alexametrics
24.1 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Kain Tenun Khas Oseng Handmade Siyami; Multifungsi, Dikagumi Warga

GIRI – Kain jarit yang selama ini digunakan oleh masyarakat tradisional Oseng rupanya bukan barang sembarangan. Proses pembuatanya sama rumitnya dengan kain-kain tradisional milik suku lain yang sudah terkenal dengan hasil kerajinan kainnya.

Salah satu penenun yang masih bertahan hingga saat ini adalah Siyami, 70. Wanita yang tinggal di Dusun Delik 1, Desa Jambesari, Kecamatan Giri, Banyuwangi, itu masih terus menenun kain jarit. Di atas sebuah pelonco yang sudah dimodifikasi dengan dipasangi alat tenun di atasnya, Siyami begitu teliti memilah satu per satu benang yang melintang di hadapanya.

Sembari menarik dan mendorong tuas kayu, Siyami menceritakan jika menenun kain jarit sudah dijalani selama puluhan tahun. Menenun sudah menjadi warisan dari leluhurnya. Dalam ingatannya, nenek Siyami, yaitu Sanah, dulunya juga seorang penenun kain jarit. Kemudian dilanjutkan ibunya, yaitu Samah, yang juga menekuni kerajinan tenun.

Kemampuan menenun kemudian diwariskan kepada Siyami hingga sekarang. ”Kalau dulu mbah sama emak bisa membuat banyak jenis jarit, seperti jarit solok dan boto lumut. Sekarang saya cuma membuat jarit kluwung. Mata saya sudah tidak kuat,” ujar Siyami.

Jarit yang ditenun keluarga Siyami biasanya dibeli oleh masyarakat Kemiren. Masyarakat yang masih kental dengan adat Oseng menganggap jarit handmade dari Siyami merupakan bagian tak terpisahkan dari mereka.

Selain menjadi aksesori pakaian adat, jarit tersebut kerap digunakan untuk berbagai hal. Bisa untuk menggendong bayi, membawa dandang, pengikat tiang manten (pernikahan), sampai untuk penggendong paesan (nisan).

Hingga kini, kain-kain yang dibuat Siyami memiliki pasar sendiri. Kini Siyami hanya mampu membuat satu lembar kain dalam waktu satu bulan. Ada saja orang yang datang untuk membeli kain buatanya. ”Sekarang harganya telu (Rp 3 juta). Dulu emak jualnya Rp 6 ribu. Saya sebenarnya tidak memasang harga, tapi ada yang menghargai,” imbuhnya.

Proses pembuatan kain jarit memakan waktu cukup lama. Dimulai dari proses memilah benang dari gulungan. Selanjutnya benang dijemur selama sehari penuh. Setelah dianggap kering, benang diliring atau dibentangkan. Di sini, biasanya Siyami dibantu oleh anaknya, Jamanah, 57.

Barulah proses tenun dimulai. Proses ini membutuhkan waktu hingga seminggu lebih. Apalagi, saat usia Siyami semakin renta, matanya sudah tak setajam dulu. ”Habis ditenun lalu dicuci, kemudian dijemur. Baru setelah itu dijual. Biasanya yang beli orang-orang Kemiren. Sekarang mulai ada juga orang luar kota seperti Surabaya,” tuturnya.

Sayangnya, setelah generasi Siyami, tampaknya tidak ada lagi penenun jarit tradisional dari Desa Jambesari. Siyami mengaku tidak ada orang lain lagi yang melanjutkan. Bahkan, saudara-saudara dari ibunya dulu juga tidak memiliki penerus.

Anak Siyami, Jamanah mengaku enggan meneruskan jejak ibunya. Selama ini, Jamanah melihat betapa rumitnya aktivitas emaknya menenun kain. ”Saya tidak bisa (menenun). Orang juga harus betah kalau mau menenun, saya tidak betah,” ungkapnya. 

GIRI – Kain jarit yang selama ini digunakan oleh masyarakat tradisional Oseng rupanya bukan barang sembarangan. Proses pembuatanya sama rumitnya dengan kain-kain tradisional milik suku lain yang sudah terkenal dengan hasil kerajinan kainnya.

Salah satu penenun yang masih bertahan hingga saat ini adalah Siyami, 70. Wanita yang tinggal di Dusun Delik 1, Desa Jambesari, Kecamatan Giri, Banyuwangi, itu masih terus menenun kain jarit. Di atas sebuah pelonco yang sudah dimodifikasi dengan dipasangi alat tenun di atasnya, Siyami begitu teliti memilah satu per satu benang yang melintang di hadapanya.

Sembari menarik dan mendorong tuas kayu, Siyami menceritakan jika menenun kain jarit sudah dijalani selama puluhan tahun. Menenun sudah menjadi warisan dari leluhurnya. Dalam ingatannya, nenek Siyami, yaitu Sanah, dulunya juga seorang penenun kain jarit. Kemudian dilanjutkan ibunya, yaitu Samah, yang juga menekuni kerajinan tenun.

Kemampuan menenun kemudian diwariskan kepada Siyami hingga sekarang. ”Kalau dulu mbah sama emak bisa membuat banyak jenis jarit, seperti jarit solok dan boto lumut. Sekarang saya cuma membuat jarit kluwung. Mata saya sudah tidak kuat,” ujar Siyami.

Jarit yang ditenun keluarga Siyami biasanya dibeli oleh masyarakat Kemiren. Masyarakat yang masih kental dengan adat Oseng menganggap jarit handmade dari Siyami merupakan bagian tak terpisahkan dari mereka.

Selain menjadi aksesori pakaian adat, jarit tersebut kerap digunakan untuk berbagai hal. Bisa untuk menggendong bayi, membawa dandang, pengikat tiang manten (pernikahan), sampai untuk penggendong paesan (nisan).

Hingga kini, kain-kain yang dibuat Siyami memiliki pasar sendiri. Kini Siyami hanya mampu membuat satu lembar kain dalam waktu satu bulan. Ada saja orang yang datang untuk membeli kain buatanya. ”Sekarang harganya telu (Rp 3 juta). Dulu emak jualnya Rp 6 ribu. Saya sebenarnya tidak memasang harga, tapi ada yang menghargai,” imbuhnya.

Proses pembuatan kain jarit memakan waktu cukup lama. Dimulai dari proses memilah benang dari gulungan. Selanjutnya benang dijemur selama sehari penuh. Setelah dianggap kering, benang diliring atau dibentangkan. Di sini, biasanya Siyami dibantu oleh anaknya, Jamanah, 57.

Barulah proses tenun dimulai. Proses ini membutuhkan waktu hingga seminggu lebih. Apalagi, saat usia Siyami semakin renta, matanya sudah tak setajam dulu. ”Habis ditenun lalu dicuci, kemudian dijemur. Baru setelah itu dijual. Biasanya yang beli orang-orang Kemiren. Sekarang mulai ada juga orang luar kota seperti Surabaya,” tuturnya.

Sayangnya, setelah generasi Siyami, tampaknya tidak ada lagi penenun jarit tradisional dari Desa Jambesari. Siyami mengaku tidak ada orang lain lagi yang melanjutkan. Bahkan, saudara-saudara dari ibunya dulu juga tidak memiliki penerus.

Anak Siyami, Jamanah mengaku enggan meneruskan jejak ibunya. Selama ini, Jamanah melihat betapa rumitnya aktivitas emaknya menenun kain. ”Saya tidak bisa (menenun). Orang juga harus betah kalau mau menenun, saya tidak betah,” ungkapnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/