alexametrics
24.7 C
Banyuwangi
Saturday, June 25, 2022

Warga Hadang Eksekusi Lahan PTPN XII Pasewaran

WONGSOREJO, Radar Banyuwangi – Puluhan warga Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, menghadang jalannya eksekusi lahan perkebunan PTPN XII Pasewaran kemarin (21/6). Mereka menolak eksekusi lahan yang hendak dilakukan oleh dua Koperasi Serba Usaha, yaitu UD Maju Karya dan UD Samwirajaya.

Melihat situasi yang memanas, aparat keamanan dari TNI-Polri turun tangan. Sejumlah personel diterjunkan untuk mengamankan situasi. ”Sudah empat bulan ini kita resmi dinyatakan sebagai mitra KSU. Pihak KSU tak bisa mengelola lahan karena ada tanaman jagung milik warga,” ujar rekanan UD Maju Karya, Supriyanto.

Supriyanto mengungkapkan, ada lima hektare lahan yang akan dieksekusi. Total keseluruhan lahan yang ditanami jagung seluas 60 hektare lebih. Melihat situasi yang kian memanas, proses eksekusi terpaksa dihentikan. Dari pihak warga maupun mitra KSU akhirnya dimediasi oleh aparat keamanan. ”Kita sepakati untuk menunggu tindak lanjut dan iktikad baik. Jika tidak ada kejelasan, kami akan melakukan eksekusi secara paksa,” kata Supriyanto.

Kapolsek Wongsorejo AKP Sudarso mengatakan, proses eksekusi sempat terhenti karena ada perselisihan pendapat antara mitra KSU dan masyarakat yang mengatasnamakan kelompok tani. Mitra KSU sebenarnya telah dirugikan selama empat bulan karena lahannya dikuasai oleh masyarakat dengan ditanami jagung.

”Masyarakat tidak izin kepada PTPN XII Pasewaran maupun mitra KSU. Di sinilah terjadi perbedaan pendapat. Hari ini sebetulnya mau ditertibkan karena sudah selesai panen. Namun, ada beberapa masyarakat yang menolak dan perlu dilakukan mediasi,” katanya.

Sudarso menjelaskan, inti dari mediasi adalah masyarakat yang menyatakan sebagai kelompok tani rela menyerahkan kembali pengelolaan lahan kepada mitra KSU. ”Kita harapkan ada kesepakatan bersama agar menemui titik terang,” tegasnya.

Manajer Kebun Pasewaran Ardi Rajasa menegaskan, pihaknya sebagai pemilik Hak Guna Usaha (HGU) PTPN XII. Sedangkan dua KSU secara resmi sebagai pengelola sebagian lahan dari hasil persetujuan direksi di Surabaya. ”Kita hanya menunjukkan lahan kepada kedua pemenang lelang sekaligus pendampingan untuk menentukan batas-batasnya. Kita juga memberikan pemahaman kepada masyarakat,” katanya.

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sumbersari Rukun Kusmantoro menjelaskan, petani menginginkan agar pihak Pasewaran benar-benar bermitra dengan aturan yang benar. Dia kurang sepakat pengelolaan melibatkan pihak ketiga. ”PTPN tidak pernah sosialisasi kepada petani dengan aturan yang jelas. Atas dasar apa pihak perkebunan memberikan pengelolaan kepada KSU. Seharusnya perkebunan mensejahteraan masyarakat sekitar,” jelasnya. (rio/aif/c1)

WONGSOREJO, Radar Banyuwangi – Puluhan warga Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, menghadang jalannya eksekusi lahan perkebunan PTPN XII Pasewaran kemarin (21/6). Mereka menolak eksekusi lahan yang hendak dilakukan oleh dua Koperasi Serba Usaha, yaitu UD Maju Karya dan UD Samwirajaya.

Melihat situasi yang memanas, aparat keamanan dari TNI-Polri turun tangan. Sejumlah personel diterjunkan untuk mengamankan situasi. ”Sudah empat bulan ini kita resmi dinyatakan sebagai mitra KSU. Pihak KSU tak bisa mengelola lahan karena ada tanaman jagung milik warga,” ujar rekanan UD Maju Karya, Supriyanto.

Supriyanto mengungkapkan, ada lima hektare lahan yang akan dieksekusi. Total keseluruhan lahan yang ditanami jagung seluas 60 hektare lebih. Melihat situasi yang kian memanas, proses eksekusi terpaksa dihentikan. Dari pihak warga maupun mitra KSU akhirnya dimediasi oleh aparat keamanan. ”Kita sepakati untuk menunggu tindak lanjut dan iktikad baik. Jika tidak ada kejelasan, kami akan melakukan eksekusi secara paksa,” kata Supriyanto.

Kapolsek Wongsorejo AKP Sudarso mengatakan, proses eksekusi sempat terhenti karena ada perselisihan pendapat antara mitra KSU dan masyarakat yang mengatasnamakan kelompok tani. Mitra KSU sebenarnya telah dirugikan selama empat bulan karena lahannya dikuasai oleh masyarakat dengan ditanami jagung.

”Masyarakat tidak izin kepada PTPN XII Pasewaran maupun mitra KSU. Di sinilah terjadi perbedaan pendapat. Hari ini sebetulnya mau ditertibkan karena sudah selesai panen. Namun, ada beberapa masyarakat yang menolak dan perlu dilakukan mediasi,” katanya.

Sudarso menjelaskan, inti dari mediasi adalah masyarakat yang menyatakan sebagai kelompok tani rela menyerahkan kembali pengelolaan lahan kepada mitra KSU. ”Kita harapkan ada kesepakatan bersama agar menemui titik terang,” tegasnya.

Manajer Kebun Pasewaran Ardi Rajasa menegaskan, pihaknya sebagai pemilik Hak Guna Usaha (HGU) PTPN XII. Sedangkan dua KSU secara resmi sebagai pengelola sebagian lahan dari hasil persetujuan direksi di Surabaya. ”Kita hanya menunjukkan lahan kepada kedua pemenang lelang sekaligus pendampingan untuk menentukan batas-batasnya. Kita juga memberikan pemahaman kepada masyarakat,” katanya.

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sumbersari Rukun Kusmantoro menjelaskan, petani menginginkan agar pihak Pasewaran benar-benar bermitra dengan aturan yang benar. Dia kurang sepakat pengelolaan melibatkan pihak ketiga. ”PTPN tidak pernah sosialisasi kepada petani dengan aturan yang jelas. Atas dasar apa pihak perkebunan memberikan pengelolaan kepada KSU. Seharusnya perkebunan mensejahteraan masyarakat sekitar,” jelasnya. (rio/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/