alexametrics
22.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Mandi di Dam Kaligulung, Tak Bisa Berenang, Bocah Meninggal Tenggelam

GIRI – Kabar duka menimpa pasangan suami istri Junaidi, 51, dan Sriyati, 48, warga Lingkungan Cungking, Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri, Selasa (23/11) siang. Anak kelimanya, Bagus Sutrajat, 10, tenggelam di Dam Kaligulung, Lingkungan Cungking.

Bocah yang masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar (SD) itu langsung dievakuasi warga. Kejadian tersebut baru diketahui pukul 13.15. Tiga teman korban yang hendak mandi di Dam Kaligulung menemukan pakaian yang diduga milik korban berada di atas batu. Anak-anak tersebut tidak menemukan keberadaan Bagus.

Salah satu dari mereka melompat ke Dam Kaligulung untuk mandi. Secara tidak sengaja, salah satu anak melihat kaki di atas air. Mereka mengambil kayu untuk memastikan yang dilihatnya kaki manusia. Benar saja, kaki tersebut ternyata korban. Mereka kemudian naik dan memberitahukan temuan tersebut kepada warga yang tinggal tak jauh dari lokasi dam.

Warga kemudian berusaha menyelamatkan korban. Tubuh korban diangkat dari air, lalu dilarikan ke Puskesmas Mojopanggung untuk mendapatkan perawatan. Sayangnya, takdir berkata lain. Nyawa korban sudah tidak bisa diselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia oleh petugas medis.

”Saat kejadian saya dan istri masih ada di Asembagus. Istri saya mendapat kabar dari adiknya kalau Bagus tenggelam di sungai. Akhirnya kami pulang ke Banyuwangi,” ujar ayah korban, Junaidi.

Begitu mengetahui putranya meninggal dunia, Junaidi dan istrinya hanya bisa pasrah. Junaidi langsung melihat kondisi tubuh anaknya. ”Saya lihat tidak ada bukti penyiksaan atau kekerasan. Saya tidak mau tubuh anak saya diotopsi,” ucap Junaidi pasrah.

Ibu korban, Sriyati, mengaku mendapat firasat buruk beberapa hari sebelum musibah menimpa anaknya. Anak kelimanya berapa kali nempel dengannya. Beberapa kali Bagus mengatakan sayang kepadanya. Kakak korban juga bermimpi kakinya dipatuk burung gagak. Sriyati mencoba menepis firasat buruknya. Namun, dia selalu mewanti- wanti kepada kakak korban agar mengawasi adiknya ketika dirinya sedang tidak ada di rumah.

”Anaknya suka dengan sungai, tapi dia tidak bisa berenang. Kalau bapaknya mancing dia mesti ikut. Bagus baru dua minggu pindah ke sini, sebelumnya tinggal bersama saya di Wonorejo, Banyuputih,” kata Sriyati.

Tiga hari sebelum kabar buruk tersebut, Sriyati menceritakan kalau anaknya sempat tenggelam di sungai yang sama. Karena ada teman-temannya, dia sempat tertolong. Sriyati  mengingatkan Bagus agar tak main-main lagi ke dam lagi.

Sayangnya, takdir memang tidak bisa ditebak. Bagus justru kembali datang ke sungai sendirian. Saat kejadian, kakak korban juga tidak sempat mengawasi karena tengah sibuk menyiapkan bahan untuk dagangan gorengan miliknya. ”Anak ini rajin sekali mengaji. Seminggu ini juga membantu saya jualan jagung rebus, sudah saya bilang jangan main-main lagi ke sungai. Anak saya memang banyak, tapi semua saya urus. Saya tidak berharap ada yang diambil seperti ini,” ungkap Sriyati menahan tangis.

Kasi Humas Polresta Banyuwangi Iptu Lita Kurniawan mengatakan, orang tua korban menolak dilakukan otopsi. Korban langsung dimakamkan pada hari yang sama. Lita mengimbau agar masyarakat ikut mengawasi anak-anak mereka terutama saat berada di tempat berbahaya seperti dam atau sungai. ”Orang tua korban menolak untuk dilakukan atopsi. Dari hasil pemeriksaan medis tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada korban,” kata Lita.

GIRI – Kabar duka menimpa pasangan suami istri Junaidi, 51, dan Sriyati, 48, warga Lingkungan Cungking, Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri, Selasa (23/11) siang. Anak kelimanya, Bagus Sutrajat, 10, tenggelam di Dam Kaligulung, Lingkungan Cungking.

Bocah yang masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar (SD) itu langsung dievakuasi warga. Kejadian tersebut baru diketahui pukul 13.15. Tiga teman korban yang hendak mandi di Dam Kaligulung menemukan pakaian yang diduga milik korban berada di atas batu. Anak-anak tersebut tidak menemukan keberadaan Bagus.

Salah satu dari mereka melompat ke Dam Kaligulung untuk mandi. Secara tidak sengaja, salah satu anak melihat kaki di atas air. Mereka mengambil kayu untuk memastikan yang dilihatnya kaki manusia. Benar saja, kaki tersebut ternyata korban. Mereka kemudian naik dan memberitahukan temuan tersebut kepada warga yang tinggal tak jauh dari lokasi dam.

Warga kemudian berusaha menyelamatkan korban. Tubuh korban diangkat dari air, lalu dilarikan ke Puskesmas Mojopanggung untuk mendapatkan perawatan. Sayangnya, takdir berkata lain. Nyawa korban sudah tidak bisa diselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia oleh petugas medis.

”Saat kejadian saya dan istri masih ada di Asembagus. Istri saya mendapat kabar dari adiknya kalau Bagus tenggelam di sungai. Akhirnya kami pulang ke Banyuwangi,” ujar ayah korban, Junaidi.

Begitu mengetahui putranya meninggal dunia, Junaidi dan istrinya hanya bisa pasrah. Junaidi langsung melihat kondisi tubuh anaknya. ”Saya lihat tidak ada bukti penyiksaan atau kekerasan. Saya tidak mau tubuh anak saya diotopsi,” ucap Junaidi pasrah.

Ibu korban, Sriyati, mengaku mendapat firasat buruk beberapa hari sebelum musibah menimpa anaknya. Anak kelimanya berapa kali nempel dengannya. Beberapa kali Bagus mengatakan sayang kepadanya. Kakak korban juga bermimpi kakinya dipatuk burung gagak. Sriyati mencoba menepis firasat buruknya. Namun, dia selalu mewanti- wanti kepada kakak korban agar mengawasi adiknya ketika dirinya sedang tidak ada di rumah.

”Anaknya suka dengan sungai, tapi dia tidak bisa berenang. Kalau bapaknya mancing dia mesti ikut. Bagus baru dua minggu pindah ke sini, sebelumnya tinggal bersama saya di Wonorejo, Banyuputih,” kata Sriyati.

Tiga hari sebelum kabar buruk tersebut, Sriyati menceritakan kalau anaknya sempat tenggelam di sungai yang sama. Karena ada teman-temannya, dia sempat tertolong. Sriyati  mengingatkan Bagus agar tak main-main lagi ke dam lagi.

Sayangnya, takdir memang tidak bisa ditebak. Bagus justru kembali datang ke sungai sendirian. Saat kejadian, kakak korban juga tidak sempat mengawasi karena tengah sibuk menyiapkan bahan untuk dagangan gorengan miliknya. ”Anak ini rajin sekali mengaji. Seminggu ini juga membantu saya jualan jagung rebus, sudah saya bilang jangan main-main lagi ke sungai. Anak saya memang banyak, tapi semua saya urus. Saya tidak berharap ada yang diambil seperti ini,” ungkap Sriyati menahan tangis.

Kasi Humas Polresta Banyuwangi Iptu Lita Kurniawan mengatakan, orang tua korban menolak dilakukan otopsi. Korban langsung dimakamkan pada hari yang sama. Lita mengimbau agar masyarakat ikut mengawasi anak-anak mereka terutama saat berada di tempat berbahaya seperti dam atau sungai. ”Orang tua korban menolak untuk dilakukan atopsi. Dari hasil pemeriksaan medis tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada korban,” kata Lita.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/