alexametrics
27.6 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Dianggap Rendahkan Martabat Pengadilan, Hakim Laporkan Arogansi Yunus

RadarBanyuwangi.id – Kasus penyerangan terhadap majelis hakim yang dilakukan Yunus Wahyudi berbuntut urusan hukum. Kemarin (23/8) Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi secara resmi melaporkan Yunus ke Polresta Banyuwangi.

Laporan tersebut terkait dugaan penghinaan terhadap proses persidangan. Yunus dilaporkan atas pelanggaran contempt of court. Laporan tersebut dikawal langsung oleh Ketua PN Banyuwangi Nova Flory Bunda didampingi Kajari Banyuwangi Mohammad Rawi dan Kapolresta AKBP Nasrun Pasaribu.

Pelapor dalam perkara ini adalah Ketua Majelis Hakim Khamozaro Waruwu. Dia sebagai korban penyerangan yang dilakukan Yunus dalam persidangan di PN Banyuwangi, Kamis (19/8).

Hakim anggota Philip Pangalila dan Yustisiana ikut diperiksa sebagai saksi pelapor. Keduanya dimintai keterangan selama dua jam di ruang Unit 3 Tipikor Satreskrim.

Ketua PN Banyuwangi Nova Flory Bunda mengatakan, kedatangannya ke Polresta untuk melaporkan kejadian penyerangan terhadap hakim. Laporan tersebut atas tindakan contempt of court, yang mana terlapor telah dianggap melanggar dan melukai citra dan martabat pengadilan. ”Penyerangan ini dianggap menghina martabat hakim. Pelapor melakukan penyerangan saat hakim menutup persidangan,” kata Nova.

Nova menjelaskan, contempt of court memang belum diatur secara khusus dan belum disahkan dalam Undang-Undang (UU). ”Kita serahkan ke Kapolresta terkait laporan tersebut, bahkan pasal-pasal apa yang akan diterapkannya,” imbuhnya.

Nova mengatakan, pengadilan merasa dilecehkan atas kejadian tersebut. Tugas hakim hanya mengadili perkara seseorang, tapi tidak dihargai dengan cara melakukan penyerangan tersebut. ”Pelapor sendiri korban dalam aksi tersebut, sedangkan dua anggota hakim menjadi saksi,” ujarnya.

Akibat aksi penyerangan, imbuh Nova, korban tidak menderita luka-luka. Namun, penyerangan tersebut membuat citra dan martabat pengadilan yang merasa dilecehkan. ”Kita berharap laporan segera ditindaklanjuti agar menjadi pembelajaran untuk masyarakat lainnya. Semoga tidak ada aksi serupa yang melecekan pengadilan,” harapnya.

Kapolresta Banyuwangi AKBP Nasrun Pasaribu menegaskan, laporan tersebut sudah diterima dan langsung ditindaklanjuti. Pihaknya masih melakukan penyelidikan dengan mengumpulkan sejumah barang bukti (BB). Kata Nasrun, perkara tersebut memang masuk contempt of court. Jeratan hukum  yang diterapkan dalam perkara ini adalah pasal 207 dan 212 KUHP tentang kejahatan terhadap penguasa umum. ”Kita akan terus lakukan proses penyidikan, tergantung nantinya hasil proses penyidikan seperti apa,” tegasnya.

Pengacara Yunus Wahyudi, Mohammad Sugiono, mengaku belum mendapatkan pemberitahuan terkait langkah pengadilan melaporkan kliennya ke Polresta Banyuwangi. Menurut Sugiono, laporan tersebut memang menjadi kewenangan  pengadilan. ”Kita belum dapat pemberitahuan adanya laporan kasus baru di Polresta Banyuwangi. Yang jelas kami bisa  menghargai upaya hukum tersebut. Klien kami juga memiliki hak untuk melakukan upaya hukum,” tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Yunus Wahyudi mendapatkan hukuman cukup berat, Kamis lalu(19/8). Aktivis antimasker tersebut, divonis tiga tahun penjara. Menyikapi putusan, Yunus langsung berulah dengan menyerang ketua majelis hakim yang menyidangkan perkara tersebut.

Begitu palu hakim didok Ketua Majelis Hakim Khamozaro Waruwu, Yunus berdiri dari kursi. Dia  berjalan menuju meja majelis hakim. Sembari berteriak, Yunus langsung menyerang Khamozaro Waruwu. Untungnya polisi yang menjaga jalannya persidangan bergerak cepat. Yunus langsung diringkus, lalu dibawa ke Lapas Banyuwangi.

Banyak pertimbangan mengapa hakim menjatuhkan hukuman tiga tahun. Salah satu pertimbangan yang memberatkan adalah terdakwa telah melakukan penyerangan terhadap jaksa. Selain itu, terdakwa juga sering berteriak dalam proses persidangan. Terdakwa tidak pernah menghargai majelis hakim, bahkan membenarkan dan tidak pernah melakukan klarifikasi terkait beredarnya video bahwa Covid-19 di Banyuwangi tidak ada.

Sebelumnya Yunus Wahyudi dituntut empat tahun penjara, Kamis (5/8).  Pria yang dijuluki aktivis antimasker itu diduga telah menyebarkan berita bohong atau hoaks bahwa di Banyuwangi tidak ada Covid-19. (rio/aif/c1)

RadarBanyuwangi.id – Kasus penyerangan terhadap majelis hakim yang dilakukan Yunus Wahyudi berbuntut urusan hukum. Kemarin (23/8) Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi secara resmi melaporkan Yunus ke Polresta Banyuwangi.

Laporan tersebut terkait dugaan penghinaan terhadap proses persidangan. Yunus dilaporkan atas pelanggaran contempt of court. Laporan tersebut dikawal langsung oleh Ketua PN Banyuwangi Nova Flory Bunda didampingi Kajari Banyuwangi Mohammad Rawi dan Kapolresta AKBP Nasrun Pasaribu.

Pelapor dalam perkara ini adalah Ketua Majelis Hakim Khamozaro Waruwu. Dia sebagai korban penyerangan yang dilakukan Yunus dalam persidangan di PN Banyuwangi, Kamis (19/8).

Hakim anggota Philip Pangalila dan Yustisiana ikut diperiksa sebagai saksi pelapor. Keduanya dimintai keterangan selama dua jam di ruang Unit 3 Tipikor Satreskrim.

Ketua PN Banyuwangi Nova Flory Bunda mengatakan, kedatangannya ke Polresta untuk melaporkan kejadian penyerangan terhadap hakim. Laporan tersebut atas tindakan contempt of court, yang mana terlapor telah dianggap melanggar dan melukai citra dan martabat pengadilan. ”Penyerangan ini dianggap menghina martabat hakim. Pelapor melakukan penyerangan saat hakim menutup persidangan,” kata Nova.

Nova menjelaskan, contempt of court memang belum diatur secara khusus dan belum disahkan dalam Undang-Undang (UU). ”Kita serahkan ke Kapolresta terkait laporan tersebut, bahkan pasal-pasal apa yang akan diterapkannya,” imbuhnya.

Nova mengatakan, pengadilan merasa dilecehkan atas kejadian tersebut. Tugas hakim hanya mengadili perkara seseorang, tapi tidak dihargai dengan cara melakukan penyerangan tersebut. ”Pelapor sendiri korban dalam aksi tersebut, sedangkan dua anggota hakim menjadi saksi,” ujarnya.

Akibat aksi penyerangan, imbuh Nova, korban tidak menderita luka-luka. Namun, penyerangan tersebut membuat citra dan martabat pengadilan yang merasa dilecehkan. ”Kita berharap laporan segera ditindaklanjuti agar menjadi pembelajaran untuk masyarakat lainnya. Semoga tidak ada aksi serupa yang melecekan pengadilan,” harapnya.

Kapolresta Banyuwangi AKBP Nasrun Pasaribu menegaskan, laporan tersebut sudah diterima dan langsung ditindaklanjuti. Pihaknya masih melakukan penyelidikan dengan mengumpulkan sejumah barang bukti (BB). Kata Nasrun, perkara tersebut memang masuk contempt of court. Jeratan hukum  yang diterapkan dalam perkara ini adalah pasal 207 dan 212 KUHP tentang kejahatan terhadap penguasa umum. ”Kita akan terus lakukan proses penyidikan, tergantung nantinya hasil proses penyidikan seperti apa,” tegasnya.

Pengacara Yunus Wahyudi, Mohammad Sugiono, mengaku belum mendapatkan pemberitahuan terkait langkah pengadilan melaporkan kliennya ke Polresta Banyuwangi. Menurut Sugiono, laporan tersebut memang menjadi kewenangan  pengadilan. ”Kita belum dapat pemberitahuan adanya laporan kasus baru di Polresta Banyuwangi. Yang jelas kami bisa  menghargai upaya hukum tersebut. Klien kami juga memiliki hak untuk melakukan upaya hukum,” tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Yunus Wahyudi mendapatkan hukuman cukup berat, Kamis lalu(19/8). Aktivis antimasker tersebut, divonis tiga tahun penjara. Menyikapi putusan, Yunus langsung berulah dengan menyerang ketua majelis hakim yang menyidangkan perkara tersebut.

Begitu palu hakim didok Ketua Majelis Hakim Khamozaro Waruwu, Yunus berdiri dari kursi. Dia  berjalan menuju meja majelis hakim. Sembari berteriak, Yunus langsung menyerang Khamozaro Waruwu. Untungnya polisi yang menjaga jalannya persidangan bergerak cepat. Yunus langsung diringkus, lalu dibawa ke Lapas Banyuwangi.

Banyak pertimbangan mengapa hakim menjatuhkan hukuman tiga tahun. Salah satu pertimbangan yang memberatkan adalah terdakwa telah melakukan penyerangan terhadap jaksa. Selain itu, terdakwa juga sering berteriak dalam proses persidangan. Terdakwa tidak pernah menghargai majelis hakim, bahkan membenarkan dan tidak pernah melakukan klarifikasi terkait beredarnya video bahwa Covid-19 di Banyuwangi tidak ada.

Sebelumnya Yunus Wahyudi dituntut empat tahun penjara, Kamis (5/8).  Pria yang dijuluki aktivis antimasker itu diduga telah menyebarkan berita bohong atau hoaks bahwa di Banyuwangi tidak ada Covid-19. (rio/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/