alexametrics
28.1 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Air Belum Normal, Warga Mandi di Selokan

Beberapa desa yang terdampak kesulitan air bersih setelah banjir bandang akhirnya berangsur-angsur normal. Di Desa Bulusari, Kelurahan Kalipuro dan Desa Grogol, air yang mengalir ke rumah warga mulai lancar sejak malam Minggu (18/3).

        Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, masih ada beberapa warga yang kesulitan air bersih. Salah satunya di Perum Puri 1 Kelir, Dusun Pekarangan, Desa Kelir. Sejak Kamis lalu (15/3), air ledeng mereka tidak mengalir sama sekali.

        Karena tidak ada pilihan lain, sebagian besar warga, terutama kaum  ibu memilih untuk memenuhi kebutuhan air selokan yang berada di selatan perumahan.  Sejak pagi hari mereka terlihat berbondong-bondong menuju selokan kecil tersebut.

        Sebagian bahkan memandikan anak-anaknya secara bergantian. Padahal air di dalam selokan sendiri terlihat berwarna kecoklatan. ”Warga akhirnya menggunakan selokan untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan minum. Sehari bisa dua tiga kali,” ujar Sumiyati, salah seorang warga perumahan.

        Selain di selokan, terkadang warga juga berjalan jauh ke barat menuju daerah Dusun Kopenbayah. Di sana lebih ramai lagi karena airnya jauh lebih besar daripada di selokan.

        ”Kita belum tahu sampai kapan, tapi ada yang bilang sampai lima hari. Berarti seharusnya hari ini atau besok sudah lancar, Sempat air mengalir kecil pada Minggu pagi, namun hanya sebentar kemudian mati lagi,” ujar mantan penari kuntulan itu.

        Kepala Desa Grogol Khoirul Nasihin menambahkan, air di desanya sempat tidak mengalir sama sekali pascabanjir. Tapi sejak Minggu, perlahan-lahan air kembali normal setelah pihak Hippam melakukan perbaikan ke beberapa lokasi pipa air yang rusak tersapu banjir.

        ”Hari ini (kemarin) sudah mulai normal. Ada beberapa yang masih cokelat airnya tapi perlahan normal, kita langsung upayakan kemarin supaya pipa segera diperbaiki,” ujar kades berusia muda itu.

        Di Desa Bulusari kondisi yang sama pun terjadi. Air bersih sempat tidak mengalir selama empat hari. Kades Bulusari Sugiono mengatakan,  sebenarnya kondisi air kotor dan macet sudah sering terjadi sejak akhir tahun 2017 lalu.         Masyarakat sekitar berasumsi jika keberadaan ladang bawang putihlah yang menjadi penyebabnya. Sehingga sumber mata air dan saluran air warga menjadi terganggu. ”Kita punya dua sumber jaringan air untuk warga. Yang satu di Petemon, yang satu di Kerek-Kerek,” kata Khoirul.

        Nah, yang berlokasi di Petemon inilah yang paling sering kena dampak setelah adanya ladang bawang putih. ”Kita sampai sempat hearing ke DPRD. Dampaknya dari akhir tahun, sekitar 463 KK selalu memperoleh air kotor,” terang Sugiono.

        Yang paling parah terjadi setelah banjir kemarin, jaringan utama dari Hippam di sumber Petemon hanyut terbawa air banjir. Sehingga, sekitar 800 kepala keluarga harus merasakan putusnya saluran air bersih.

        ”Kalau yang mata air Petemon ini paling sering rusak. Sedikit ada banjir saja putus, karena memang hanya menggunakan paralon. Ini sudah diperbaiki Hippam, tapi kalau banjir lagi pasti rusak lagi. Warga Dusun Krajan dan sebagian Dusun Bulupayung yang paling sering terkena dampaknya,” jelasnya.

        Terkait kondisi pascabanjir yang menimpa sebagian besar wilayahnya, Camat Kalipuro Anacleto Da Silva mengatakan, sementara ini penanganan masih dilakukan secara swadaya oleh masing-masing desa. Bahkan beberapa perusahaan yang ada di sekitar wilayah bencana seperti PT GMM dan PT Lundin ikut membantu rekonsiliasi pascabanjir.

        ”Untung ada PT GMM di Kelir, mereka mau membantu menurunkan alat berat. Kemarin PT Lundin juga ikut menyiapkan kayu untuk membangun rumah warga Sukowidi yang rusak, masyarakat semua bergerak sendiri, termasuk untuk memperbaiki pipa,” ujar alumni STPDN tahun 1997 itu.

        Selain putusnya saluran air bersih di beberapa desa, ada dua kerusakan yang menjadi perhatian serius. Yaitu jalan penghubung Dusun Banjarwaru dan Dusun Krajan di Desa Kelir, dan jalan penghubung Dusun Lerek, Desa Gombengsari dengan wilayah Sumber Pakem.         Dia mengatakan, dua titik lokasi itu perlu penanganan khusus karena menjadi akses penghubung. ”Kita sudah laporkan ke PU dan BPBD. Sementara kita menunggu saja untuk langkah selanjutnya.” tegas adik dari Eurico Guterrez itu

Beberapa desa yang terdampak kesulitan air bersih setelah banjir bandang akhirnya berangsur-angsur normal. Di Desa Bulusari, Kelurahan Kalipuro dan Desa Grogol, air yang mengalir ke rumah warga mulai lancar sejak malam Minggu (18/3).

        Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, masih ada beberapa warga yang kesulitan air bersih. Salah satunya di Perum Puri 1 Kelir, Dusun Pekarangan, Desa Kelir. Sejak Kamis lalu (15/3), air ledeng mereka tidak mengalir sama sekali.

        Karena tidak ada pilihan lain, sebagian besar warga, terutama kaum  ibu memilih untuk memenuhi kebutuhan air selokan yang berada di selatan perumahan.  Sejak pagi hari mereka terlihat berbondong-bondong menuju selokan kecil tersebut.

        Sebagian bahkan memandikan anak-anaknya secara bergantian. Padahal air di dalam selokan sendiri terlihat berwarna kecoklatan. ”Warga akhirnya menggunakan selokan untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan minum. Sehari bisa dua tiga kali,” ujar Sumiyati, salah seorang warga perumahan.

        Selain di selokan, terkadang warga juga berjalan jauh ke barat menuju daerah Dusun Kopenbayah. Di sana lebih ramai lagi karena airnya jauh lebih besar daripada di selokan.

        ”Kita belum tahu sampai kapan, tapi ada yang bilang sampai lima hari. Berarti seharusnya hari ini atau besok sudah lancar, Sempat air mengalir kecil pada Minggu pagi, namun hanya sebentar kemudian mati lagi,” ujar mantan penari kuntulan itu.

        Kepala Desa Grogol Khoirul Nasihin menambahkan, air di desanya sempat tidak mengalir sama sekali pascabanjir. Tapi sejak Minggu, perlahan-lahan air kembali normal setelah pihak Hippam melakukan perbaikan ke beberapa lokasi pipa air yang rusak tersapu banjir.

        ”Hari ini (kemarin) sudah mulai normal. Ada beberapa yang masih cokelat airnya tapi perlahan normal, kita langsung upayakan kemarin supaya pipa segera diperbaiki,” ujar kades berusia muda itu.

        Di Desa Bulusari kondisi yang sama pun terjadi. Air bersih sempat tidak mengalir selama empat hari. Kades Bulusari Sugiono mengatakan,  sebenarnya kondisi air kotor dan macet sudah sering terjadi sejak akhir tahun 2017 lalu.         Masyarakat sekitar berasumsi jika keberadaan ladang bawang putihlah yang menjadi penyebabnya. Sehingga sumber mata air dan saluran air warga menjadi terganggu. ”Kita punya dua sumber jaringan air untuk warga. Yang satu di Petemon, yang satu di Kerek-Kerek,” kata Khoirul.

        Nah, yang berlokasi di Petemon inilah yang paling sering kena dampak setelah adanya ladang bawang putih. ”Kita sampai sempat hearing ke DPRD. Dampaknya dari akhir tahun, sekitar 463 KK selalu memperoleh air kotor,” terang Sugiono.

        Yang paling parah terjadi setelah banjir kemarin, jaringan utama dari Hippam di sumber Petemon hanyut terbawa air banjir. Sehingga, sekitar 800 kepala keluarga harus merasakan putusnya saluran air bersih.

        ”Kalau yang mata air Petemon ini paling sering rusak. Sedikit ada banjir saja putus, karena memang hanya menggunakan paralon. Ini sudah diperbaiki Hippam, tapi kalau banjir lagi pasti rusak lagi. Warga Dusun Krajan dan sebagian Dusun Bulupayung yang paling sering terkena dampaknya,” jelasnya.

        Terkait kondisi pascabanjir yang menimpa sebagian besar wilayahnya, Camat Kalipuro Anacleto Da Silva mengatakan, sementara ini penanganan masih dilakukan secara swadaya oleh masing-masing desa. Bahkan beberapa perusahaan yang ada di sekitar wilayah bencana seperti PT GMM dan PT Lundin ikut membantu rekonsiliasi pascabanjir.

        ”Untung ada PT GMM di Kelir, mereka mau membantu menurunkan alat berat. Kemarin PT Lundin juga ikut menyiapkan kayu untuk membangun rumah warga Sukowidi yang rusak, masyarakat semua bergerak sendiri, termasuk untuk memperbaiki pipa,” ujar alumni STPDN tahun 1997 itu.

        Selain putusnya saluran air bersih di beberapa desa, ada dua kerusakan yang menjadi perhatian serius. Yaitu jalan penghubung Dusun Banjarwaru dan Dusun Krajan di Desa Kelir, dan jalan penghubung Dusun Lerek, Desa Gombengsari dengan wilayah Sumber Pakem.         Dia mengatakan, dua titik lokasi itu perlu penanganan khusus karena menjadi akses penghubung. ”Kita sudah laporkan ke PU dan BPBD. Sementara kita menunggu saja untuk langkah selanjutnya.” tegas adik dari Eurico Guterrez itu

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/