alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Usaha Papan Nama Terkendala Tenaga Kerja

BLIMBINGSARI – Banyaknya kantor pelayanan yang melakukan peningkatan kualitas gedung bangunan membuka peluang bagi pemilik usaha pembuatan papan nama. Hal ini karena kantor-kantor tersebut banyak yang mengganti papan nama menggunakan papan nama berbentuk huruf timbul.

Hariyanto, 35, salah satu pemilik usaha mengungkapkan, tren penggunaan huruf timbul seperti ini di Banyuwangi beberapa tahun belakangan semakin meningkat. Di luar Banyuwangi, pesanan yang paling banyak datang dari Bali.

Menurut Yanto, di Pulau Dewata tersebut pesanan lebih ramai. Hal ini karena di satu tempat usaha pergantian pemilik sering terjadi. Sehingga berdampak terhadap perubahan logo atau nama yang biasa di pasang di depan kantor. ”Kalau di sana, sering gonta-ganti,” ujarnya.

Sedangkan untuk di Banyuwangi, penggunaan papan nama ini rata-rata cukup lama. Mengingat saat ini sebagian besar pesanan datang dari kantor instansi pemerintah. ”Kalau di sini awet-awet,” ucapnya.

Sementara, untuk biaya pemasangan, biaya yang mereka kenakan biasanya borongan atau jika dihitung per huruf Rp 12 ribu per sentimeternya. ”Ya mahal. Tulisan Blimbingsari ini sekitar 3 juta,” jelasnya.

Kendala dalam usaha ini yang dialami adalah keterbatasan tenaga. Sehingga, waktu penyelesaian pesanan menjadi cukup lama. Untuk menyiasati ketika ada pesanan menumpuk, mereka akan menghubungi pekerja di bengkel lain untuk bergabung. ”Kendala ya pekerja, kalau order banyak, kita hubungi yang lain,” ucapnya.

BLIMBINGSARI – Banyaknya kantor pelayanan yang melakukan peningkatan kualitas gedung bangunan membuka peluang bagi pemilik usaha pembuatan papan nama. Hal ini karena kantor-kantor tersebut banyak yang mengganti papan nama menggunakan papan nama berbentuk huruf timbul.

Hariyanto, 35, salah satu pemilik usaha mengungkapkan, tren penggunaan huruf timbul seperti ini di Banyuwangi beberapa tahun belakangan semakin meningkat. Di luar Banyuwangi, pesanan yang paling banyak datang dari Bali.

Menurut Yanto, di Pulau Dewata tersebut pesanan lebih ramai. Hal ini karena di satu tempat usaha pergantian pemilik sering terjadi. Sehingga berdampak terhadap perubahan logo atau nama yang biasa di pasang di depan kantor. ”Kalau di sana, sering gonta-ganti,” ujarnya.

Sedangkan untuk di Banyuwangi, penggunaan papan nama ini rata-rata cukup lama. Mengingat saat ini sebagian besar pesanan datang dari kantor instansi pemerintah. ”Kalau di sini awet-awet,” ucapnya.

Sementara, untuk biaya pemasangan, biaya yang mereka kenakan biasanya borongan atau jika dihitung per huruf Rp 12 ribu per sentimeternya. ”Ya mahal. Tulisan Blimbingsari ini sekitar 3 juta,” jelasnya.

Kendala dalam usaha ini yang dialami adalah keterbatasan tenaga. Sehingga, waktu penyelesaian pesanan menjadi cukup lama. Untuk menyiasati ketika ada pesanan menumpuk, mereka akan menghubungi pekerja di bengkel lain untuk bergabung. ”Kendala ya pekerja, kalau order banyak, kita hubungi yang lain,” ucapnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/