alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Baby Lobster Dikirim ke Singapura

JawaPos.com – Masifnya aparat kepolisian memberantas penyelundupan benih lobster rupanya belum membuat para pelaku kapok. Ini diperlihatkan jajaran Satreskrim Polres Banyuwangi yang mengamankan dua orang yang diduga berupaya menyelundupkan benur menuju luar Banyuwangi.

Kedua pelaku merupakan orang asal Bali yakni Jumratno, 69, warga Dusun Banjar, Desa Bayupoh dan Muhamad Ramzah alias Ramsi, 30, warga Dusun Sumberpau, Desa Sumberkima, Kecamatan Gerokgak, Buleleng.

Keduanya ditangkap saat sedang  mengemas bayi lobster di sebuah rumah di Dusun Pancoran, Desa Ketapang, Kecamatan, Kalipuro. Dari lokasi tersebut, polisi mengamankan sejumlah barang bukti yakni 17.229 ribu benih lobster jenis pasir dan mutiara.

Kapolres AKBP Donny Adityawarman didampingi Kasatreskrim AKP Panji Pratistha Wijaya mengatakan, kejahatan yang dilakukan kedua pelaku berpotensi merugikan negara hingga Rp 850 juta. Pelaku berasal dari Bali yang menjadikan Banyuwangi sebagai lokasi transit dan pengepakan barang terlarang tersebut.

Barang itu diperoleh keduanya dari perairan Lombok, Nusa Tenggara Barat. Benur dibawa secara estafet dari perairan Lombok. Masuknya kedua pelaku ke sel tahanan Mapolres Banyuwangi bermula dari laporan masyarakat yang mengetahui aktivitas pengepakan bayi lobster di sekitar Desa Ketapang.

”Dari sana tim kami segera menyisir lokasi tersebut. Benar saat ditangkap mereka sedang melakukan aktivitasnya,” ujarnya.

Benur yang dikemas dalam plastik berisi udara tersebut rencananya akan dibawa menuju Bandara Internasional Juanda. Bayi lobster yang sudah di-packing itu rencananya akan dikirimkan untuk pembeli yang sudah menunggu di Bandara Internasional Changi, Singapura.

Pelaku nekat mengambil benur dari NTB dan mengemasnya di Banyuwangi karena pasar baby lobster di Bumi Blambangan sedang lesu. ”Di Lombok sedang banyak benur. Di Banyuwangi sendiri sepi karena pelakunya sudah banyak diproses,” tegasnya.

Atas perbuatannya pelaku diancam pasal 88 dan pasal 92 Undang-Undang Nomor45 Tahun 2009 tentang perubahan Undang Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan. Ancaman hukumannya maksimal enam tahun penjara dan denda Rp 1,5 miliar. Kedua pelaku kini meringkuk di sel tahanan Mapolres Banyuwangi.

JawaPos.com – Masifnya aparat kepolisian memberantas penyelundupan benih lobster rupanya belum membuat para pelaku kapok. Ini diperlihatkan jajaran Satreskrim Polres Banyuwangi yang mengamankan dua orang yang diduga berupaya menyelundupkan benur menuju luar Banyuwangi.

Kedua pelaku merupakan orang asal Bali yakni Jumratno, 69, warga Dusun Banjar, Desa Bayupoh dan Muhamad Ramzah alias Ramsi, 30, warga Dusun Sumberpau, Desa Sumberkima, Kecamatan Gerokgak, Buleleng.

Keduanya ditangkap saat sedang  mengemas bayi lobster di sebuah rumah di Dusun Pancoran, Desa Ketapang, Kecamatan, Kalipuro. Dari lokasi tersebut, polisi mengamankan sejumlah barang bukti yakni 17.229 ribu benih lobster jenis pasir dan mutiara.

Kapolres AKBP Donny Adityawarman didampingi Kasatreskrim AKP Panji Pratistha Wijaya mengatakan, kejahatan yang dilakukan kedua pelaku berpotensi merugikan negara hingga Rp 850 juta. Pelaku berasal dari Bali yang menjadikan Banyuwangi sebagai lokasi transit dan pengepakan barang terlarang tersebut.

Barang itu diperoleh keduanya dari perairan Lombok, Nusa Tenggara Barat. Benur dibawa secara estafet dari perairan Lombok. Masuknya kedua pelaku ke sel tahanan Mapolres Banyuwangi bermula dari laporan masyarakat yang mengetahui aktivitas pengepakan bayi lobster di sekitar Desa Ketapang.

”Dari sana tim kami segera menyisir lokasi tersebut. Benar saat ditangkap mereka sedang melakukan aktivitasnya,” ujarnya.

Benur yang dikemas dalam plastik berisi udara tersebut rencananya akan dibawa menuju Bandara Internasional Juanda. Bayi lobster yang sudah di-packing itu rencananya akan dikirimkan untuk pembeli yang sudah menunggu di Bandara Internasional Changi, Singapura.

Pelaku nekat mengambil benur dari NTB dan mengemasnya di Banyuwangi karena pasar baby lobster di Bumi Blambangan sedang lesu. ”Di Lombok sedang banyak benur. Di Banyuwangi sendiri sepi karena pelakunya sudah banyak diproses,” tegasnya.

Atas perbuatannya pelaku diancam pasal 88 dan pasal 92 Undang-Undang Nomor45 Tahun 2009 tentang perubahan Undang Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan. Ancaman hukumannya maksimal enam tahun penjara dan denda Rp 1,5 miliar. Kedua pelaku kini meringkuk di sel tahanan Mapolres Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/