alexametrics
27.2 C
Banyuwangi
Tuesday, May 24, 2022

Aniaya Teman, Dapat Hukuman Percobaan

BANYUWANGI Vonis yang dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi kembali menuai polemik di kalangan masyarakat, Kamis (20/1). Setelah  menjatuhkan hukuman sangat ringan kepada tiga sekawan kasus narkoba, kini vonis serupa diberikan kepada terdakwa kasus penganiayaan.

Terdakwa dalam perkara ini adalah Windy Faudamayanti Rosyida, 22, warga Kelurahan Penganjuran, Kecamatan Banyuwangi. Windy dilaporkan telah melakukan penganiayaan terhadap Namira Dwi Agustina, 22, warga Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, pada 22 Sebtember 2021 lalu.

Kasus tersebut terus bergulir hingga masuk meja hijau pada 13 Desember 2021 lalu. Dalam sidang putusan kemarin (20/1), ketua majelis hakim Agus Pancara menjatuhkan hukuman percobaan selama delapan bulan kepada terdakwa Windy. Selama menjalani hukuman percobaan, jika terdakwa melakukan tindak pidana langsung dijebloskan ke penjara selama empat bulan.

Hukuman tersebut jauh sangat ringan dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU), Virdis Firmanillah Putra Yanuar. Dalam perkara ini JPU menjerat Windy dengan pasal 351 ayat 1 KUHP tentang penganiayaan. Hukumannya penjara delapan bulan. Tuntutan tersebut dirasa jaksa cukup setimpal. Korban mengalami luka lecet 5 sentimeter di hidung, memar pada bibir bagian dalam dengan ukuran 1 sentimeter. Selain itu memar kepala bagian belakang dengan diameter 2 sentimeter.

Baca Juga :  Lampu Blitz Bikin Silau dan Picu Kecelakaan, Pengendara Kena Tilang

Namun, atas pertimbangan hakim, tuntutan jaksa dirasa tidak memberikan efek jera terhadap terdakwa. Hakim pun memutuskan untuk menghukum percobaan kepada terdakwa. “Terdakwa dijatuhi hukuman selama empat bulan penjara. Dengan ketentuan hukuman tersebut tidak perlu dijalankan jika selama delapan bulan ke depan terdakwa tidak terlibat kasus pidana apapun,”  tegas Agus Pancara.

Agus menjelaskan, pertimbangan meringankan terdakwa lantaran pertama kali terlibat kasus pidana. Pertimbangan lainnya, terdakwa sudah mengakui hingga menyesali seluruh perbuatannya. Selain itu  korban sudah memaafkan terdakwa. “Dengan putusan tersebut, tentunya akan membuat pelajaran terhadap terdakwa untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi atau terlibat kasus lainnya,” jelasnya.

Paman korban,  Burawi Wilistian mengaku tidak terima dengan putusan majelis hakim. Alasnanya,  perbuatan terdakwa benar-benar sudah sangat merugikan hingga menyebabkan luka terhadap korban. “Putusan hakim tentunya sangat merugikan pihak korban, makanya kami sebagai keluarga akan melakukan upaya hukum lainnya,” tegasnya.

Baca Juga :  Perkelahian David versus Wahyu Dipicu Sakit Hati

Willis menjelaskan, kasus tersebut terjadi pada 29 September 2021 pukul 12.20 di rumah korban. Saat itu, Windy memegang handphone milik korban. Ketika korban meminta kembali HP-nya, terdakwa malah melemparkan ke arah korban hingga ponsel tersebut rusak di bagian LCD/layarnya. “Saat korban ingin memperbaiki HP miliknya, terdakwa menahan korban dengan cara memegang kakinya,” katanya.

Selanjutnya, Windy dengan korban terlibat perang mulut. Windy emosi dan langsung memukul wajah korban sebnayak empat kali menggunakan kedua tangannya. “Pukulan terdakwa mengenai kepala bagian belakang, leher, mata, hidung dan mulut hingga korban terluka di hidung dan mulutnya,” jelasnya.

BANYUWANGI Vonis yang dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi kembali menuai polemik di kalangan masyarakat, Kamis (20/1). Setelah  menjatuhkan hukuman sangat ringan kepada tiga sekawan kasus narkoba, kini vonis serupa diberikan kepada terdakwa kasus penganiayaan.

Terdakwa dalam perkara ini adalah Windy Faudamayanti Rosyida, 22, warga Kelurahan Penganjuran, Kecamatan Banyuwangi. Windy dilaporkan telah melakukan penganiayaan terhadap Namira Dwi Agustina, 22, warga Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, pada 22 Sebtember 2021 lalu.

Kasus tersebut terus bergulir hingga masuk meja hijau pada 13 Desember 2021 lalu. Dalam sidang putusan kemarin (20/1), ketua majelis hakim Agus Pancara menjatuhkan hukuman percobaan selama delapan bulan kepada terdakwa Windy. Selama menjalani hukuman percobaan, jika terdakwa melakukan tindak pidana langsung dijebloskan ke penjara selama empat bulan.

Hukuman tersebut jauh sangat ringan dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU), Virdis Firmanillah Putra Yanuar. Dalam perkara ini JPU menjerat Windy dengan pasal 351 ayat 1 KUHP tentang penganiayaan. Hukumannya penjara delapan bulan. Tuntutan tersebut dirasa jaksa cukup setimpal. Korban mengalami luka lecet 5 sentimeter di hidung, memar pada bibir bagian dalam dengan ukuran 1 sentimeter. Selain itu memar kepala bagian belakang dengan diameter 2 sentimeter.

Baca Juga :  Perayaan Imlek Tahun Ini tanpa Liang Liong

Namun, atas pertimbangan hakim, tuntutan jaksa dirasa tidak memberikan efek jera terhadap terdakwa. Hakim pun memutuskan untuk menghukum percobaan kepada terdakwa. “Terdakwa dijatuhi hukuman selama empat bulan penjara. Dengan ketentuan hukuman tersebut tidak perlu dijalankan jika selama delapan bulan ke depan terdakwa tidak terlibat kasus pidana apapun,”  tegas Agus Pancara.

Agus menjelaskan, pertimbangan meringankan terdakwa lantaran pertama kali terlibat kasus pidana. Pertimbangan lainnya, terdakwa sudah mengakui hingga menyesali seluruh perbuatannya. Selain itu  korban sudah memaafkan terdakwa. “Dengan putusan tersebut, tentunya akan membuat pelajaran terhadap terdakwa untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi atau terlibat kasus lainnya,” jelasnya.

Paman korban,  Burawi Wilistian mengaku tidak terima dengan putusan majelis hakim. Alasnanya,  perbuatan terdakwa benar-benar sudah sangat merugikan hingga menyebabkan luka terhadap korban. “Putusan hakim tentunya sangat merugikan pihak korban, makanya kami sebagai keluarga akan melakukan upaya hukum lainnya,” tegasnya.

Baca Juga :  Pesta Miras di Cluring Berakhir Kisruh

Willis menjelaskan, kasus tersebut terjadi pada 29 September 2021 pukul 12.20 di rumah korban. Saat itu, Windy memegang handphone milik korban. Ketika korban meminta kembali HP-nya, terdakwa malah melemparkan ke arah korban hingga ponsel tersebut rusak di bagian LCD/layarnya. “Saat korban ingin memperbaiki HP miliknya, terdakwa menahan korban dengan cara memegang kakinya,” katanya.

Selanjutnya, Windy dengan korban terlibat perang mulut. Windy emosi dan langsung memukul wajah korban sebnayak empat kali menggunakan kedua tangannya. “Pukulan terdakwa mengenai kepala bagian belakang, leher, mata, hidung dan mulut hingga korban terluka di hidung dan mulutnya,” jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/