alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Di Sela Kunjungan Kerja, Bupati Ipuk Bagi-Bagi Bonus kepada Buruh Tani

ROGOJAMPI – Selasa lalu (26/4) Bupati Ipuk Fiestiandani menyapa juru parkir di Pasar Pelayanan Publik Rogojampi. Bupati perempuan tersebut juga menemui sejumlah relawan penjaga perlintasan kereta api tanpa palang pintu. Mendekati Lebaran, kesibukan Ipuk semakin padat.

Lima buruh tani, Haedori, Tinah, Buanah, Uswati, dan Warni semula cuek ketika ada rombongan Bupati Ipuk Fiestiandani melakukan kunjungan kerja di dekat lokasi menanam padi, Selasa (26/4). Maklum, para buruh tani ini sedang dikejar target.

Pekerjaan mereka menanam padi harus segera selesai. Semakin cepat selesai, semakin cepat pula pindah menanam padi di lokasi lain. ”Kami ini beregu, sistemnya borongan, bukan harian,” ungkap Haedori, koordinator buruh tandur (tanam benih padi).

Haedori yang tinggal di Desa Macanputih ini satu-satunya lelaki yang ikut ke sawah menanam padi. Lazimnya, pekerjaan ini dilakukan oleh para perempuan. ”Hanya saya yang lelaki,” ujarnya tersenyum lebar.

Haedori mengungkapkan, pemberian honor tandur padi sistem borongan baru diberikan ketika semua pekerjaan sudah selesai. Ongkos tanamnya Rp 800 ribu untuk luasan sawah dua bau. Sawah seluas itu bisa diselesaikan dalam waktu tiga hari dengan lima orang pekerja. ”Tiga hari bisa terima ongkos Rp 200 ribuan,” jelas Haedori.

Siang itu mereka mendapatkan rezeki nomplok. Selain bisa berbincang langsung dengan orang nomor satu di Banyuwangi, para buruh tani yang sudah belasan tahun menjadi tukang tandur itu juga mendapatkan bonus Lebaran dari Bupati Ipuk. Mereka mendapatkan uang tunai dan paket sembako dari Bupati Ipuk.

Uniknya, para buruh tani ini tak tahu jika yang sedang mengajak berbicara dan memberi bonus Lebaran adalah Bupati Banyuwangi. ”Kulo mboten semerap kadung niki wau Bupati. (Saya tidak tahu kalau ini tadi Bupati, Red),” ujar Buanah, salah seorang buru tani dengan nada polos.

Lumrah, jika respons para buruh tani ini biasa-biasa saja. Tak seperti kebanyakan orang yang bangga dan ingin berswafoto dengan bupati. Warga Dusun Blumbang, Desa Lemahbangkulon, Kecamatan Singojuruh ini mengaku tak begitu paham apa yang diucapkan sang bupati. Maklum, dia tidak begitu paham dengan bahasa Indonesia yang disampaikan oleh Bupati Ipuk. ”Alhamdulillah, disukani njih kulo terami, matur nuwun (Alhamdulillah, saya diberi ya saya terima, terima kasih, Red),” ujar Buanah yang kedua tangannya masih memegang bibit tanaman padi.

Kala itu, Bupati Ipuk sedang memberikan bingkisan Lebaran berisi sembako kepada penjaga pintu perlintasan rel kereta api yang tidak berpalang pintu. Tak jauh dari lokasi tersebut, ada lima orang buruh tani yang sibuk bekerja. Mereka tampak sibuk dengan pekerjaannya dan tak menghiraukan kondisi di sekelilingnya.

Melihat pemandangan itu, Bupati Ipuk kemudian menghampiri para buruh tani, lalu mengajak berdialog terkait aktivitas mereka. Bupati lantas memberikan bingkisan paket Lebaran berisi sembako.

Istri Abdullah Azwar Anas itu juga merogoh koceknya untuk diberikan kepada para buruh tani yang tetap bekerja menjaga ketahanan pangan di Banyuwangi. ”Semoga sehat dan lancar pekerjaannya,” pesan Ipuk sembari meninggalkan sawah yang sedang ditanami padi tersebut.

ROGOJAMPI – Selasa lalu (26/4) Bupati Ipuk Fiestiandani menyapa juru parkir di Pasar Pelayanan Publik Rogojampi. Bupati perempuan tersebut juga menemui sejumlah relawan penjaga perlintasan kereta api tanpa palang pintu. Mendekati Lebaran, kesibukan Ipuk semakin padat.

Lima buruh tani, Haedori, Tinah, Buanah, Uswati, dan Warni semula cuek ketika ada rombongan Bupati Ipuk Fiestiandani melakukan kunjungan kerja di dekat lokasi menanam padi, Selasa (26/4). Maklum, para buruh tani ini sedang dikejar target.

Pekerjaan mereka menanam padi harus segera selesai. Semakin cepat selesai, semakin cepat pula pindah menanam padi di lokasi lain. ”Kami ini beregu, sistemnya borongan, bukan harian,” ungkap Haedori, koordinator buruh tandur (tanam benih padi).

Haedori yang tinggal di Desa Macanputih ini satu-satunya lelaki yang ikut ke sawah menanam padi. Lazimnya, pekerjaan ini dilakukan oleh para perempuan. ”Hanya saya yang lelaki,” ujarnya tersenyum lebar.

Haedori mengungkapkan, pemberian honor tandur padi sistem borongan baru diberikan ketika semua pekerjaan sudah selesai. Ongkos tanamnya Rp 800 ribu untuk luasan sawah dua bau. Sawah seluas itu bisa diselesaikan dalam waktu tiga hari dengan lima orang pekerja. ”Tiga hari bisa terima ongkos Rp 200 ribuan,” jelas Haedori.

Siang itu mereka mendapatkan rezeki nomplok. Selain bisa berbincang langsung dengan orang nomor satu di Banyuwangi, para buruh tani yang sudah belasan tahun menjadi tukang tandur itu juga mendapatkan bonus Lebaran dari Bupati Ipuk. Mereka mendapatkan uang tunai dan paket sembako dari Bupati Ipuk.

Uniknya, para buruh tani ini tak tahu jika yang sedang mengajak berbicara dan memberi bonus Lebaran adalah Bupati Banyuwangi. ”Kulo mboten semerap kadung niki wau Bupati. (Saya tidak tahu kalau ini tadi Bupati, Red),” ujar Buanah, salah seorang buru tani dengan nada polos.

Lumrah, jika respons para buruh tani ini biasa-biasa saja. Tak seperti kebanyakan orang yang bangga dan ingin berswafoto dengan bupati. Warga Dusun Blumbang, Desa Lemahbangkulon, Kecamatan Singojuruh ini mengaku tak begitu paham apa yang diucapkan sang bupati. Maklum, dia tidak begitu paham dengan bahasa Indonesia yang disampaikan oleh Bupati Ipuk. ”Alhamdulillah, disukani njih kulo terami, matur nuwun (Alhamdulillah, saya diberi ya saya terima, terima kasih, Red),” ujar Buanah yang kedua tangannya masih memegang bibit tanaman padi.

Kala itu, Bupati Ipuk sedang memberikan bingkisan Lebaran berisi sembako kepada penjaga pintu perlintasan rel kereta api yang tidak berpalang pintu. Tak jauh dari lokasi tersebut, ada lima orang buruh tani yang sibuk bekerja. Mereka tampak sibuk dengan pekerjaannya dan tak menghiraukan kondisi di sekelilingnya.

Melihat pemandangan itu, Bupati Ipuk kemudian menghampiri para buruh tani, lalu mengajak berdialog terkait aktivitas mereka. Bupati lantas memberikan bingkisan paket Lebaran berisi sembako.

Istri Abdullah Azwar Anas itu juga merogoh koceknya untuk diberikan kepada para buruh tani yang tetap bekerja menjaga ketahanan pangan di Banyuwangi. ”Semoga sehat dan lancar pekerjaannya,” pesan Ipuk sembari meninggalkan sawah yang sedang ditanami padi tersebut.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/