alexametrics
28.7 C
Banyuwangi
Thursday, June 30, 2022

Mau Nginap Hotel, Sindikat Pemalsu Dollar Rp 2,8 Triliun Dibekuk

BANYUWANGI – Enam orang itu sedianya hendak menginap di hotel berbintang tepi pantai di Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro. Namun, mereka ditangkap polisi. Rupanya, mereka adalah bagian dari komplotan pemalsu dan pengedar mata uang asing.

Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Banyuwangi pun berhasil membekuk sindikat mata uang asing palsu. Setelah dikembangkan, polisi akhirnya menetapkan 10 orang menjadi tersangka. Polisi juga mengamankan barang bukti (BB) berupa uang mata asing dan uang rupiah. Total jika dirupiahkan, mata uang asing palsu itu senilai Rp 2,8 triliun. Petugas juga mengamankan dua mobil yakni Daihatsu Xenia dan Toyota Kijang Innova sebagai barang bukti.

Dari sepuluh tersangka itu, tiga di antaranya warga asal Surabaya yakni, NB, 49; MTW, 57; dan NH, 56. Tersangka lainnya adalah AW, 45, asal Kabupaten Jember; HW, 50, asal Kabupaten Sidoarjo; dan BCR, 44, asal Kabupaten Samarinda. Ada juga tersangka CH, 47, asal Kabupaten Tulungagung; AE, 47, asal Kabupaten Kediri; SU, 52, asal Kabupaten Jombang; serta tersangka SH, 58, asal Kabupaten Bandung Selatan.

Sementara itu barang bukti uang palsu (upal) tersebut terdiri dari Dolar Amerika, uang Cina Yi Jiao, mata uang Cinco Mil Cruzeiros, Dolar Hongkong, Ringgit Malaysia, dan mata uang Rupiah Indonesia.

Kapolresta Banyuwangi Kombespol Arman Asmara Syarifuddin mengatakan, terbongkarnya sindikat pemalsu uang asing tersebut bermula dari informasi anggota polisi yang sedang melakukan penyelidikan. Dari sana, petugas mendapat informasi ada enam orang mencurigakan yang membawa koper uang saat keluar dari mobil. ”Ada enam tersangka yang diamankan saat berada di sekitar Hotel Dialoog,” katanya.

Enam orang yang diduga akan menginap di Hotel Dialoog yaitu tersangka AW, HW, BC, NH, MTW, dan NH. Saat itu, mereka hendak masuk ke hotel dengan membawa mobil Toyota Kijang W 1789 UX serta membawa koper berisi dolar. ”Karena curiga dengan uang sebanyak itu, kami langsung mengecek keaslian uang tersebut ke tim ahli penelitian uang di Surabaya,” katanya.

Ternyata, dari hasil pemeriksaan tim ahli, 12 bendel uang dolar pecahan 100 tersebut palsu. Sehingga, polisi langsung menginterogasi keenam orang tersebut. Mereka akhirnya mengaku jika uang tersebut akan diedarkan dan dijual di wilayah Banyuwangi. ”Mereka juga mengaku hanya akan menjualnya dan sudah berjalan sejak awal Februari 2021. Sedangkan asal barang tersebut didapatkannya dari empat orang tersangka lainnya,” terangnya.

Dari hasil pengembangan, polisi mendapatkan keempat tersangka lain yaitu CH, AE, SU, dan SH masing-masing diamankan di rumahnya. Dari salah satu tersangka polisi mengamankan mobil Daihatsu Xenia bernopol L 1230 DT yang diduga digunakan sebagai aksi kejahatan. ”Kendaraan mobil itu yang digunakan para tersangka untuk menyebar upal di beberapa kabupaten,” terangnya.

Para anggota sindikat uang palsu tersebut memiliki peran masing-masing. Ada yang berperan sebagai pembeli, ada yang bertugas mengedarkan, hingga menjual upal. ”Sindikat ini termasuk mahir dalam melancarkan aksinya, mereka tersebar di beberapa kabupaten berbeda untuk mengedarkan upal,” paparnya.  (rio/bay/c1)

BANYUWANGI – Enam orang itu sedianya hendak menginap di hotel berbintang tepi pantai di Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro. Namun, mereka ditangkap polisi. Rupanya, mereka adalah bagian dari komplotan pemalsu dan pengedar mata uang asing.

Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Banyuwangi pun berhasil membekuk sindikat mata uang asing palsu. Setelah dikembangkan, polisi akhirnya menetapkan 10 orang menjadi tersangka. Polisi juga mengamankan barang bukti (BB) berupa uang mata asing dan uang rupiah. Total jika dirupiahkan, mata uang asing palsu itu senilai Rp 2,8 triliun. Petugas juga mengamankan dua mobil yakni Daihatsu Xenia dan Toyota Kijang Innova sebagai barang bukti.

Dari sepuluh tersangka itu, tiga di antaranya warga asal Surabaya yakni, NB, 49; MTW, 57; dan NH, 56. Tersangka lainnya adalah AW, 45, asal Kabupaten Jember; HW, 50, asal Kabupaten Sidoarjo; dan BCR, 44, asal Kabupaten Samarinda. Ada juga tersangka CH, 47, asal Kabupaten Tulungagung; AE, 47, asal Kabupaten Kediri; SU, 52, asal Kabupaten Jombang; serta tersangka SH, 58, asal Kabupaten Bandung Selatan.

Sementara itu barang bukti uang palsu (upal) tersebut terdiri dari Dolar Amerika, uang Cina Yi Jiao, mata uang Cinco Mil Cruzeiros, Dolar Hongkong, Ringgit Malaysia, dan mata uang Rupiah Indonesia.

Kapolresta Banyuwangi Kombespol Arman Asmara Syarifuddin mengatakan, terbongkarnya sindikat pemalsu uang asing tersebut bermula dari informasi anggota polisi yang sedang melakukan penyelidikan. Dari sana, petugas mendapat informasi ada enam orang mencurigakan yang membawa koper uang saat keluar dari mobil. ”Ada enam tersangka yang diamankan saat berada di sekitar Hotel Dialoog,” katanya.

Enam orang yang diduga akan menginap di Hotel Dialoog yaitu tersangka AW, HW, BC, NH, MTW, dan NH. Saat itu, mereka hendak masuk ke hotel dengan membawa mobil Toyota Kijang W 1789 UX serta membawa koper berisi dolar. ”Karena curiga dengan uang sebanyak itu, kami langsung mengecek keaslian uang tersebut ke tim ahli penelitian uang di Surabaya,” katanya.

Ternyata, dari hasil pemeriksaan tim ahli, 12 bendel uang dolar pecahan 100 tersebut palsu. Sehingga, polisi langsung menginterogasi keenam orang tersebut. Mereka akhirnya mengaku jika uang tersebut akan diedarkan dan dijual di wilayah Banyuwangi. ”Mereka juga mengaku hanya akan menjualnya dan sudah berjalan sejak awal Februari 2021. Sedangkan asal barang tersebut didapatkannya dari empat orang tersangka lainnya,” terangnya.

Dari hasil pengembangan, polisi mendapatkan keempat tersangka lain yaitu CH, AE, SU, dan SH masing-masing diamankan di rumahnya. Dari salah satu tersangka polisi mengamankan mobil Daihatsu Xenia bernopol L 1230 DT yang diduga digunakan sebagai aksi kejahatan. ”Kendaraan mobil itu yang digunakan para tersangka untuk menyebar upal di beberapa kabupaten,” terangnya.

Para anggota sindikat uang palsu tersebut memiliki peran masing-masing. Ada yang berperan sebagai pembeli, ada yang bertugas mengedarkan, hingga menjual upal. ”Sindikat ini termasuk mahir dalam melancarkan aksinya, mereka tersebar di beberapa kabupaten berbeda untuk mengedarkan upal,” paparnya.  (rio/bay/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/