alexametrics
27.6 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Empat Desa masih Kesulitan Air

KALIPURO – Bencana banjir bandang yang terjadi Kamis lalu (15/3) benar-benar membuat warga kalang kabut. Hingga kemarin (18/3) tiga dusun di Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro dan beberapa desa sekitar masih mengalami kesulitan air bersih. Banjir yang menerjang desa pada Kamis (15/3) lalu mengakibatkan sebagian besar pipa air milik Hippam terputus dan hilang.

Selain Desa Kelir, beberapa dusun di Desa Pesucen, Desa Grogol, dan Telemung juga me­ngalami krisis air bersih. Pipa Hip­pam yang dipasang di pinggir sungai hanyut terbawa banjir. Dua ekor sapi beserta kandangnya di Dusun Ubret Duren, Desa Pesu­cen hanyut.

Selain itu, dua mata air di Dusun Angkrik, Desa Pesucen tak bisa digunakan karena tertutup lumpur. Parahnya lagi, puluhan hektare sawah di Dusun Bangunrejo, Pe­su­cen terendam lumpur dan di­pastikan gagal panen. ”Tanaman padi baru selesai saya semprot dan pupuk. Sore hari (Kamis 15/3) dihantam banjir,’’ ujar Nasron, 50, warga Bangunrejo.

Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi di lapangan, peme­rintah Desa Kelir bersama Hippam be­rusaha membenahi saluran air sejak Sabtu (17/3) siang. Karena keterbatasan tenaga dan peralatan, mereka belum bisa menjangkau seluruh wilayah yang ada. Padahal warga sangat mengandalkan air bersih yang berasal dari sumber mata air yang berada di bawah Desa Telemung itu.

Kepala Desa Kelir Lufti Zuwaini mengatakan, pihaknya saat ini masih berkonsentrasi membenahi jembatan yang menghubungkan Dusun Krajan dan Dusun Banjar­waru. Dampak banjir besar kemarin, selain aspal rusak, tempat pembuangan sampah yang ada di dekat lokasi juga berantakan.

“Kita dibantu dua alat berat dari pabrik aspal untuk membersihkan sisa lumpur dan bagian jalan yang rusak. Satu buldoser dan satu traktor. Hari ini tinggal menata saja supaya jalan bisa dilewati lagi, karena jalur ini cukup penting” terang Lutfi.

Terkait dampak banjir, masih ada tiga dusun yang terputus sa­luran air bersihnya.Yaitu Dusun Kopenbayah, Dusun Pekarangan, dan Dusun Krajan bagian atas. Dia mengaku sudah meminta petugas Hippam melakukan per­baikan di beberapa titik, tapi masih butuh waktu untuk bisa memper­baiki saluran-saluran air yang terputus seluruhnya.

“Banjir seperti ini rutin sebe­narnya tapi tidak sampai seperti ini. Sebelumnya paling parah ha­nya menggenang saja, kalau ini sudah sampai membawa ma­terial. Ditambah lagi saluran airnya mampet satu,” terangnya.

Salah satu warga Dusun Peka­rangan, Ana, 25, mengatakan, air di tempatnya mati sejak pe­ris­tiwa banjir bandang pada hari kamis. Dan baru pada Minggu pagi air mulai sedikit mengalir. Itu­pun masih berbentuk keruh ka­rena bercampur lumpur. “Sejak Kamis saya menumpang ke kantor suami untuk kebutuhan mandi dan lainya, ini sudah mulai me­ngalir tapi keruh,” imbuhnya.

Warga lainya dari Kelurahan Kalipuri, Andi merasakan kondisi serupa. Air di tempatnya mati sejak banjir berlangsung. “Tadi siang beberapa warga melakukan pemeriksaan ke sumber mata air yang ada di Kelurahan Gombeng­sari. Pipanya putus ternyata terbawa banjir,” terangnya.

Sementara itu, Kasi Pemerintahan dan Trantib Kecamatan kalipuro Budi menambahkan, jika di wilayah Desa Bulusari juga menga­lami hal yang sama dengan yang terjadi di Desa Kelir. Bahkan posisi saluran air di desa yang berbatasan dengan kecamatan Licin dan Glagah. “Jauh lebih sulit dijangkau. Kemarin laporan dari kepala desanya begitu. Saluran air bersih mereka terputus. Kita masih me­nunggu laporan selanjutnya, kami juga masih menunggu kordinasi” tandasnya.

Seperti diberitakan, hujan deras yang mengguyur wilayah Licin, Glagah, dan Kalipuro Kamis lalu (15/3) membuat masyarakat panik. Dampaknya, sebagian air sungai meluap. Warga yang tinggal di bantaran sungai juga waswas. Sedikitnya 30 rumah di daerah Lateng terendam dan dua rumah roboh. Lumpur pekat berwarna cokelat juga masuk ke rumah warga.

Banjir juga merusak plengsengan sungai. Puluhan lonjor pipa Hippam untuk pasokan air air menuju Desa Kelir juga hilang. Dugaan sementara, pemicu banjir tersebut akibat gundulnya hutan di daerah Licin. Sebagian lahan penyangga kini ditanami bawang putih. (*)

KALIPURO – Bencana banjir bandang yang terjadi Kamis lalu (15/3) benar-benar membuat warga kalang kabut. Hingga kemarin (18/3) tiga dusun di Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro dan beberapa desa sekitar masih mengalami kesulitan air bersih. Banjir yang menerjang desa pada Kamis (15/3) lalu mengakibatkan sebagian besar pipa air milik Hippam terputus dan hilang.

Selain Desa Kelir, beberapa dusun di Desa Pesucen, Desa Grogol, dan Telemung juga me­ngalami krisis air bersih. Pipa Hip­pam yang dipasang di pinggir sungai hanyut terbawa banjir. Dua ekor sapi beserta kandangnya di Dusun Ubret Duren, Desa Pesu­cen hanyut.

Selain itu, dua mata air di Dusun Angkrik, Desa Pesucen tak bisa digunakan karena tertutup lumpur. Parahnya lagi, puluhan hektare sawah di Dusun Bangunrejo, Pe­su­cen terendam lumpur dan di­pastikan gagal panen. ”Tanaman padi baru selesai saya semprot dan pupuk. Sore hari (Kamis 15/3) dihantam banjir,’’ ujar Nasron, 50, warga Bangunrejo.

Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi di lapangan, peme­rintah Desa Kelir bersama Hippam be­rusaha membenahi saluran air sejak Sabtu (17/3) siang. Karena keterbatasan tenaga dan peralatan, mereka belum bisa menjangkau seluruh wilayah yang ada. Padahal warga sangat mengandalkan air bersih yang berasal dari sumber mata air yang berada di bawah Desa Telemung itu.

Kepala Desa Kelir Lufti Zuwaini mengatakan, pihaknya saat ini masih berkonsentrasi membenahi jembatan yang menghubungkan Dusun Krajan dan Dusun Banjar­waru. Dampak banjir besar kemarin, selain aspal rusak, tempat pembuangan sampah yang ada di dekat lokasi juga berantakan.

“Kita dibantu dua alat berat dari pabrik aspal untuk membersihkan sisa lumpur dan bagian jalan yang rusak. Satu buldoser dan satu traktor. Hari ini tinggal menata saja supaya jalan bisa dilewati lagi, karena jalur ini cukup penting” terang Lutfi.

Terkait dampak banjir, masih ada tiga dusun yang terputus sa­luran air bersihnya.Yaitu Dusun Kopenbayah, Dusun Pekarangan, dan Dusun Krajan bagian atas. Dia mengaku sudah meminta petugas Hippam melakukan per­baikan di beberapa titik, tapi masih butuh waktu untuk bisa memper­baiki saluran-saluran air yang terputus seluruhnya.

“Banjir seperti ini rutin sebe­narnya tapi tidak sampai seperti ini. Sebelumnya paling parah ha­nya menggenang saja, kalau ini sudah sampai membawa ma­terial. Ditambah lagi saluran airnya mampet satu,” terangnya.

Salah satu warga Dusun Peka­rangan, Ana, 25, mengatakan, air di tempatnya mati sejak pe­ris­tiwa banjir bandang pada hari kamis. Dan baru pada Minggu pagi air mulai sedikit mengalir. Itu­pun masih berbentuk keruh ka­rena bercampur lumpur. “Sejak Kamis saya menumpang ke kantor suami untuk kebutuhan mandi dan lainya, ini sudah mulai me­ngalir tapi keruh,” imbuhnya.

Warga lainya dari Kelurahan Kalipuri, Andi merasakan kondisi serupa. Air di tempatnya mati sejak banjir berlangsung. “Tadi siang beberapa warga melakukan pemeriksaan ke sumber mata air yang ada di Kelurahan Gombeng­sari. Pipanya putus ternyata terbawa banjir,” terangnya.

Sementara itu, Kasi Pemerintahan dan Trantib Kecamatan kalipuro Budi menambahkan, jika di wilayah Desa Bulusari juga menga­lami hal yang sama dengan yang terjadi di Desa Kelir. Bahkan posisi saluran air di desa yang berbatasan dengan kecamatan Licin dan Glagah. “Jauh lebih sulit dijangkau. Kemarin laporan dari kepala desanya begitu. Saluran air bersih mereka terputus. Kita masih me­nunggu laporan selanjutnya, kami juga masih menunggu kordinasi” tandasnya.

Seperti diberitakan, hujan deras yang mengguyur wilayah Licin, Glagah, dan Kalipuro Kamis lalu (15/3) membuat masyarakat panik. Dampaknya, sebagian air sungai meluap. Warga yang tinggal di bantaran sungai juga waswas. Sedikitnya 30 rumah di daerah Lateng terendam dan dua rumah roboh. Lumpur pekat berwarna cokelat juga masuk ke rumah warga.

Banjir juga merusak plengsengan sungai. Puluhan lonjor pipa Hippam untuk pasokan air air menuju Desa Kelir juga hilang. Dugaan sementara, pemicu banjir tersebut akibat gundulnya hutan di daerah Licin. Sebagian lahan penyangga kini ditanami bawang putih. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/