alexametrics
25.5 C
Banyuwangi
Wednesday, July 6, 2022

Laut Surut, Ramai-Ramai Berburu Kerang

RadarBanyuwangi.id – Puluhan warga berbondong-bondong ke tepi laut saat air laut surut di Pantai Pecemengan, Desa/Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, kemarin (25/8). Mereka datang untuk mencari kerang di kawasan tersebut.

Warga yang datang hanya bermodal ember dan pengungkit besi. Untuk melindungi tapak kaki dari tajamnya karang, mereka mengenakan sandal atau sepatu karet. Meski panas sinar matahari masih menyengat, puluhan warga ini seolah tak menghiraukan kulitnya terbakar. Pria, wanita, orang tua, remaja hingga anak-anak, menyisir dasar laut yang berubah menjadi daratan lantaran airnya surut. ”Ini sudah menjadi tradisi bagi warga pesisir,” ungkap Saiful, 45, warga Pantai Pecemengan.

Tangan Saiful tampak mencongkel batu karang dan mengambil kerang yang menempel. Kerang itu pun dimasukkan ke dalam ember yang tergantung di tangan kirinya. Pandangan matanya fokus pada batu karang, sementara tangan kanannya aktif mencongkel dan membalik batu karang. Tak sampai setengah jam, ember kecil bekas wadah cat tembok satu liter itu separo bagian sudah terisi aneka jenis kerang.

Bagi warga pesisir Pantai Pecemengan, mencari kerang saat air surut menjadi tradisi sejak dulu. Untuk memastikan permukaan air menyusut dan aman, mereka hanya berpatokan pada kalender Jawa. ”Pokoknya bulan purnama, mulai ramai orang cari kerang,” jelas Saiful.

Jika alam bersahabat, kata dia, warga mulai menyisir pantai ketika air mulai surut pada pukul 13.00 hingga matahari terbenam. Meskipun sekadar kerja sambilan, namun hasil berburu kerang yang diperoleh diakui menjadi penopang kebutuhan lauk sehari-hari. ”Kalau pas banyak sekali, bisa dapat 10 sampai 15 kilogram,” ujar bapak dua anak itu.

Jika terlalu banyak untuk lauk pauk, kata Saiful, kerang itu juga dijual. Harganya pun sangat terjangkau. Kerang yang sudah bersih dijual Rp 5 ribu per cangkir. Ada juga yang membeli dengan kondisi masih melekat dengan cangkang.

Panen kerang dan siput laut saat ini cukup melimpah. Setidaknya, hal itu tampak dari ember-ember yang tak lagi kosong saat dibawa pulang pemiliknya. Kerang tersebut juga bisa diolah jadi menu kuliner bercita rasa tinggi. ”Lumayan bisa untuk menambah penghasilan saat pandemi seperti ini,” pungkas Saiful. (ddy/bay/c1)

RadarBanyuwangi.id – Puluhan warga berbondong-bondong ke tepi laut saat air laut surut di Pantai Pecemengan, Desa/Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, kemarin (25/8). Mereka datang untuk mencari kerang di kawasan tersebut.

Warga yang datang hanya bermodal ember dan pengungkit besi. Untuk melindungi tapak kaki dari tajamnya karang, mereka mengenakan sandal atau sepatu karet. Meski panas sinar matahari masih menyengat, puluhan warga ini seolah tak menghiraukan kulitnya terbakar. Pria, wanita, orang tua, remaja hingga anak-anak, menyisir dasar laut yang berubah menjadi daratan lantaran airnya surut. ”Ini sudah menjadi tradisi bagi warga pesisir,” ungkap Saiful, 45, warga Pantai Pecemengan.

Tangan Saiful tampak mencongkel batu karang dan mengambil kerang yang menempel. Kerang itu pun dimasukkan ke dalam ember yang tergantung di tangan kirinya. Pandangan matanya fokus pada batu karang, sementara tangan kanannya aktif mencongkel dan membalik batu karang. Tak sampai setengah jam, ember kecil bekas wadah cat tembok satu liter itu separo bagian sudah terisi aneka jenis kerang.

Bagi warga pesisir Pantai Pecemengan, mencari kerang saat air surut menjadi tradisi sejak dulu. Untuk memastikan permukaan air menyusut dan aman, mereka hanya berpatokan pada kalender Jawa. ”Pokoknya bulan purnama, mulai ramai orang cari kerang,” jelas Saiful.

Jika alam bersahabat, kata dia, warga mulai menyisir pantai ketika air mulai surut pada pukul 13.00 hingga matahari terbenam. Meskipun sekadar kerja sambilan, namun hasil berburu kerang yang diperoleh diakui menjadi penopang kebutuhan lauk sehari-hari. ”Kalau pas banyak sekali, bisa dapat 10 sampai 15 kilogram,” ujar bapak dua anak itu.

Jika terlalu banyak untuk lauk pauk, kata Saiful, kerang itu juga dijual. Harganya pun sangat terjangkau. Kerang yang sudah bersih dijual Rp 5 ribu per cangkir. Ada juga yang membeli dengan kondisi masih melekat dengan cangkang.

Panen kerang dan siput laut saat ini cukup melimpah. Setidaknya, hal itu tampak dari ember-ember yang tak lagi kosong saat dibawa pulang pemiliknya. Kerang tersebut juga bisa diolah jadi menu kuliner bercita rasa tinggi. ”Lumayan bisa untuk menambah penghasilan saat pandemi seperti ini,” pungkas Saiful. (ddy/bay/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/