alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Tonggak Trianggulasi Jadi Bak Mandi

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Tonggak ketiga Trianggulasi peninggalan Belanda yang sempat dicari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banyuwangi akhirnya ditemukan. Setelah sepekan lebih dicari, tonggak tersebut ditemukan di tengah permukiman warga.

Sayangnya, ketika ditemukan, kondisi tonggak tersebut sudah tak berbentuk. Anggota TACB Banyuwangi Ilham Triadi mengatakan, posisi tonggak tersebut berada di rumah warga tak jauh dari Kantor Kelurahan Kepatihan. Ilham mengatakan, struktur tonggak sudah dialihfungsikan dan ditutup menjadi bak mandi.

Dari penuturan salah seorang warga, yaitu Rokso Trunojoyo, 60, dulunya sempat ada sebuah tugu berbentuk segi enam di bagian bawah dan segitiga di bagian atas dengan tinggi sekitar 70 sentimeter. Saat itu, tonggak tersebut sempat dikira sebagai tugu batas laut dan daratan. Kemudian tahun 1998, rumah itu berpindah kepemilikan dari Zabar kepada Ribut.

Mulai saat itulah tidak diketahui nasib tugu bersejarah tersebut sampai akhirnya diketahui jika bangunan tersebut sudah berubah fungsi. ”Kita kumpulkan keterangan dari 15 saksi. Sejak tanggal 12–16 Juni kita melakukan pencarian dibantu staf Kelurahan Kepatihan. Sampai akhirnya menemukan tonggak yang dimaksud,” jelasnya.

Dari keterangan para saksi, TACB pun meyakini jika tonggak yang ada di Kelurahan Kepatihan adalah tonggak ketiga selain yang berada di Desa Paspan dan Kelurahan Banjarsari. Tonggak yang diperkirakan dibuat pada tahun 1873 itu memiliki fungsi sebagai titik pemetaan wilayah di era pemerintahan kolonial Belanda.

TACB sendiri awalnya sempat berniat menjadikan tonggak Trianggulasi sebagai salah satu objek kajian Pemerintah Kabupaten agar bisa menjadi bagian dari wisata sejarah era kolonial. ”Yang tersisa hanya reruntuhan struktur bata dan lapisan luluhnya. Bentuknya sama dengan yang ada di Kelurahan Banjarsari,” tandasnya. (*)

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Tonggak ketiga Trianggulasi peninggalan Belanda yang sempat dicari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banyuwangi akhirnya ditemukan. Setelah sepekan lebih dicari, tonggak tersebut ditemukan di tengah permukiman warga.

Sayangnya, ketika ditemukan, kondisi tonggak tersebut sudah tak berbentuk. Anggota TACB Banyuwangi Ilham Triadi mengatakan, posisi tonggak tersebut berada di rumah warga tak jauh dari Kantor Kelurahan Kepatihan. Ilham mengatakan, struktur tonggak sudah dialihfungsikan dan ditutup menjadi bak mandi.

Dari penuturan salah seorang warga, yaitu Rokso Trunojoyo, 60, dulunya sempat ada sebuah tugu berbentuk segi enam di bagian bawah dan segitiga di bagian atas dengan tinggi sekitar 70 sentimeter. Saat itu, tonggak tersebut sempat dikira sebagai tugu batas laut dan daratan. Kemudian tahun 1998, rumah itu berpindah kepemilikan dari Zabar kepada Ribut.

Mulai saat itulah tidak diketahui nasib tugu bersejarah tersebut sampai akhirnya diketahui jika bangunan tersebut sudah berubah fungsi. ”Kita kumpulkan keterangan dari 15 saksi. Sejak tanggal 12–16 Juni kita melakukan pencarian dibantu staf Kelurahan Kepatihan. Sampai akhirnya menemukan tonggak yang dimaksud,” jelasnya.

Dari keterangan para saksi, TACB pun meyakini jika tonggak yang ada di Kelurahan Kepatihan adalah tonggak ketiga selain yang berada di Desa Paspan dan Kelurahan Banjarsari. Tonggak yang diperkirakan dibuat pada tahun 1873 itu memiliki fungsi sebagai titik pemetaan wilayah di era pemerintahan kolonial Belanda.

TACB sendiri awalnya sempat berniat menjadikan tonggak Trianggulasi sebagai salah satu objek kajian Pemerintah Kabupaten agar bisa menjadi bagian dari wisata sejarah era kolonial. ”Yang tersisa hanya reruntuhan struktur bata dan lapisan luluhnya. Bentuknya sama dengan yang ada di Kelurahan Banjarsari,” tandasnya. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/