alexametrics
28.7 C
Banyuwangi
Thursday, June 30, 2022

Baru Kulakan dari Surabaya, Seluruh Dagangan Jadi Arang

WONGSOREJO, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Peristiwa kebakaran yang melanda Pasar Galekan yang berlokasi di Desa Bajulmati, Kecamatan Wongsorejo meninggalkan duka mendalam bagi para pedagang dan keluarganya. Lapak tempat berjualan berikut dagangannya ludes dilalap si jago merah, Sabtu dini hari (15/1).

Amaliyah terperanjat dari tidurnya tatkala dibangunkan oleh tetangganya yang mengabarkan jika pasar desa di Dusun Galekan terbakar.  Seketika itu juga, dia bergegas mengambil kunci toko, lalu tancap gas menuju pasar yang jaraknya 3 Km dari rumahnya di Desa Sidodadi, Kecamatan Wongsorejo.

Perjalanan menuju pasar tak begitu mulus. Sebab, jaringan listrik di kawasan tersebut padam.  Sepanjang perjalanan gelap gulita hanya dibantu  sinar lampu mobil. Begitu sampai di Pasar Galekan, Amaliyah kaget bukan kepalang. Api sudah membumbung ke langit. Hatinya kian cemas, pikirannya makin kacau melihat api yang terus membara.

Begitu sampai di depan tokonya, dengan tergesa-gesa Amaliyah membuka pintu meski  dengan penerangan senter dari ponsel seadanya. Begitu berhasil masuk ke dalam toko, seluruh pakaian konveksi yang sehari-hari menjadi dagangannya langsung dikeluarkan, lalu dimasukkan ke dalam mobil.

Amaliyah seolah ”berlomba” dengan si jago merah yang membakar kios pedagang. Amaliyah bersama para karyawan langsung mengeluarkan dan memindahkan seluruh dagangan yang bisa diselamatkan.

Tak hanya mobil miliknya, ada juga mobil pikap pedagang ikan yang ikut membantu mengangkut seluruh dagangannya. “Alhamdulillah dagangan saya sebagian masih selamat dan saya pindahkan ke rumah walaupun ada satu lokasi kios yang berada di dalam pasar miliknya ludes terbakar,” ungkap Amaliyah yang sore kemarin (16/1) melihat lokasi los pasar miliknya yang hangus.

Amaliyah mengaku sudah berjualan di Pasar Galekan sejak tahun 1992. Dia meneruskan berjualan di pasar tersebut yang dirintis oleh ayahnya H. Ali Makki. “Kalau ayah saya sudah berjualan di pasar ini sejak tahun 1973. Sejak tahun 1992 saya yang meneruskan setelah menikah,” ujar ibu dua anak ini.

Toko yang ludes terbakar di los dalam pasar, kata dia,  sebagain besar masih milik keluarga dan kerabatnya. Sediktinya ada 15 keluarga dan kerbatnya yang semuanya berasal dari Desa Sidodadi menggantungkan hidupnya di pasar desa  tersebut. Semuanya ludes terbakar, tak tersisa sedikitpun. “Dagangan milik saya yang bisa diselamatkan  lokasinya di tepi jalan, persis di bawah kantor pasar. Kalau toko yang di dalam pasar ludes semua,” katanya.

Amaliyah masih bersyukur sebagian barang dagangannya bisa diselamatkan. Karena banyak dari saudara dan kerabatanya yang mengalami musibah lebih parah. Seperti yang dialami Raudah, salah seorang pedagang yang kiosnya habis terbakar.

Raudah baru saja belanja di Surabaya dengan uang  tabungan yang dikumpulkan hanya demi untuk belanja memenuhi toko miliknya. “Pedagang pasar  sudah  banyak yang kulakan (belanja dalam jumlah besar) karena mendekati Ramadan dan Lebaran,” katanya.

Tidak hanya Raudah, nasib serupa dialami  Eva, 40, pedagang konveksi dan make up yang lokasinya juga di los dalam pasar. “Pada hari Senin, toko milik Bu Eva baru diiisi barang-barang dari hasil kulakan. Sabtu sudah ludes terbakar,” cetusnya.

Nasib itu juga dialami Nur Anisa, warga Dusun Galekan Desa Bajulmati. Ibu muda berusia 38 tahun ini hanya bisa pasrah ketika los tempatnya berjualan di lalap si jago merah. Padahal lokasi rumahnya hanya berjarak 100 meter dari lokasi Pasar Galekan. “Ketika saya datang sudah nggak bisa masuk, api sudah mengepung semua lokasi pasar,” kenang Nur Anisa.

Ibu dua anak ini mengaku hanya bisa pasrah ketika api mulai membakar pakaian anak-anak yang menjadi dagangannya. Peristiwa kebakaran yang melalap toko bukan kali ini saja. Pada tahun 2008 lalu, dia pernah berjualan di Pasar Wongsorejo dan di tahun itu pula Pasar Wongsorejo terbakar, termasuk toko miliknya.

15 bulan lalu dia mulai merintis usaha dengan membuka toko pakaian anak-anak di Pasar Galekan, agar mobilisasinya lebih dekat dengan tempat tinggalnya. Sayang, modal dagangan belum kembali, Anisa harus tertimpa musibah yang sama. Kios yang menjadi tempat mata pencahariannya kembali dilalap api. “Kalau kerugian kira kira Rp 100 jutaan,” ujarnya dengan nada lemas.

Hal senada juga diungkapkan Holil. Pedagang konveksi pakaian dewasa ini tak bisa masuk ke dalam toko miliknya saat api mulai merembet dan membesar. “Saya mau masuk, tapi mau masuk ternyata api sudah mengepung lapak dagangan saya,” ujar warga Desa Sidodadi, Kecamatan Wongsorejo.

Praktis, karena tidak bisa masuk ke dalam toko dagangannya, Holil memutuskan keluar. Dia hanya bisa pasrah sembari terus berupaya ikut membantu memadamkan api dengan harapan toko miliknya tidak ikut terbakar.

Sayang, api terus membesar. Si Jago merah makin ganas melalap setiap toko yang ada di los dalam pasar galekan. Termasuk toko yang menjadi sentra penghidupannya ikut hangus terbakar. Tak ada barang yang tersisa sedikitpun. “Saya ikhlas dengan musibah ini. Saya berharap segera ada perbaikan di lokasi pasar  agar bisa berjualan lagi,’’ katanya.

Holil berharap setelah dibersihkan dan pasar dibangun kembali, seluruh pedagang kembali menempati lokasinya seperti semula. “Kalau memang ada hibah dana atau pinjaman dengan agunan kami siap, yang penting kami bisa kembali bekerja,” harapnya.

WONGSOREJO, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Peristiwa kebakaran yang melanda Pasar Galekan yang berlokasi di Desa Bajulmati, Kecamatan Wongsorejo meninggalkan duka mendalam bagi para pedagang dan keluarganya. Lapak tempat berjualan berikut dagangannya ludes dilalap si jago merah, Sabtu dini hari (15/1).

Amaliyah terperanjat dari tidurnya tatkala dibangunkan oleh tetangganya yang mengabarkan jika pasar desa di Dusun Galekan terbakar.  Seketika itu juga, dia bergegas mengambil kunci toko, lalu tancap gas menuju pasar yang jaraknya 3 Km dari rumahnya di Desa Sidodadi, Kecamatan Wongsorejo.

Perjalanan menuju pasar tak begitu mulus. Sebab, jaringan listrik di kawasan tersebut padam.  Sepanjang perjalanan gelap gulita hanya dibantu  sinar lampu mobil. Begitu sampai di Pasar Galekan, Amaliyah kaget bukan kepalang. Api sudah membumbung ke langit. Hatinya kian cemas, pikirannya makin kacau melihat api yang terus membara.

Begitu sampai di depan tokonya, dengan tergesa-gesa Amaliyah membuka pintu meski  dengan penerangan senter dari ponsel seadanya. Begitu berhasil masuk ke dalam toko, seluruh pakaian konveksi yang sehari-hari menjadi dagangannya langsung dikeluarkan, lalu dimasukkan ke dalam mobil.

Amaliyah seolah ”berlomba” dengan si jago merah yang membakar kios pedagang. Amaliyah bersama para karyawan langsung mengeluarkan dan memindahkan seluruh dagangan yang bisa diselamatkan.

Tak hanya mobil miliknya, ada juga mobil pikap pedagang ikan yang ikut membantu mengangkut seluruh dagangannya. “Alhamdulillah dagangan saya sebagian masih selamat dan saya pindahkan ke rumah walaupun ada satu lokasi kios yang berada di dalam pasar miliknya ludes terbakar,” ungkap Amaliyah yang sore kemarin (16/1) melihat lokasi los pasar miliknya yang hangus.

Amaliyah mengaku sudah berjualan di Pasar Galekan sejak tahun 1992. Dia meneruskan berjualan di pasar tersebut yang dirintis oleh ayahnya H. Ali Makki. “Kalau ayah saya sudah berjualan di pasar ini sejak tahun 1973. Sejak tahun 1992 saya yang meneruskan setelah menikah,” ujar ibu dua anak ini.

Toko yang ludes terbakar di los dalam pasar, kata dia,  sebagain besar masih milik keluarga dan kerabatnya. Sediktinya ada 15 keluarga dan kerbatnya yang semuanya berasal dari Desa Sidodadi menggantungkan hidupnya di pasar desa  tersebut. Semuanya ludes terbakar, tak tersisa sedikitpun. “Dagangan milik saya yang bisa diselamatkan  lokasinya di tepi jalan, persis di bawah kantor pasar. Kalau toko yang di dalam pasar ludes semua,” katanya.

Amaliyah masih bersyukur sebagian barang dagangannya bisa diselamatkan. Karena banyak dari saudara dan kerabatanya yang mengalami musibah lebih parah. Seperti yang dialami Raudah, salah seorang pedagang yang kiosnya habis terbakar.

Raudah baru saja belanja di Surabaya dengan uang  tabungan yang dikumpulkan hanya demi untuk belanja memenuhi toko miliknya. “Pedagang pasar  sudah  banyak yang kulakan (belanja dalam jumlah besar) karena mendekati Ramadan dan Lebaran,” katanya.

Tidak hanya Raudah, nasib serupa dialami  Eva, 40, pedagang konveksi dan make up yang lokasinya juga di los dalam pasar. “Pada hari Senin, toko milik Bu Eva baru diiisi barang-barang dari hasil kulakan. Sabtu sudah ludes terbakar,” cetusnya.

Nasib itu juga dialami Nur Anisa, warga Dusun Galekan Desa Bajulmati. Ibu muda berusia 38 tahun ini hanya bisa pasrah ketika los tempatnya berjualan di lalap si jago merah. Padahal lokasi rumahnya hanya berjarak 100 meter dari lokasi Pasar Galekan. “Ketika saya datang sudah nggak bisa masuk, api sudah mengepung semua lokasi pasar,” kenang Nur Anisa.

Ibu dua anak ini mengaku hanya bisa pasrah ketika api mulai membakar pakaian anak-anak yang menjadi dagangannya. Peristiwa kebakaran yang melalap toko bukan kali ini saja. Pada tahun 2008 lalu, dia pernah berjualan di Pasar Wongsorejo dan di tahun itu pula Pasar Wongsorejo terbakar, termasuk toko miliknya.

15 bulan lalu dia mulai merintis usaha dengan membuka toko pakaian anak-anak di Pasar Galekan, agar mobilisasinya lebih dekat dengan tempat tinggalnya. Sayang, modal dagangan belum kembali, Anisa harus tertimpa musibah yang sama. Kios yang menjadi tempat mata pencahariannya kembali dilalap api. “Kalau kerugian kira kira Rp 100 jutaan,” ujarnya dengan nada lemas.

Hal senada juga diungkapkan Holil. Pedagang konveksi pakaian dewasa ini tak bisa masuk ke dalam toko miliknya saat api mulai merembet dan membesar. “Saya mau masuk, tapi mau masuk ternyata api sudah mengepung lapak dagangan saya,” ujar warga Desa Sidodadi, Kecamatan Wongsorejo.

Praktis, karena tidak bisa masuk ke dalam toko dagangannya, Holil memutuskan keluar. Dia hanya bisa pasrah sembari terus berupaya ikut membantu memadamkan api dengan harapan toko miliknya tidak ikut terbakar.

Sayang, api terus membesar. Si Jago merah makin ganas melalap setiap toko yang ada di los dalam pasar galekan. Termasuk toko yang menjadi sentra penghidupannya ikut hangus terbakar. Tak ada barang yang tersisa sedikitpun. “Saya ikhlas dengan musibah ini. Saya berharap segera ada perbaikan di lokasi pasar  agar bisa berjualan lagi,’’ katanya.

Holil berharap setelah dibersihkan dan pasar dibangun kembali, seluruh pedagang kembali menempati lokasinya seperti semula. “Kalau memang ada hibah dana atau pinjaman dengan agunan kami siap, yang penting kami bisa kembali bekerja,” harapnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/