alexametrics
24.1 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Sucikan Diri, Bakar Ogoh-Ogoh

JawaPos.com – Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940 diperingati masyarakat beragama Hindu, kemarin ( 17/3). Menyambut hari suci itu, belasan ogoh-ogoh diarak dalam parade untuk memeriahkan malam pangerupukan Nyepi.

Ritual ini dilakukan oleh umat Hindu di Dusun Amerthasari dan Dusun Patoman, Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari, Jumat malam (16/3).

Mereka memulai perayaan ogoh-ogoh dari pura dalam dusun setempat. Pawai ogoh-ogoh tersebut dimulai pukul 19.00. Ada sedikitnya sebelas ogoh-ogoh yang diarak keliling kampung.

Ni Wayan Devi Setiyawati, 33, salah seorang umat Hindu setempat mengaku jika pawai ogoh-ogoh tahun ini diadakan lebih semarak dengan penampilan kostum BEC. Hal itu dilakukan, untuk memberikan hiburan masyarakat dan sejumlah penonton yang datang. ”Kalau hanya barisan ogoh-ogoh warga penonton mungkin sudah biasa,” katanya.

Penampilan puluhan warga berkostum Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) menambah semarak kegiatan pawai tersebut. Yang menarik, meski diselenggarakan malam hari, pawai ogoh-ogoh tersebut terlihat istimewa dengan tambahan sinar lampu yang berwarna-warni.

Seluruh umat Hindu mulai orang tua, pemuda, hingga anak-anak larut dalam kegembiraan selama pelaksanaan pawai ogoh-ogoh. Sambil berjalan di sepanjang rute, mereka terus bersorak sorai.

Ogoh-ogoh dalam berbagai bentuk dan ukuran menyerupai Buta Kala atau makhluk mitologis Bali yang diarak keliling kampung. Ogoh-ogoh yang merupakan simbol yang mewakili roh jahat.

Setelah diarak keliling kampung, ogoh-ogoh kembali dibawa ke Pura Dalam untuk dibakar sebagai simbol pemurnian diri. ”Dengan membakar ogoh-ogoh, umat Hindu telah siap memperingati Nyepi dalam keadaan suci,” ujar Ketut Wirathe, 35, umat Hindu asal Dusun Amerthasari, Desa Watukebo.

Di hari Nyepi dan kesunyian itu, lanjut Ketut, umat diharapkan untuk diam dan melakukan refleksi diri. Orang-orang tinggal di rumah dan tidak diizinkan untuk menggunakan lampu, menyalakan api, bekerja, bepergian, atau menikmati hiburan.

Tak pelak, untuk bisa menyaksikan pawai ogoh-ogoh itu warga harus berdesak-desakan. Maklum, sejak pukul 18.00 arus lalu lintas yang menjadi rute pawai telah ditutup oleh polisi dan panitia. Kegiatan ogoh-ogoh yang digelar di sepanjang jalan raya dusun setempat dipadati ribuan penonton yang sudah berjubel sejak sore hari.

”Kalau datang telat bisa terjebak macet dan tidak bisa nonton. Tahun lalu tidak ada barisan BEC, tahun ini lebih variatif dan menarik. Lebih meriah,” ujar Willy Ahda, 33, salah seorang penonton warga Desa Kedayunan, Kecamatan Kabat.

Tidak hanya di Dusun Amerthasari, kemeriahan yang sama juga terjadi di Dusun Patoman, Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari. Sedikitnya ada delapan ogoh-ogoh yang juga diarak keliling kampung setempat. Tak pelak, arus lalu lintas Blimbingsari menuju Bomo macet dan tersendat dengan adanya kirab pawai ogoh-ogoh tersebut.

JawaPos.com – Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940 diperingati masyarakat beragama Hindu, kemarin ( 17/3). Menyambut hari suci itu, belasan ogoh-ogoh diarak dalam parade untuk memeriahkan malam pangerupukan Nyepi.

Ritual ini dilakukan oleh umat Hindu di Dusun Amerthasari dan Dusun Patoman, Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari, Jumat malam (16/3).

Mereka memulai perayaan ogoh-ogoh dari pura dalam dusun setempat. Pawai ogoh-ogoh tersebut dimulai pukul 19.00. Ada sedikitnya sebelas ogoh-ogoh yang diarak keliling kampung.

Ni Wayan Devi Setiyawati, 33, salah seorang umat Hindu setempat mengaku jika pawai ogoh-ogoh tahun ini diadakan lebih semarak dengan penampilan kostum BEC. Hal itu dilakukan, untuk memberikan hiburan masyarakat dan sejumlah penonton yang datang. ”Kalau hanya barisan ogoh-ogoh warga penonton mungkin sudah biasa,” katanya.

Penampilan puluhan warga berkostum Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) menambah semarak kegiatan pawai tersebut. Yang menarik, meski diselenggarakan malam hari, pawai ogoh-ogoh tersebut terlihat istimewa dengan tambahan sinar lampu yang berwarna-warni.

Seluruh umat Hindu mulai orang tua, pemuda, hingga anak-anak larut dalam kegembiraan selama pelaksanaan pawai ogoh-ogoh. Sambil berjalan di sepanjang rute, mereka terus bersorak sorai.

Ogoh-ogoh dalam berbagai bentuk dan ukuran menyerupai Buta Kala atau makhluk mitologis Bali yang diarak keliling kampung. Ogoh-ogoh yang merupakan simbol yang mewakili roh jahat.

Setelah diarak keliling kampung, ogoh-ogoh kembali dibawa ke Pura Dalam untuk dibakar sebagai simbol pemurnian diri. ”Dengan membakar ogoh-ogoh, umat Hindu telah siap memperingati Nyepi dalam keadaan suci,” ujar Ketut Wirathe, 35, umat Hindu asal Dusun Amerthasari, Desa Watukebo.

Di hari Nyepi dan kesunyian itu, lanjut Ketut, umat diharapkan untuk diam dan melakukan refleksi diri. Orang-orang tinggal di rumah dan tidak diizinkan untuk menggunakan lampu, menyalakan api, bekerja, bepergian, atau menikmati hiburan.

Tak pelak, untuk bisa menyaksikan pawai ogoh-ogoh itu warga harus berdesak-desakan. Maklum, sejak pukul 18.00 arus lalu lintas yang menjadi rute pawai telah ditutup oleh polisi dan panitia. Kegiatan ogoh-ogoh yang digelar di sepanjang jalan raya dusun setempat dipadati ribuan penonton yang sudah berjubel sejak sore hari.

”Kalau datang telat bisa terjebak macet dan tidak bisa nonton. Tahun lalu tidak ada barisan BEC, tahun ini lebih variatif dan menarik. Lebih meriah,” ujar Willy Ahda, 33, salah seorang penonton warga Desa Kedayunan, Kecamatan Kabat.

Tidak hanya di Dusun Amerthasari, kemeriahan yang sama juga terjadi di Dusun Patoman, Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari. Sedikitnya ada delapan ogoh-ogoh yang juga diarak keliling kampung setempat. Tak pelak, arus lalu lintas Blimbingsari menuju Bomo macet dan tersendat dengan adanya kirab pawai ogoh-ogoh tersebut.

Artikel Terkait

Most Read

Polair Kerahkan 4 Kapal Patroli

SIM Sekarang Bisa Diperpanjang Online Broo

Artikel Terbaru

/