggu aktivitas warga. Biasanya warga mencari tanaman pakis di kawasan kebun melalui jalur tersebut. ”Semenjak banyak pohon tumbang dan menutup jalan, saya sudah tidak cari pakis. Jalannya sulit dilewati akibat tertutup pohon. Jalan kaki juga tidak memungkinkan,” ujar pencari sayuran pakis tersebut.

Gara-gara akses jalan tertutup, Arin tidak memiliki penghasilan lagi. Hari-harinya hanya diisi dengan membantu suaminya dan mencari pakan ternak. ”Biasanya dengan menjual sayur pakis, sehari dapat Rp 35 ribu sampai Rp 50 ribu. Tetapi, saat ini sudah tidak bisa. Hanya bisa mencari rumput di dekat rumah,” ungkapnya.

Salah seorang pekerja kebun Bumi Sari Afdeling Pacauda, Mansur, mengeluhkan hal yang sama. Lokasi afdeling tempatnya bekerja berada paling ujung utara. Sebelumnya untuk menuju lokasi kerjanya, dia hanya perlu melewati jalan penghubung tersebut. Gara-gara  akses jalan lumpuh, dia terpaksa memutar jauh hingga puluhan kilometer.

”Saya tinggal di Desa Parangharjo. Berhubung jalannya tertutup, saya harus memutar jalan. Biasanya saya hanya butuh waktu setengah jam, kini bisa sampai satu jam lebih baru sampai. Biaya bensin akhirnya membengkak,” keluhnya.

Mansur mengatakan, pohon tersebut tumbang bukan karena angin atau terkena fenomena alam. Tumbangnya pohon tersebut, kata dia, sengaja ditebang dan dibiarkan menutup jalan. ”Saya sendiri tidak mengatahui  akses jalan sampai ditutup. Sempat saya laporkan ke pihak perusahaan untuk membersihkan pohon bekas tebangan tersebut. Namun, tidak ada yang berani membersihkan pohon tebangan,” kata Mansur.

Administratur PT Bumi Sari Sudjarwo mengatakan, pihaknya sengaja membiarkan puluhan ribu pohon tersebut melintang di jalan. Sebab, pihak kebun masih menunggu aparat penegak hukum (APH) melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). ”Adanya pembabatan pohon tersebut sudah kita laporan ke Polresta Banyuwangi. Kita tidak berani mengambil atau mengalihkan tebangan pohon dari tempatnya sebelum diperiksa oleh polisi,” ungkapnya.

Sudjarwo meminta maaf kepada warga akibat  ketidaknyamanan hingga terkesan membiarkan. Pihaknya tidak ingin memindahkan ataupun menghilangkan barang bukti (BB) pohon tersebut karena sebagai bukti laporan  ke Polresta Banyuwangi. ”Jika memang ada perintah dari APH, kita siap melakukan pemotongan. Tentunya, tetap dalam pengawalan ataupun sepengetahuan APH,” jelasnya. 

SONGGON – Jalan penghubung antara Kecamatan Songgon dan Kecamatan Licin melalui perkebunan PT Perkebunan dan Dagang Bumi Sari Maju Sukses tak bisa dilewati. Penyebabnya, sebanyak 5.272 pohon yang dibabat orang tidak dikenal, melintang di jalan. Pohon yang dibabat terdiri cengkih, kelapa, mahoni, dan kopi. Akibat pembabatan pohon tersebut, pihak perkebunan mengalami kerugian Rp 3,673 miliar.

Kondisi ini cukup meresahkan warga sekitar. Mobilitas warga yang terbiasa melewati jalur tersebut, kini lumpuh total. Kendaraan roda empat, tidak bisa lewat menuju Afdeling Kalimas, Gunung Wongso, Taman Glugo, dan Pacauda.

Demikian pula yang dialami warga Desa Bayu, Kecamatan Songgon. Warga yang hendak bepergian menuju Desa Pakel, Kecamatan Licin (maupun sebaliknya), terpaksa menempuh jarak lebih jauh.

Akses jalan tersebut tidak bisa dilewati kendaraan jenis apapun. ”Jalur tersebut adalah penghubung, yang biasanya dilewati oleh warga, pekerja kebun, maupun anak sekolah,” ujar Arin, 45, warga Desa Bayu, Kecamatan Songgon.

Arin menuturkan, banyaknya pohon yang tumbang dan dibiarkan berserakan di jalan mengganggu aktivitas warga. Biasanya warga mencari tanaman pakis di kawasan kebun melalui jalur tersebut. ”Semenjak banyak pohon tumbang dan menutup jalan, saya sudah tidak cari pakis. Jalannya sulit dilewati akibat tertutup pohon. Jalan kaki juga tidak memungkinkan,” ujar pencari sayuran pakis tersebut.

Gara-gara akses jalan tertutup, Arin tidak memiliki penghasilan lagi. Hari-harinya hanya diisi dengan membantu suaminya dan mencari pakan ternak. ”Biasanya dengan menjual sayur pakis, sehari dapat Rp 35 ribu sampai Rp 50 ribu. Tetapi, saat ini sudah tidak bisa. Hanya bisa mencari rumput di dekat rumah,” ungkapnya.

Salah seorang pekerja kebun Bumi Sari Afdeling Pacauda, Mansur, mengeluhkan hal yang sama. Lokasi afdeling tempatnya bekerja berada paling ujung utara. Sebelumnya untuk menuju lokasi kerjanya, dia hanya perlu melewati jalan penghubung tersebut. Gara-gara  akses jalan lumpuh, dia terpaksa memutar jauh hingga puluhan kilometer.

”Saya tinggal di Desa Parangharjo. Berhubung jalannya tertutup, saya harus memutar jalan. Biasanya saya hanya butuh waktu setengah jam, kini bisa sampai satu jam lebih baru sampai. Biaya bensin akhirnya membengkak,” keluhnya.

Mansur mengatakan, pohon tersebut tumbang bukan karena angin atau terkena fenomena alam. Tumbangnya pohon tersebut, kata dia, sengaja ditebang dan dibiarkan menutup jalan. ”Saya sendiri tidak mengatahui  akses jalan sampai ditutup. Sempat saya laporkan ke pihak perusahaan untuk membersihkan pohon bekas tebangan tersebut. Namun, tidak ada yang berani membersihkan pohon tebangan,” kata Mansur.

Administratur PT Bumi Sari Sudjarwo mengatakan, pihaknya sengaja membiarkan puluhan ribu pohon tersebut melintang di jalan. Sebab, pihak kebun masih menunggu aparat penegak hukum (APH) melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). ”Adanya pembabatan pohon tersebut sudah kita laporan ke Polresta Banyuwangi. Kita tidak berani mengambil atau mengalihkan tebangan pohon dari tempatnya sebelum diperiksa oleh polisi,” ungkapnya.

Sudjarwo meminta maaf kepada warga akibat  ketidaknyamanan hingga terkesan membiarkan. Pihaknya tidak ingin memindahkan ataupun menghilangkan barang bukti (BB) pohon tersebut karena sebagai bukti laporan  ke Polresta Banyuwangi. ”Jika memang ada perintah dari APH, kita siap melakukan pemotongan. Tentunya, tetap dalam pengawalan ataupun sepengetahuan APH,” jelasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/