alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Mesin Dibiarkan Mangkrak Bertahun-Tahun, hanya Dijaga Satpam

BANYUWANGI – Warga Banyuwangi memiliki banyak kenangan terhadap PT Kertas Basuki Rahmat (KBR). Pabrik yang berlokasi di Kelurahan Singotrunan, Kecamatan/Kabupaten Banyuwangi itu berdiri sejak 1972 tersebut dan banyak membantu perekonomian masyarakat kala itu.

Hampir 350 pekerja menggantungkan hidup  di pabrik kertas kebangaan Banyuwangi tersebut. Sejak disita oleh Kejaksaan Agung atas perkara tindak pidana korupsi dengan tersangka Johan Darsono, pekerja yang bertahan di pabrik bisa dihitung dengan jari.

Kondisi pabrik kini cukup memprihatinkan. Pabrik yang cukup menyedot minat para investor tersebut kini terbengkalai. Bahkan, sejumlah rumah dinas yang dibangun untuk karyawan banyak ditumbuhi semak belukar. ”Cukup bangga dulu saat bekerja di PT KBR karena salah satu pabrik terbesar di Banyuwangi,” ujar salah satu mantan pekerja PT KBR, Rizal Fiska Adhitama.

Rizal masuk PKBR tahun 2014. Kala itu  karyawannya memang cukup banyak. Ada sekitar 350 orang,   baik karyawan tetap maupun outsourcing. Produksinya juga cukup melimpah. ”Tahun 2014 masih aksif berproduksi meski tidak berlangsung lama. Tahun 2017, pabrik melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran,” ungkapmantan HRD PT KBR tersebut.

Sejak PHK besar-besaran itulah, seluruh pekerja terkena PHK, termasuk Rizal sendiri. Setelah di- PHK, karaywan banyak yang beralih profesi sebagai ojek online (ojol) maupun buruh bangunan. ”Padahal jika pabrik produksi, banyak masyarakat yang merasa tercukupi. Pekerja kebanyakan dari warga  sekitar pabrik,” ungkap lelaki yang kini berprofesi sebagai Advokat tersebut.

Kasus korupsi yang membeli bos PKBR cukup disesalkan. Jika pabrik produksi kembali, tidak menutup kemungkinan akan bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Kejaksaan Negeri (Kejari) Banyuwangi memastikan jika PKBR memang sudah tidak ada produksi atau beroperasi lagi. ”Kami memang tidak melarang adanya produksi atau kegiatan di PT KBR, sebelum kasus yang menjerat Johan Darsono inkrah,” ujar Kajari Mohammad Rawi melalui Kasi Barang Bukti M. Bimo.

Bimo mengatakan, mesin yang ada di PKBR sudah tidak beroperasi selama empat tahun terakhir. Tidak menutup kemungkinan mesin-mesin tersebut tidak bisa dioperasikan kembali. ”Mesin di pabrik tersebut masih cukup bagus, memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi untuk memulihkan kerugian negara,” kata Bimo.

Seperti diberitakan sebelumnya, bos pabrik kertas PT Kertas Basuki Rahmat (PKBR), Johan Darsono, sudah ditahan Kejagung RI atas kasus dugaan korupsi yang merugikan negara lebih dari Rp 2 triliun. Pabrik kertas yang berlokasi di Kelurahan Singotrunan sudah disita Kejagung.

Johan dilaporkan atas kerugian negara yang dialami Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Johan salah satu grup yang mendapatkan kucuran dana sekitar Rp 6 triliun. Dana tersebut oleh Johan bukan hanya digunakan untuk PKBR.  Ada 12 perusahaan miliknya yang ikut mendapatkan dana untuk pengembangan. 

BANYUWANGI – Warga Banyuwangi memiliki banyak kenangan terhadap PT Kertas Basuki Rahmat (KBR). Pabrik yang berlokasi di Kelurahan Singotrunan, Kecamatan/Kabupaten Banyuwangi itu berdiri sejak 1972 tersebut dan banyak membantu perekonomian masyarakat kala itu.

Hampir 350 pekerja menggantungkan hidup  di pabrik kertas kebangaan Banyuwangi tersebut. Sejak disita oleh Kejaksaan Agung atas perkara tindak pidana korupsi dengan tersangka Johan Darsono, pekerja yang bertahan di pabrik bisa dihitung dengan jari.

Kondisi pabrik kini cukup memprihatinkan. Pabrik yang cukup menyedot minat para investor tersebut kini terbengkalai. Bahkan, sejumlah rumah dinas yang dibangun untuk karyawan banyak ditumbuhi semak belukar. ”Cukup bangga dulu saat bekerja di PT KBR karena salah satu pabrik terbesar di Banyuwangi,” ujar salah satu mantan pekerja PT KBR, Rizal Fiska Adhitama.

Rizal masuk PKBR tahun 2014. Kala itu  karyawannya memang cukup banyak. Ada sekitar 350 orang,   baik karyawan tetap maupun outsourcing. Produksinya juga cukup melimpah. ”Tahun 2014 masih aksif berproduksi meski tidak berlangsung lama. Tahun 2017, pabrik melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran,” ungkapmantan HRD PT KBR tersebut.

Sejak PHK besar-besaran itulah, seluruh pekerja terkena PHK, termasuk Rizal sendiri. Setelah di- PHK, karaywan banyak yang beralih profesi sebagai ojek online (ojol) maupun buruh bangunan. ”Padahal jika pabrik produksi, banyak masyarakat yang merasa tercukupi. Pekerja kebanyakan dari warga  sekitar pabrik,” ungkap lelaki yang kini berprofesi sebagai Advokat tersebut.

Kasus korupsi yang membeli bos PKBR cukup disesalkan. Jika pabrik produksi kembali, tidak menutup kemungkinan akan bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Kejaksaan Negeri (Kejari) Banyuwangi memastikan jika PKBR memang sudah tidak ada produksi atau beroperasi lagi. ”Kami memang tidak melarang adanya produksi atau kegiatan di PT KBR, sebelum kasus yang menjerat Johan Darsono inkrah,” ujar Kajari Mohammad Rawi melalui Kasi Barang Bukti M. Bimo.

Bimo mengatakan, mesin yang ada di PKBR sudah tidak beroperasi selama empat tahun terakhir. Tidak menutup kemungkinan mesin-mesin tersebut tidak bisa dioperasikan kembali. ”Mesin di pabrik tersebut masih cukup bagus, memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi untuk memulihkan kerugian negara,” kata Bimo.

Seperti diberitakan sebelumnya, bos pabrik kertas PT Kertas Basuki Rahmat (PKBR), Johan Darsono, sudah ditahan Kejagung RI atas kasus dugaan korupsi yang merugikan negara lebih dari Rp 2 triliun. Pabrik kertas yang berlokasi di Kelurahan Singotrunan sudah disita Kejagung.

Johan dilaporkan atas kerugian negara yang dialami Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Johan salah satu grup yang mendapatkan kucuran dana sekitar Rp 6 triliun. Dana tersebut oleh Johan bukan hanya digunakan untuk PKBR.  Ada 12 perusahaan miliknya yang ikut mendapatkan dana untuk pengembangan. 

Artikel Terkait

Most Read

Resmikan Kuliner Pintar di Taman Blambangan

PLN Bersihkan Pohon Pengayom

Digemari untuk Ronce Pengantin

Jimbe Sempu Tembus Eropa

Artikel Terbaru

/