alexametrics
24.1 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Kalangan LSM dan Ormas mendesak aparat penegak hukum

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Gabungan organisasi kemasyarakatan (ormas) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) mendesak agar penegak hukum tegas terhadap pemilik atau pengusaha tambang galian C yang tidak melaksanakan reklamasi.

Dampak dari mengabaikan reklamasi bisa menimbulkan kerusakan lingkungan. Bahkan, bisa  menyebabkan jatuhnya korban jiwa, seperti yang terjadi di bekas galian C di depan wisata Alam Indah Lestari (AIL), Dusun Karanganyar, Desa Karangbendo, Kecamatan Rogojampi, Sabtu lalu (23/10).

”Kami mendesak agar aparat penegak hukum (APH) memproses hukum pemilik (pengusaha) tambang galian C ilegal (tidak berizin) serta para pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang izin usahanya dicabut, atau berakhir namun tidak melaksanakan reklamasi atau tidak menempatkan dana jaminan reklamasi,” tegas Ketua Lingkar Studi Kerakyatan Aliansi Rakyat Miskin (Laskar ARM) Helmi Rosyadi.

Menurut Helmi, berdasar Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Minerba, para pemegang IUP dan IUPK yang izin usahanya dicabut atau berakhir namun tidak melaksanakan reklamasi, atau tidak menempatkan dana jaminan reklamasi, dapat dipidana paling lama lima tahun penjara dan denda paling banyak Rp 100 miliar rupiah.

”Bunyi undang-undang dan peraturannya sudah jelas. Tapi kenapa ini semua seolah ada pembiaran dan tutup mata. Maka kami mendesak agar APH tegas,” jelas Helmi.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Srikandi Pemuda Pancasila Banyuwangi Eny Setiawati. Menurut Eny, sebagai ormas yang merupakan lembaga kontrol masyarakat di Banyuwangi, pihaknya sangat menyesalkan kejadian bocah yang tenggelam di lokasi bekas galian C hingga meninggal dunia.

Sebelum memakan korban, pihaknya dalam berbagai kesempatan sudah memberikan warning atau peringatan bahwa Banyuwangi darurat tambang galian C. ”Kami DPC Srikandi Pemuda Pancasila sudah mendesak agar APH, pemerintah daerah, dinas terkait, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) untuk segera turun dan menutup galian C  ilegal, dan melakukan tertib administrasi kepada galian C yang legal, baik masa berlakunya, maupun reklamasinya,” jelas Eny.

Sayangnya, upaya yang ditempuh DPC Srikandi Pemuda Pancasila seolah angin lalu. Belum ada tindakan konkret dari masing-masing pemangku kebijakan sesuai tugas pokok dan fungsinya. Maka, dengan adanya korban anak meninggal di lokasi kubangan bekas tambang galian C tersebut, menjadi peringatan sekaligus pelajaran bagi semua pihak. ”Korban-korban kecelakaan di sekitar lokasi tambang, sudah cukup bukti bagi kami DPC Srikandi Pemuda Pancasila Banyuwangi untuk melakukan laporan,” tegas Eny.

DPC Srikandi Pemuda Pancasila Banyuwangi mewakili para korban akan melaporkan kepada semua pihak yang terlibat adanya perbuatan hukum tersebut kepada pelaku, baik secara pidana perorangan maupun secara state crime atau kejahatan yang dilakukan oleh negara. ”Karena pemerintahan juga bertanggung jawab penuh atas musibah ini,” jelas perempuan yang berprofesi sebagai pengacara ini.

Apalagi, lanjut Eny, Banyuwangi dinobatkan sebagai Kabupaten Layak Anak. Di mana semua lokasi di Banyuwangi juga harus layak untuk anak.  ”Maka, kami menuntut segera permintaan maaf dari semua pihak dan pertanggungjawaban di depan hukum,” tandasnya.  

Sebelumnya, seorang bocah berusia 12 tahun tenggelam di kubangan bekas galian C di depan kawasan wisata Alam Indah Lestari (AIL) Dusun Karanganyar, Desa Karangbendo, Kecamatan Rogojampi, Sabtu (23/10). Korban adalah Siti Maura, bocah kelas 6 sekolah dasar (SD) warga Dusun Labansukadi, Desa Labanasem, Kecamatan Kabat. Bocah tersebut tenggelam pukul 14.15. Korban bersama dua bocah lainnya, yakni Kais Frmansyah, 4, dan Irma, 7, berangkat dari rumah menuju danau di depan AIL. Ketiga bocah tersebut dibonceng  Zainul Arifin, 52, yang tak lain orang tua korban. Zainul mengendarai motor Honda Beat bernopol P 4714 VB.

Sesampainya di lokasi kubangan bekas galian yang mirip danau itu, ketiga bocah tersebut asyik bermain di tepi danau sembari menangkap ikan menggunakan serok atau jaring ikan yang ada gagang pegangan dari kayu. Selang beberapa menit, Zainul kemudian pergi untuk membeli pentol cilok di tepi jalan raya, tak jauh dari lokasi kubangan tersebut dengan mengendarai motor. Begitu kembali, Zainul tak mendapati Maura yang bermain bersama Kais dan Irma. Bocah tersebut sudah tenggelam di dasar danau hingga meninggal dunia.

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Gabungan organisasi kemasyarakatan (ormas) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) mendesak agar penegak hukum tegas terhadap pemilik atau pengusaha tambang galian C yang tidak melaksanakan reklamasi.

Dampak dari mengabaikan reklamasi bisa menimbulkan kerusakan lingkungan. Bahkan, bisa  menyebabkan jatuhnya korban jiwa, seperti yang terjadi di bekas galian C di depan wisata Alam Indah Lestari (AIL), Dusun Karanganyar, Desa Karangbendo, Kecamatan Rogojampi, Sabtu lalu (23/10).

”Kami mendesak agar aparat penegak hukum (APH) memproses hukum pemilik (pengusaha) tambang galian C ilegal (tidak berizin) serta para pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang izin usahanya dicabut, atau berakhir namun tidak melaksanakan reklamasi atau tidak menempatkan dana jaminan reklamasi,” tegas Ketua Lingkar Studi Kerakyatan Aliansi Rakyat Miskin (Laskar ARM) Helmi Rosyadi.

Menurut Helmi, berdasar Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Minerba, para pemegang IUP dan IUPK yang izin usahanya dicabut atau berakhir namun tidak melaksanakan reklamasi, atau tidak menempatkan dana jaminan reklamasi, dapat dipidana paling lama lima tahun penjara dan denda paling banyak Rp 100 miliar rupiah.

”Bunyi undang-undang dan peraturannya sudah jelas. Tapi kenapa ini semua seolah ada pembiaran dan tutup mata. Maka kami mendesak agar APH tegas,” jelas Helmi.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Srikandi Pemuda Pancasila Banyuwangi Eny Setiawati. Menurut Eny, sebagai ormas yang merupakan lembaga kontrol masyarakat di Banyuwangi, pihaknya sangat menyesalkan kejadian bocah yang tenggelam di lokasi bekas galian C hingga meninggal dunia.

Sebelum memakan korban, pihaknya dalam berbagai kesempatan sudah memberikan warning atau peringatan bahwa Banyuwangi darurat tambang galian C. ”Kami DPC Srikandi Pemuda Pancasila sudah mendesak agar APH, pemerintah daerah, dinas terkait, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) untuk segera turun dan menutup galian C  ilegal, dan melakukan tertib administrasi kepada galian C yang legal, baik masa berlakunya, maupun reklamasinya,” jelas Eny.

Sayangnya, upaya yang ditempuh DPC Srikandi Pemuda Pancasila seolah angin lalu. Belum ada tindakan konkret dari masing-masing pemangku kebijakan sesuai tugas pokok dan fungsinya. Maka, dengan adanya korban anak meninggal di lokasi kubangan bekas tambang galian C tersebut, menjadi peringatan sekaligus pelajaran bagi semua pihak. ”Korban-korban kecelakaan di sekitar lokasi tambang, sudah cukup bukti bagi kami DPC Srikandi Pemuda Pancasila Banyuwangi untuk melakukan laporan,” tegas Eny.

DPC Srikandi Pemuda Pancasila Banyuwangi mewakili para korban akan melaporkan kepada semua pihak yang terlibat adanya perbuatan hukum tersebut kepada pelaku, baik secara pidana perorangan maupun secara state crime atau kejahatan yang dilakukan oleh negara. ”Karena pemerintahan juga bertanggung jawab penuh atas musibah ini,” jelas perempuan yang berprofesi sebagai pengacara ini.

Apalagi, lanjut Eny, Banyuwangi dinobatkan sebagai Kabupaten Layak Anak. Di mana semua lokasi di Banyuwangi juga harus layak untuk anak.  ”Maka, kami menuntut segera permintaan maaf dari semua pihak dan pertanggungjawaban di depan hukum,” tandasnya.  

Sebelumnya, seorang bocah berusia 12 tahun tenggelam di kubangan bekas galian C di depan kawasan wisata Alam Indah Lestari (AIL) Dusun Karanganyar, Desa Karangbendo, Kecamatan Rogojampi, Sabtu (23/10). Korban adalah Siti Maura, bocah kelas 6 sekolah dasar (SD) warga Dusun Labansukadi, Desa Labanasem, Kecamatan Kabat. Bocah tersebut tenggelam pukul 14.15. Korban bersama dua bocah lainnya, yakni Kais Frmansyah, 4, dan Irma, 7, berangkat dari rumah menuju danau di depan AIL. Ketiga bocah tersebut dibonceng  Zainul Arifin, 52, yang tak lain orang tua korban. Zainul mengendarai motor Honda Beat bernopol P 4714 VB.

Sesampainya di lokasi kubangan bekas galian yang mirip danau itu, ketiga bocah tersebut asyik bermain di tepi danau sembari menangkap ikan menggunakan serok atau jaring ikan yang ada gagang pegangan dari kayu. Selang beberapa menit, Zainul kemudian pergi untuk membeli pentol cilok di tepi jalan raya, tak jauh dari lokasi kubangan tersebut dengan mengendarai motor. Begitu kembali, Zainul tak mendapati Maura yang bermain bersama Kais dan Irma. Bocah tersebut sudah tenggelam di dasar danau hingga meninggal dunia.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/