Rabu, 27 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Banyuwangi
icon featured
Banyuwangi

Beri Efek Jera, Jaksa Beri Tuntutan Maksimal kepada Pelaku KDRT

24 September 2021, 09: 35: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Beri Efek Jera, Jaksa Beri Tuntutan Maksimal kepada Pelaku KDRT

Ilustrasi kekerasan pada anak. (dok.JawaPos.com)

Share this      

BANYUWANGI – Untuk memberikan hukuman setimpal kepada pelaku kekerasan perempuan dan anak, jaksa penuntut umum  tetap berpedoman kepada aturan perundangan yang berlaku. Dalam menangani kasus yang kian marak itu, kejaksaan akan berkoordinasi dengan instansi terkait.

Seperti kasus seorang bapak yang menghamili anak kandungnya pada April 2021 lalu. Perbuatan bejat pelaku pada kasus yang ditangani  Polsek Tegalsari itu mengakibatkan korban hamil empat bulan. Tersangka Hendry Irawan, 36, warga Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, dituntut 20 tahun penjara.

Kejaksaan mencatat kasus kekerasan perempuan dan anak dari tahun 2020 mencapai 62 kasus. Sedangkan tahun 2021 hingga bulan Agustus mencapai 20 perkara. Komitmen penegakan hukum tetap dilakukan sebagai efek jera terhadap para pelaku. ”Kita selalu menuntut maksimal kepada terdakwa kekerasan terhadap perempuan dan anak,” tegas Kajari Mohammad Rawi.

Baca juga: Aturan Ganjil Genap Belum Berlaku di Pelabuhan Ketapang

Rawi mengatakan, penegakan hukum di Banyuwangi bukan hanya tugas aparat kepolisian. Jaksa juga memiliki peran dalam penegakan hukum untuk melakukan penuntutan kepada para pelaku tindak pidana. ”Kita lakukan penegakan hukum sesuai dengan aturan yang berlaku, baik penerapan pasal hingga ancaman hukumannya,” katanya.

Dengan aturan hukum tersebut, jelas Rawi, para penegak hukum memiliki perannya masing-masing. Meski begitu, dalam penanganan perkara tetap mengacu asas kemanusiaan. ”Kita melakukan penuntutan juga melihat hasil dari proses persidangan dan pemeriksaan terdakwa,” terangnya.

Untuk perkara yang masuk di kejaksaan, masih kata Rawi, belum tampak adanya peningkatan. Di tahun 2020, kasusnya mencapai 62. Sedangkan di tahun 2021 hingga bulan Agustus masih mencapai 20 perkara. ”Kemungkinan besar masih bisa mengalami peningkatan, makanya perlu adanya pencegahan untuk mengantisipasi hal tersebut,” ungkapnya.

Rawi menambahkan, adanya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sangat mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, pelaku tindak pidana biasanya masih keluarga atau orang terdekat korban. ”Kita harap masyarakat juga bisa melakukan antisipasi untuk menjaga anaknya agar tidak menjadi pelaku kejahatan ataupun korban tindak pidana,” pesannya. 

(bw/rio/aif/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia