alexametrics
28.7 C
Banyuwangi
Thursday, June 30, 2022

Ribuan Jemaah Berburu Lailatul Qadar

BANYUWANGI – Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan menjadi hari  istimewa bagi umat muslim untuk meningkatkan ibadah. Salah satunya dengan melaksanakan salat malam dan iktikaf di masjid.

Seperti yang terlihat di Masjid Agung Baiturrahman (MAB) Banyuwangi, Senin dini hari (25/4). Jemaah memilih iktikaf (diam di dalam masjid) dalam rangka berburu Lailatul Qadar. Peningkatan jumlah jemaah terus bertambah seiring datangnya malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan.

Didik, salah satu jemaah mengaku selalu datang ke masjid kebanggaan umat Islam di Banyuwangi guna mencari ketenangan batin dan beriktikaf. Aktivitas seperti itu kerap dijalani tidak hanya di bulan Ramadan, melainkan setiap ada kegiatan di MAB. ”Karena berjemaah dan banyak orang, melaksanakan ibadah lebih semangat dan suasananya berbeda. Semacam ada ketenangan tersendiri,” ungkapnya.

Ditambah lagi, di sepuluh hari akhir bulan Ramadan ini MAB juga menggelar kegiatan malam likuran, yakni mendatangkan penceramah agama. Kegiatan tersebut dimulai pukul 23.00 hingga masuk waktu sahur. ”Kalau sudah masuk sepuluh akhir bulan Ramadan, jarang pulang ke rumah. Bawa bontotan untuk santap sahur di masjid,” jelas Didik.

Ketua Umum Yayasan Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi KH Habib M. Mahdi Hasan melalui Sekretaris Umum Iwan Aziez Siswanto S. mengatakan, aktivitas berburu Lailatul Qadar biasanya mulai ramai ketika memasuki malam Nuzulul Quran dan makin bertambah jika sudah memasuki malam ganjil di sepuluh akhir. ”Kalau sudah malam likuran (malam ganjil), sepuluh hari terakhir masjid ini penuh jemaah,” ujarnya.

Untuk pelaksanaannya, acara dimulai pada pukul 23.00 dengan pembacaan istighotsah, zikir, dan wirid. Pada pukul 23.45 diisi siraman rohani oleh penceramah yang telah dijadwal. Dilanjutkan salat Tasbih berjemaah dan pembacaan zikir, kemudian ditutup dengan selawat Nabi. ”Untuk malam 25 Ramadan hari Selasa besok (nanti malam) insya Allah akan dihadiri KHR Achmad Azaim Ibrahimy, Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo,” jelas Iwan Aziez.

Dalam agenda malam likuran, selain iktikaf dan salat Tasbih, jemaah diajak untuk membaca zikir, kemudian pembacaan selawat Nabi yang diiringi lantunan hadrah. Setelah mahalul qiyam, sebagian jemaah ada yang tetap beriktikaf. Ada juga yang pulang untuk santap sahur. ”Kami mempersilakan umat Islam dari mana saja yang mau hadir dan kami berharap tetap mematuhi protokol kesehatan. Semoga agenda ini bisa terus digelar hingga tahun-tahun berikutnya,” pungkasnya.

BANYUWANGI – Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan menjadi hari  istimewa bagi umat muslim untuk meningkatkan ibadah. Salah satunya dengan melaksanakan salat malam dan iktikaf di masjid.

Seperti yang terlihat di Masjid Agung Baiturrahman (MAB) Banyuwangi, Senin dini hari (25/4). Jemaah memilih iktikaf (diam di dalam masjid) dalam rangka berburu Lailatul Qadar. Peningkatan jumlah jemaah terus bertambah seiring datangnya malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan.

Didik, salah satu jemaah mengaku selalu datang ke masjid kebanggaan umat Islam di Banyuwangi guna mencari ketenangan batin dan beriktikaf. Aktivitas seperti itu kerap dijalani tidak hanya di bulan Ramadan, melainkan setiap ada kegiatan di MAB. ”Karena berjemaah dan banyak orang, melaksanakan ibadah lebih semangat dan suasananya berbeda. Semacam ada ketenangan tersendiri,” ungkapnya.

Ditambah lagi, di sepuluh hari akhir bulan Ramadan ini MAB juga menggelar kegiatan malam likuran, yakni mendatangkan penceramah agama. Kegiatan tersebut dimulai pukul 23.00 hingga masuk waktu sahur. ”Kalau sudah masuk sepuluh akhir bulan Ramadan, jarang pulang ke rumah. Bawa bontotan untuk santap sahur di masjid,” jelas Didik.

Ketua Umum Yayasan Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi KH Habib M. Mahdi Hasan melalui Sekretaris Umum Iwan Aziez Siswanto S. mengatakan, aktivitas berburu Lailatul Qadar biasanya mulai ramai ketika memasuki malam Nuzulul Quran dan makin bertambah jika sudah memasuki malam ganjil di sepuluh akhir. ”Kalau sudah malam likuran (malam ganjil), sepuluh hari terakhir masjid ini penuh jemaah,” ujarnya.

Untuk pelaksanaannya, acara dimulai pada pukul 23.00 dengan pembacaan istighotsah, zikir, dan wirid. Pada pukul 23.45 diisi siraman rohani oleh penceramah yang telah dijadwal. Dilanjutkan salat Tasbih berjemaah dan pembacaan zikir, kemudian ditutup dengan selawat Nabi. ”Untuk malam 25 Ramadan hari Selasa besok (nanti malam) insya Allah akan dihadiri KHR Achmad Azaim Ibrahimy, Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo,” jelas Iwan Aziez.

Dalam agenda malam likuran, selain iktikaf dan salat Tasbih, jemaah diajak untuk membaca zikir, kemudian pembacaan selawat Nabi yang diiringi lantunan hadrah. Setelah mahalul qiyam, sebagian jemaah ada yang tetap beriktikaf. Ada juga yang pulang untuk santap sahur. ”Kami mempersilakan umat Islam dari mana saja yang mau hadir dan kami berharap tetap mematuhi protokol kesehatan. Semoga agenda ini bisa terus digelar hingga tahun-tahun berikutnya,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/