alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Serang Hakim Usai Divonis 3 Tahun, Dijebloskan ke Sel Mapenaling

RadarBanyuwangi.id – Yunus Wahyudi mendapatkan hukuman cukup berat kemarin (19/8). Aktivis antimasker tersebut divonis tiga tahun penjara. Yunus pun berulah dengan menyerang ketua majelis hakim yang menyidangkan perkara tersebut. 

Vonis tiga tahun penjara tersebut didok Ketua Majelis Hakim Khamozaro Waruwu. Begitu palu hakim didok, Yunus berdiri dari kursi, lalu berjalan menuju meja majelis hakim. Sembari berteriak, Yunus langsung menyerang Ketua Majelis Hakim Khamozaro.  

Beruntung aparat kepolisian yang berjaga langsung menarik tubuh Yunus keluar dari ruang sidang. ”Lepaskan, lepaskan saya,” teriak Yunus ketika dibawa menuju mobil aparat kepolisian.    

Meski sudah diamankan, Yunus tetap berusaha berontak. Warga Dusun Kaliboyo, Desa Kradenan, Kecamatan Purwoharjo itu juga mengolok-ngolok para hakim PN Banyuwangi. Aparat kepolisian yang membawa Yunus tak peduli dengan omongan Yunus. Begitu masuk mobil, Yunus langsung dibawa menuju Lapas Banyuwangi.

Ketua tim penasihat hukum Yunus, Mohammad Sugiono masih menunggu keputusan dari keluarga kliennya untuk melakukan upaya hukum selanjutnya. ”Kita belum bisa memutuskan akan melakukan banding atau tidak, yang jelas kita akan berkomunikasi dengan keluarga terdakwa terlebih dahulu,” katanya.

Sugiono menjelaskan, putusan tersebut cukup berat karena kliennya sempat menyerang jaksa penuntut umum (JPU). Setiap kali sidang, kliennya kerap berteriak. ”Ini semua kewenangan majelis hakim, yang jelas pembelaan kita sudah diabaikan,” kata Sugiono.

Sampai di lapas, Yunus langsung dimasukkan ke ruang masa pengenalan lingkungan (mapenaling). ”Tetap kita perlakukan sama dengan tahanan lain. Tahanan yang baru masuk tidak ada keistimewaan,” ujar Kalapas Banyuwangi Wahyu Indarto.

Selama berada di mapenaling, Yunus dikumpulkan dengan delapan orang napi yang baru masuk. Yunus menghuni sel mapenaling  selama 14 hari. ”Setelah 14 hari, nantinya baru kita pindah ke kamar napi, agar kumpul dengan para napi lainnya,” tegasnya.

Sebelum menjatuhkan hukuman, majelis hakim sempat memberikan kesempatan kepada JPU Robi Kurnia Wijaya untuk menanggapi pembelaan dari penasihat hukum. Dalam tanggapannya, jaksa ternyata tetap para prinsipnya. ”Kita tetap pada tuntutan,” jawab Robi kepada Ketua Majelis Hakim Khamozaro Waruwu.

Usai meminta tanggapan JPU, hakim juga memberikan kesempatan yang sama kepada terdakwa melalui penasehat hukumnya. Ternyata, mereka juga tetap dengan pembelaannya. ”Kita tetap dalam pembelaan yang mulia,” jawab ketua tim penasihat hukum Yunus, Mohammad Sugiono.

Setelah keduanya tetap dalam pendiriannya masing-masing, Khamozaro menskors jalannya sidang selama 10 menit untuk berunding. Para hakim meminta waktu untuk memutuskan proses sidang dilanjutkan dengan agenda putusan atau tidak.

Setelah 10 menit, proses sidang yang kembali digelar langsung dengan agenda putusan. Hakim secara bergantian membacakan amar putusan dengan nomor perkara 98/Pid.sus/2021/PN Byw. Dalam amar putusan itu, Khamozaro membeberkan beberapa pertimbangan yang memberatkan maupun meringankan.

Terdakwa Yunus dinyatakan bersalah melanggar pasal 14 ayat 1 UU RI Nomor 1 Tahun 1946 tentang hukum pidana dengan pasal UU Nomor 8 Tahun 1981 tentang masalah hukum pidana dan peraturan terkait aturan perundang-udangan. ”Dengan mengadili bahwa Yunus dijatuhi hukuman tiga tahun dengan dikurangi masa hukuman penjara yang pernah dijalaninya,” terang Khamazaro.

Khamazaro membeberkan, pertimbangan yang memberatkan adalah terdakwa telah melakukan penyerangan terhadap jaksa. Selain itu, terdakwa juga sering berteriak dalam proses persidangan. ”Terdakwa tidak pernah menghargai majelis hakim, bahkan membenarkan dan tidak pernah melakukan klarifikasi terkait beredarnya video bahwa Covid-19 di Banyuwangi tidak ada,” katanya.

Pertimbangan yang meringankan, terdakwa merupakan tulang punggung keluarga. Sehingga, hakim memutuskan hukuman tiga tahun penjara. ”Putusan tersebut cukup ringan dari tuntutan jaksa empat tahun penjara. Bahkan, pihaknya juga memberikan kesempatan kepada terdakwa untuk melakukan upaya hukum lainnya,” ungkapnya.

Sebelumnya Yunus Wahyudi dituntut empat tahun penjara, Kamis (5/8).  Pria yang dijuluki aktivis antimasker itu diduga telah menyebarkan berita bohong atau hoaks bahwa di Banyuwangi tidak ada Covid-19. (rio/aif/c1)

RadarBanyuwangi.id – Yunus Wahyudi mendapatkan hukuman cukup berat kemarin (19/8). Aktivis antimasker tersebut divonis tiga tahun penjara. Yunus pun berulah dengan menyerang ketua majelis hakim yang menyidangkan perkara tersebut. 

Vonis tiga tahun penjara tersebut didok Ketua Majelis Hakim Khamozaro Waruwu. Begitu palu hakim didok, Yunus berdiri dari kursi, lalu berjalan menuju meja majelis hakim. Sembari berteriak, Yunus langsung menyerang Ketua Majelis Hakim Khamozaro.  

Beruntung aparat kepolisian yang berjaga langsung menarik tubuh Yunus keluar dari ruang sidang. ”Lepaskan, lepaskan saya,” teriak Yunus ketika dibawa menuju mobil aparat kepolisian.    

Meski sudah diamankan, Yunus tetap berusaha berontak. Warga Dusun Kaliboyo, Desa Kradenan, Kecamatan Purwoharjo itu juga mengolok-ngolok para hakim PN Banyuwangi. Aparat kepolisian yang membawa Yunus tak peduli dengan omongan Yunus. Begitu masuk mobil, Yunus langsung dibawa menuju Lapas Banyuwangi.

Ketua tim penasihat hukum Yunus, Mohammad Sugiono masih menunggu keputusan dari keluarga kliennya untuk melakukan upaya hukum selanjutnya. ”Kita belum bisa memutuskan akan melakukan banding atau tidak, yang jelas kita akan berkomunikasi dengan keluarga terdakwa terlebih dahulu,” katanya.

Sugiono menjelaskan, putusan tersebut cukup berat karena kliennya sempat menyerang jaksa penuntut umum (JPU). Setiap kali sidang, kliennya kerap berteriak. ”Ini semua kewenangan majelis hakim, yang jelas pembelaan kita sudah diabaikan,” kata Sugiono.

Sampai di lapas, Yunus langsung dimasukkan ke ruang masa pengenalan lingkungan (mapenaling). ”Tetap kita perlakukan sama dengan tahanan lain. Tahanan yang baru masuk tidak ada keistimewaan,” ujar Kalapas Banyuwangi Wahyu Indarto.

Selama berada di mapenaling, Yunus dikumpulkan dengan delapan orang napi yang baru masuk. Yunus menghuni sel mapenaling  selama 14 hari. ”Setelah 14 hari, nantinya baru kita pindah ke kamar napi, agar kumpul dengan para napi lainnya,” tegasnya.

Sebelum menjatuhkan hukuman, majelis hakim sempat memberikan kesempatan kepada JPU Robi Kurnia Wijaya untuk menanggapi pembelaan dari penasihat hukum. Dalam tanggapannya, jaksa ternyata tetap para prinsipnya. ”Kita tetap pada tuntutan,” jawab Robi kepada Ketua Majelis Hakim Khamozaro Waruwu.

Usai meminta tanggapan JPU, hakim juga memberikan kesempatan yang sama kepada terdakwa melalui penasehat hukumnya. Ternyata, mereka juga tetap dengan pembelaannya. ”Kita tetap dalam pembelaan yang mulia,” jawab ketua tim penasihat hukum Yunus, Mohammad Sugiono.

Setelah keduanya tetap dalam pendiriannya masing-masing, Khamozaro menskors jalannya sidang selama 10 menit untuk berunding. Para hakim meminta waktu untuk memutuskan proses sidang dilanjutkan dengan agenda putusan atau tidak.

Setelah 10 menit, proses sidang yang kembali digelar langsung dengan agenda putusan. Hakim secara bergantian membacakan amar putusan dengan nomor perkara 98/Pid.sus/2021/PN Byw. Dalam amar putusan itu, Khamozaro membeberkan beberapa pertimbangan yang memberatkan maupun meringankan.

Terdakwa Yunus dinyatakan bersalah melanggar pasal 14 ayat 1 UU RI Nomor 1 Tahun 1946 tentang hukum pidana dengan pasal UU Nomor 8 Tahun 1981 tentang masalah hukum pidana dan peraturan terkait aturan perundang-udangan. ”Dengan mengadili bahwa Yunus dijatuhi hukuman tiga tahun dengan dikurangi masa hukuman penjara yang pernah dijalaninya,” terang Khamazaro.

Khamazaro membeberkan, pertimbangan yang memberatkan adalah terdakwa telah melakukan penyerangan terhadap jaksa. Selain itu, terdakwa juga sering berteriak dalam proses persidangan. ”Terdakwa tidak pernah menghargai majelis hakim, bahkan membenarkan dan tidak pernah melakukan klarifikasi terkait beredarnya video bahwa Covid-19 di Banyuwangi tidak ada,” katanya.

Pertimbangan yang meringankan, terdakwa merupakan tulang punggung keluarga. Sehingga, hakim memutuskan hukuman tiga tahun penjara. ”Putusan tersebut cukup ringan dari tuntutan jaksa empat tahun penjara. Bahkan, pihaknya juga memberikan kesempatan kepada terdakwa untuk melakukan upaya hukum lainnya,” ungkapnya.

Sebelumnya Yunus Wahyudi dituntut empat tahun penjara, Kamis (5/8).  Pria yang dijuluki aktivis antimasker itu diduga telah menyebarkan berita bohong atau hoaks bahwa di Banyuwangi tidak ada Covid-19. (rio/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/