alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Antisipasi PMK, Pemkab Banyuwangi Bagikan Vitamin

BANYUWANGI – Merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak di sejumlah daerah di tanah air disikapi serius Pemkab Banyuwangi. Bahkan, sejak muncul kasus PMK di sejumlah daerah di Jatim, pemkab langsung bergerak cepat melakukan langkah-langkah antisipasi.

Bukan hanya menggencarkan surveilans di berbagai pelosok Bumi Blambangan, upaya antisipasi juga dilakukan dengan memberikan vitamin dan mineral pada hewan ternak. Bukan itu saja, pemerintah kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini juga mengeluarkan kebijakan larangan mendatangkan hewan ternak dari luas daerah.

Sekadar diketahui, surveilans adalah kegiatan pengamatan yang sistematis dan terus-menerus terhadap data dan informasi tentang kejadian penyakit atau masalah kesehatan. Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, pihaknya menerjunkan tim ke sentra-sentra ternak dan pasar hewan untuk melakukan survelians.

Hasilnya, hingga Jumat (20/5) tidak ditemukan kasus PMK di kabupaten the Sunrise of Java. ”Semoga Banyuwangi terus terbebas dari penyebaran kasus PMK. Semua tetap siaga dan lakukan langkah-langkah antisipatif,” ujar Ipuk.

Meski tidak ditemukan kasus PMK, sebagai langkah antisipasi petugas terus menggencarkan surveilans serta pemberian vitamin dan mineral pada hewan ternak. ”Tidak boleh kendur karena kasusnya masih ada. Tetap waspada, apalagi kita sudah dekat dengan Idul Adha. Semua vitamin dan mineral disediakan Dinas Pertanian dan Pangan untuk peningkatan kesehatan ternak diberikan gratis. Ayo peternak periksakan hewan ternak Anda,” kata dia.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi drh Nanang Sugiarto mengatakan, mulai 7 hingga 18 Mei, telah dilakukan surveilans pada ribuan hewan ternak berisiko. Rinciannya, sapi sebanyak 2.173 ekor, sapi perah 157 ekor, kambing 924 ekor, domba 813 ekor, kerbau 18 ekor, dan babi 13 ekor. ”Hasilnya tidak ditemukan gejala PMK pada hewan ternak,” bebernya.

Nanang menambahkan, selain pemberian vitamin dan mineral, hewan ternak juga diberikan obat cacing. ”Banyuwangi juga menerapkan kebijakan untuk sementara waktu tidak mendatangkan hewan ternak dari luar Banyuwangi,” tuturnya.

Sementara itu, penyebaran PMK tersebut juga menjadi perhatian serius kalangan dewan. DPRD Banyuwangi menggelar rapat kerja dengan instansi terkait untuk membahas upaya-upaya pencegahan penyebaran penyakit yang menyerang hewan ternak tersebut, Jumat (20/5).

Wakil Ketua DPRD Banyuwangi M. Ali Mahrus, pada rapat kemarin pihaknya memberikan kesempatan kepada Dinas Pertanian dan Pangan untuk menyampaikan upaya-upaya yang telah dilakukan untuk mengantisipasi PMK. Versi Dinas Pertanian dan Pangan, kata dia, instansi tersebut sudah membuka posko pengaduan dan sosialisasi bahaya dan tanda-tanda hewan yang terjangkit PMK. ”Kami menyarankan supaya melakukan penyemprotan disinfektan,” pungkasnya. (sgt/aif/c1)

BANYUWANGI – Merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak di sejumlah daerah di tanah air disikapi serius Pemkab Banyuwangi. Bahkan, sejak muncul kasus PMK di sejumlah daerah di Jatim, pemkab langsung bergerak cepat melakukan langkah-langkah antisipasi.

Bukan hanya menggencarkan surveilans di berbagai pelosok Bumi Blambangan, upaya antisipasi juga dilakukan dengan memberikan vitamin dan mineral pada hewan ternak. Bukan itu saja, pemerintah kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini juga mengeluarkan kebijakan larangan mendatangkan hewan ternak dari luas daerah.

Sekadar diketahui, surveilans adalah kegiatan pengamatan yang sistematis dan terus-menerus terhadap data dan informasi tentang kejadian penyakit atau masalah kesehatan. Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, pihaknya menerjunkan tim ke sentra-sentra ternak dan pasar hewan untuk melakukan survelians.

Hasilnya, hingga Jumat (20/5) tidak ditemukan kasus PMK di kabupaten the Sunrise of Java. ”Semoga Banyuwangi terus terbebas dari penyebaran kasus PMK. Semua tetap siaga dan lakukan langkah-langkah antisipatif,” ujar Ipuk.

Meski tidak ditemukan kasus PMK, sebagai langkah antisipasi petugas terus menggencarkan surveilans serta pemberian vitamin dan mineral pada hewan ternak. ”Tidak boleh kendur karena kasusnya masih ada. Tetap waspada, apalagi kita sudah dekat dengan Idul Adha. Semua vitamin dan mineral disediakan Dinas Pertanian dan Pangan untuk peningkatan kesehatan ternak diberikan gratis. Ayo peternak periksakan hewan ternak Anda,” kata dia.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi drh Nanang Sugiarto mengatakan, mulai 7 hingga 18 Mei, telah dilakukan surveilans pada ribuan hewan ternak berisiko. Rinciannya, sapi sebanyak 2.173 ekor, sapi perah 157 ekor, kambing 924 ekor, domba 813 ekor, kerbau 18 ekor, dan babi 13 ekor. ”Hasilnya tidak ditemukan gejala PMK pada hewan ternak,” bebernya.

Nanang menambahkan, selain pemberian vitamin dan mineral, hewan ternak juga diberikan obat cacing. ”Banyuwangi juga menerapkan kebijakan untuk sementara waktu tidak mendatangkan hewan ternak dari luar Banyuwangi,” tuturnya.

Sementara itu, penyebaran PMK tersebut juga menjadi perhatian serius kalangan dewan. DPRD Banyuwangi menggelar rapat kerja dengan instansi terkait untuk membahas upaya-upaya pencegahan penyebaran penyakit yang menyerang hewan ternak tersebut, Jumat (20/5).

Wakil Ketua DPRD Banyuwangi M. Ali Mahrus, pada rapat kemarin pihaknya memberikan kesempatan kepada Dinas Pertanian dan Pangan untuk menyampaikan upaya-upaya yang telah dilakukan untuk mengantisipasi PMK. Versi Dinas Pertanian dan Pangan, kata dia, instansi tersebut sudah membuka posko pengaduan dan sosialisasi bahaya dan tanda-tanda hewan yang terjangkit PMK. ”Kami menyarankan supaya melakukan penyemprotan disinfektan,” pungkasnya. (sgt/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/