Kamis, 02 Dec 2021
Radar Banyuwangi
Home / Banyuwangi
icon featured
Banyuwangi

Produsen Senpi Ilegal Dituntut Empat Tahun Penjara

21 Oktober 2021, 07: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Produsen Senpi Ilegal Dituntut Empat Tahun Penjara

LESU: Sindikat senpi ilegal setelah menjalani sidang tuntutan di PN Banyuwangi kemarin (19/10). (Bagus Rio Rahman/RadarBanyuwangi.id)

Share this      

BANYUWANGI – Nursius Mulyadi, 51, warga Giri, Banyuwangi, tampaknya akan lebih lama tinggal di dalam penjara. Produsen senjata api (senpi) ilegal itu kemarin dituntut empat tahun penjara. Tuntutan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ghandi Muklisin cukup berat dibanding tiga temannya yang sama-sama sebagai sindikat senpi ilegal.
Ketiganya dituntut dengan hukuman penjara cukup berbeda. Terdakwa  I Putu Wibawa, 48, warga Buleleng, Bali, dituntut satu tahun enam bulan, sedangkan Abdurrahman Wahab, 33, warga Wongsorejo, dan Charlie Soetomo, 66, warga Beji, Kota Depok, Jawa Barat, hanya dituntut 10 bulan penjara.
Para sindikat senpi ilegal tersebut masing-masing memiliki peran yang berbeda. Namun, JPU mengenakan pasal yang sama yaitu pasal 1 ayat 1 UU Darurat RI Nomor 12 Tahun 1951 jo pasal 1 UU Nomor 1 Tahun 1961 tentang Penetapan Semua UU Darurat. ”Para terdakwa memiliki peran masing-masing. Untuk Nursius Mulyadi berperan sebagai perakit senpi ilegal, Abdurrahman Wahid sebagai penyuplai amunisi. Sedangkan I Putu Wibawa sebagai pembeli senpi rakitan dan Charlie Soetomo sebagai penyuplai  senpi ilegal kepada Nursius untuk dirakit,” ujar Ghandi.
Ghandi menjelaskan, yang berperan penting dalam sindikat tersebut adalah Nursius. Dia mendapatkan suplai senpi dari Charlie yang disuruh oleh Andi Busowo (masuk DPO) berupa 1 pucuk senpi jenis CIS original kaliber 22 mm dengan ditukarkan senpi jenis laras kaliber 5,56 mm dan grendel chamber jenis senpi Lee-Enfield. ”Senpi yang dari Nursius akan dikirimkan ke Andi Busowo, Charlie sendiri mendapatkan uang sebesar Rp 1,2 juta dari Andi Busowo,” katanya.
Sedangkan terdakwa Abdurrahman Wahid, jelas Ghandi, yang menyuplai amunisi berupa kaliber 9 mm, cis kaliber 22 dan kaliber 7,62. Untuk senjata laras M-16, kas bawah triger SP, magazine M-16, laras senjata Lee-Enfield (LE), chamber dan body, didapati di rumah Nursius Mulyadi yang akan dijual kepada I Putu Wibawa. ”Para sindikat tersebut mulai produksi sejak tahun 2018 lalu, sehingga penjualannya terkoordinir cukup rapi,” jelas Mustijat.
April lalu Polresta Banyuwangi berhasil mengungkap mafia perdagangan senjata api (senpi) ilegal. Polisi juga sudah mengamankan empat orang tersangka. Keempatnya adalah NW, 51, warga Giri, Banyuwangi; IPW, 48, warga Buleleng, Bali; AW, 33, warga Wongsorejo, Banyuwangi;  dan CS, 66, warga Beji, Kota Depok, Jawa Barat.
Dari tangan para mafia itu, polisi mengamankan aneka jenis senpi dan ratusan butir peluru berbagai tipe. Setidaknya ada tujuh pucuk senpi yang diamankan di antaranya dua unit modifikasi M-16, satu Lee-Enfiend (LE), satu unit modifikasi M-16 single, satu unit modifikasi Revolver Cis kaliber 22 mm, satu unit FN-Browning, dan satu unit laras panjang Cis kaliber 22 mm. Ada juga ratusan butir amunisi berbagai ukuran. Petugas juga mengamankan 18 lembar gambar panduan pembuatan senpi. Bahkan, ada juga sejumlah mesin untuk keperluan industri yang mendukung modifikasi senpi ilegal tersebut.

Baca juga: Gudang Barang Sitaan Kejaksaan Overload

(bw/rio/aif/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia