alexametrics
24 C
Banyuwangi
Wednesday, July 6, 2022

Ipuk Siapkan Program Pendampingan Buruh Migran

JawaPos.com – Banyaknya pekerja migran asal Banyuwangi yang bekerja di luar negeri menjadi perhatian calon bupati (cabup) Ipuk Fiestiandani Azwar Anas. Dia pun telah menyiapkan program pendampingan pekerja migran dan keluarganya.

Hal itu diutarakan Ipuk saat mengunjungi kelompok eks pekerja migran di Desa Kedunggebang, Kecamatan Tegaldlimo kemarin (21/10). ”Perlindungan pekerja migran tanggung jawab kita semua. Karena itu kami akan perkuat sistem pendampingan pekerja migran dan keluarganya. Itu sudah masuk dalam program kami,” ujarnya.

Di kelompok yang menamakan diri ”Sukses Migran” ini, terdapat lebih dari 70 mantan pekerja migran. Mereka mengembangkan usaha roti, makanan ringan, kue kering, dan sebagainya. ”Ibu-ibu di sini sangat kreatif. Banyak produk yang dihasilkan, seperti roti, olahan makanan kering, dan lainnya. Rasanya juga enak. Ke depan pendampingan harus diperkuat,” kata Ipuk.

Ipuk mengusung program pendampingan para pekerja migran berbasis desa, sehingga dapat bersinergi dengan program-program pemerintah. Tidak hanya para mantan pekerja migran, namun juga keluarga dari pekerja migran yang masih aktif bekerja di luar negeri.

Ipuk siap memfasilitasi para mantan pekerja migran maupun keluarga pekerja migran untuk membuat usaha. Bagi yang telah memiliki usaha, bisa dimasukkan dalam program ”UMKM Naik Kelas”, sehingga mendapat pendampingan yang intens, stimulan bantuan alat usaha, berbagai sertifikasi gratis, pemasaran, dan sebagainya. ”Dengan usaha yang berkembang di sini, kita besarkan usaha kawan-kawan mantan pekerja migran dan keluarga pekerja migran agar kesejahteraannya meningkat, tidak harus bolak-balik kembali bekerja ke luar negeri,” kata istri Bupati Abdullah Azwar Anas tersebut.

Selain itu, imbuh Ipuk, ke depan juga akan diperkuat sinergi dengan berbagai program untuk pekerja migran. ”Baik dari organisasi non-pemerintah maupun pemerintah provinsi dan pusat,” kata dia.

Untuk pekerja migran, menurut Ipuk, yang juga dibutuhkan adalah perlindungan dan pelayanan. Di Banyuwangi telah ada Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) khusus pekerja migran di Mal Pelayanan Publik. LTSA ini untuk memberi kepastian dan efektivitas pelayanan migrasi para pekerja migran, dengan mempermudah pengurusan dokumen dalam satu tempat sehingga menghemat biaya dan waktu.

Koordinator Kelompok Sukses Migran Ita Retna mengatakan sependapat dengan apa yang disampaikan Ipuk. Menurutnya, tujuan dari Sukses Migran ini agar para pekerja migran tidak kembali lagi bekerja ke luar negeri. ”Tujuannya agar mereka bisa bekerja di Banyuwangi. Memiliki usaha di Banyuwangi,” ujar Ita yang merupakan mantan pekerja migran. 

Ita bercerita pada 2010 dia pergi ke Hongkong untuk bekerja selama lima tahun. ”Sekarang saya berusaha agar tidak pergi lagi ke Hongkong, supaya bisa merawat anak, suami, dan keluarga,” kata Ita. 

Pada 2016 Ita dan ibu-ibu sesama mantan pekerja migran di desanya, membentuk  komunitas ”Sukses Migran” dengan berbagai jenis usaha. Ada 20 anggota, masing-masing memiliki 5 anggota yang dibina. ”Kini produk-produk kami mulai banyak pesanan. Sekarang sudah bisa kirim ke Bali dan ke luar negeri,” jelas Ita. 

Ita berharap ke depan pemerintah lebih perhatian terhadap para pekerja migran dengan memberikan pendampingan agar usaha mereka lebih berkembang. (sgt/aif/c1)

JawaPos.com – Banyaknya pekerja migran asal Banyuwangi yang bekerja di luar negeri menjadi perhatian calon bupati (cabup) Ipuk Fiestiandani Azwar Anas. Dia pun telah menyiapkan program pendampingan pekerja migran dan keluarganya.

Hal itu diutarakan Ipuk saat mengunjungi kelompok eks pekerja migran di Desa Kedunggebang, Kecamatan Tegaldlimo kemarin (21/10). ”Perlindungan pekerja migran tanggung jawab kita semua. Karena itu kami akan perkuat sistem pendampingan pekerja migran dan keluarganya. Itu sudah masuk dalam program kami,” ujarnya.

Di kelompok yang menamakan diri ”Sukses Migran” ini, terdapat lebih dari 70 mantan pekerja migran. Mereka mengembangkan usaha roti, makanan ringan, kue kering, dan sebagainya. ”Ibu-ibu di sini sangat kreatif. Banyak produk yang dihasilkan, seperti roti, olahan makanan kering, dan lainnya. Rasanya juga enak. Ke depan pendampingan harus diperkuat,” kata Ipuk.

Ipuk mengusung program pendampingan para pekerja migran berbasis desa, sehingga dapat bersinergi dengan program-program pemerintah. Tidak hanya para mantan pekerja migran, namun juga keluarga dari pekerja migran yang masih aktif bekerja di luar negeri.

Ipuk siap memfasilitasi para mantan pekerja migran maupun keluarga pekerja migran untuk membuat usaha. Bagi yang telah memiliki usaha, bisa dimasukkan dalam program ”UMKM Naik Kelas”, sehingga mendapat pendampingan yang intens, stimulan bantuan alat usaha, berbagai sertifikasi gratis, pemasaran, dan sebagainya. ”Dengan usaha yang berkembang di sini, kita besarkan usaha kawan-kawan mantan pekerja migran dan keluarga pekerja migran agar kesejahteraannya meningkat, tidak harus bolak-balik kembali bekerja ke luar negeri,” kata istri Bupati Abdullah Azwar Anas tersebut.

Selain itu, imbuh Ipuk, ke depan juga akan diperkuat sinergi dengan berbagai program untuk pekerja migran. ”Baik dari organisasi non-pemerintah maupun pemerintah provinsi dan pusat,” kata dia.

Untuk pekerja migran, menurut Ipuk, yang juga dibutuhkan adalah perlindungan dan pelayanan. Di Banyuwangi telah ada Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) khusus pekerja migran di Mal Pelayanan Publik. LTSA ini untuk memberi kepastian dan efektivitas pelayanan migrasi para pekerja migran, dengan mempermudah pengurusan dokumen dalam satu tempat sehingga menghemat biaya dan waktu.

Koordinator Kelompok Sukses Migran Ita Retna mengatakan sependapat dengan apa yang disampaikan Ipuk. Menurutnya, tujuan dari Sukses Migran ini agar para pekerja migran tidak kembali lagi bekerja ke luar negeri. ”Tujuannya agar mereka bisa bekerja di Banyuwangi. Memiliki usaha di Banyuwangi,” ujar Ita yang merupakan mantan pekerja migran. 

Ita bercerita pada 2010 dia pergi ke Hongkong untuk bekerja selama lima tahun. ”Sekarang saya berusaha agar tidak pergi lagi ke Hongkong, supaya bisa merawat anak, suami, dan keluarga,” kata Ita. 

Pada 2016 Ita dan ibu-ibu sesama mantan pekerja migran di desanya, membentuk  komunitas ”Sukses Migran” dengan berbagai jenis usaha. Ada 20 anggota, masing-masing memiliki 5 anggota yang dibina. ”Kini produk-produk kami mulai banyak pesanan. Sekarang sudah bisa kirim ke Bali dan ke luar negeri,” jelas Ita. 

Ita berharap ke depan pemerintah lebih perhatian terhadap para pekerja migran dengan memberikan pendampingan agar usaha mereka lebih berkembang. (sgt/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/