alexametrics
27.5 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Upal Probolinggo Masuk Banyuwangi, Diedarkan Ibu Rumah Tangga

JawaPos.com – Uang palsu (upal) asal Probolinggo sudah masuk Bumi Blambangan. Beruntung, upal yang belum banyak beredar itu sudah terungkap berkat kejelian para pemilik toko di wilayah Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Senin (8/1).

Upal tersebut diedarkan oleh Siti Mariam, 53, seorang ibu rumah tangga asal Desa Tegalharjo, Kecamatan Glenmore. Dari tangan wanita itu, polisi mengamankan barang bukti 64 lembar upal pecahan Rp 50.000. Polisi juga mengamankan uang asli Rp 115 ribu dari tangan pelaku, yang merupakan uang kembalian saat transaksi di beberapa toko. Mobil Toyota Avanza warna putih dengan nomor polisi P 801 VQ yang dikendarai pelaku turut pula dijadikan alat bukti.

Kapolres Banyuwangi AKBP Donny Adityawarman menjelaskan, upal yang disita dari Mariam tersebut dari seorang pria yang mengaku ustad yang tinggal di wilayah Probolinggo. Transaksi penukaran uang yang mirip aslinya itu digelar di sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Gending, Kabupaten Probolinggo, pada 31 Desember 2017 lalu. ”Satu juta uang asli ditukar dengan tiga juta uang palsu. Upal yang didapat berbentuk pecahan lima puluh ribu,” ungkap Kapolres kemarin (8/1).

Kedok pelaku terungkap setelah tersangka melakukan transaksi menggunakan upal di Desa Sragi, Kecamatan Songgon, sekitar pukul 08.00 Sabtu lalu (6/1). Pagi itu, Mariam bersama salah satu putranya dengan mengendarai Toyota Avanza membelanjakan upal dengan harapan dapat kembalikan uang asli. Toko yang didatangi pertama kali adalah toko sembako milik Muhammad Nurhasan,39, di Dusun Jajangan, Desa Sumberbulu, Kecamatan Songgon. Di toko tersebut, tersangka membeli satu liter minyak goreng. Setelah mendapat pengembalian, tersangka beranjak ke toko lain.

Toko kedua yang disasar adalah milik Istikharoh,41 warga Dusun Pertapan, Desa Sragi, Kecamatan Songgon.  Barang yang dibeli berupa sebungkus rokok. Masih di lokasi yang sama, di Dusun Pertapan Desa Sragi, Mariam kembali melancarkan aksinya dengan berpindah ke toko ketiga, yakni milik Paini, 41. Di toko ketiga itu, tersangka membeli satu kilogram gula pasir.

Ketika itu tersangka tidak sadar, jika ulahnya mengedarkan upal tersebut ternyata dibuntuti oleh korban pertama yakni Muhammad Nurhasan. ”Jadi orang yang pertama curiga karena uang yang diterimanya tidak wajar. Korban sempat membuntuti pelaku sampai di toko Istikharoh dan Paini. Sempat dicegat namun berhasil kabur. Tapi karena korban ini hafal dengan plat mobil yang dikendarai tersangka, lalu dilaporkan kepada petugas,” jelas Kapolres.

Korban juga sempat meneliti jika uang yang digunakan tersangka untuk belanja tersebut adalah uang pecahan Rp 50 ribu dengan seri nomor yang sama. Seketika itulah, para korban tersebut yakin jika uang tersebut palsu dan langsung melapor kepada aparat kepolisian.

Dua jam berselang usai menerima laporan dari korban, aparat reserse mobile (Resmob) Polres Banyuwangi langsung melakukan pengejaran dan penyelidikan. Dengan berbekal temuan awal nomor polisi kendaraan mobil tersebut, akhirnya petugas mendatangi kediaman tersangka. Wanita itu akhirnya berhasil diringkus sejumlah barang bukti dan dibawa ke Mapolres Banyuwangi untuk dilakukan penyidikan.

Polisi yang berupaya melakukan pengejaran terhadap pelaku utama yakni FT salah seorang warga Kecamatan Kraksan, Kabupaten Probolinggo tidak membuahkan hasil. ”Kami berkoordinasi dengan Polres Probolinggo. Setelah kami datangi, ternyata yang bersangkutan sudah kabur lebih dulu,” terang Donny.

Tersangka Mariam mengakui bahwa aksinya tersebut bakal terlacak oleh aparat kepolisian, sehingga berbuntut pada penangkapan. Padahal pola transaksinya berusaha dijalankan secara rapi. Bahkan, dia menyembunyikan rahasia upal itu dari sang anak yang sempat mengantarnya berbelanja. ”Saya mau mengumpulkan uang guna melunasi utang sewa mobil rental sekitar Rp 10 juta,” dalihnya.

Mariam mengaku, imbas dari usaha katering yang dirintis, dia harus menanggung utang sebesar Rp 30 juta. Utang itu merupakan ulah nakal juragannya yang menyuruh mencarikan sewaan mobil. Nahas, setelah sepekan kendaraan yang kabarnya hendak dipergunakan mengurus usaha makanan di Bali justru dibawa kabur. Mobil yang disewa ternyata digadaikan oleh sang majikan kepada orang lain. ”Uang gadai itu dibebankan kepada saya. Soalnya sang pemilik kendaraan tahu transaksinya dengan saya,” jelas Mariam.

Akibat perbuatannya, tersangka akan dijerat pasal 36 ayat (3), juncto pasal 26 ayat (3) UU RI No 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 50 miliar.

JawaPos.com – Uang palsu (upal) asal Probolinggo sudah masuk Bumi Blambangan. Beruntung, upal yang belum banyak beredar itu sudah terungkap berkat kejelian para pemilik toko di wilayah Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Senin (8/1).

Upal tersebut diedarkan oleh Siti Mariam, 53, seorang ibu rumah tangga asal Desa Tegalharjo, Kecamatan Glenmore. Dari tangan wanita itu, polisi mengamankan barang bukti 64 lembar upal pecahan Rp 50.000. Polisi juga mengamankan uang asli Rp 115 ribu dari tangan pelaku, yang merupakan uang kembalian saat transaksi di beberapa toko. Mobil Toyota Avanza warna putih dengan nomor polisi P 801 VQ yang dikendarai pelaku turut pula dijadikan alat bukti.

Kapolres Banyuwangi AKBP Donny Adityawarman menjelaskan, upal yang disita dari Mariam tersebut dari seorang pria yang mengaku ustad yang tinggal di wilayah Probolinggo. Transaksi penukaran uang yang mirip aslinya itu digelar di sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Gending, Kabupaten Probolinggo, pada 31 Desember 2017 lalu. ”Satu juta uang asli ditukar dengan tiga juta uang palsu. Upal yang didapat berbentuk pecahan lima puluh ribu,” ungkap Kapolres kemarin (8/1).

Kedok pelaku terungkap setelah tersangka melakukan transaksi menggunakan upal di Desa Sragi, Kecamatan Songgon, sekitar pukul 08.00 Sabtu lalu (6/1). Pagi itu, Mariam bersama salah satu putranya dengan mengendarai Toyota Avanza membelanjakan upal dengan harapan dapat kembalikan uang asli. Toko yang didatangi pertama kali adalah toko sembako milik Muhammad Nurhasan,39, di Dusun Jajangan, Desa Sumberbulu, Kecamatan Songgon. Di toko tersebut, tersangka membeli satu liter minyak goreng. Setelah mendapat pengembalian, tersangka beranjak ke toko lain.

Toko kedua yang disasar adalah milik Istikharoh,41 warga Dusun Pertapan, Desa Sragi, Kecamatan Songgon.  Barang yang dibeli berupa sebungkus rokok. Masih di lokasi yang sama, di Dusun Pertapan Desa Sragi, Mariam kembali melancarkan aksinya dengan berpindah ke toko ketiga, yakni milik Paini, 41. Di toko ketiga itu, tersangka membeli satu kilogram gula pasir.

Ketika itu tersangka tidak sadar, jika ulahnya mengedarkan upal tersebut ternyata dibuntuti oleh korban pertama yakni Muhammad Nurhasan. ”Jadi orang yang pertama curiga karena uang yang diterimanya tidak wajar. Korban sempat membuntuti pelaku sampai di toko Istikharoh dan Paini. Sempat dicegat namun berhasil kabur. Tapi karena korban ini hafal dengan plat mobil yang dikendarai tersangka, lalu dilaporkan kepada petugas,” jelas Kapolres.

Korban juga sempat meneliti jika uang yang digunakan tersangka untuk belanja tersebut adalah uang pecahan Rp 50 ribu dengan seri nomor yang sama. Seketika itulah, para korban tersebut yakin jika uang tersebut palsu dan langsung melapor kepada aparat kepolisian.

Dua jam berselang usai menerima laporan dari korban, aparat reserse mobile (Resmob) Polres Banyuwangi langsung melakukan pengejaran dan penyelidikan. Dengan berbekal temuan awal nomor polisi kendaraan mobil tersebut, akhirnya petugas mendatangi kediaman tersangka. Wanita itu akhirnya berhasil diringkus sejumlah barang bukti dan dibawa ke Mapolres Banyuwangi untuk dilakukan penyidikan.

Polisi yang berupaya melakukan pengejaran terhadap pelaku utama yakni FT salah seorang warga Kecamatan Kraksan, Kabupaten Probolinggo tidak membuahkan hasil. ”Kami berkoordinasi dengan Polres Probolinggo. Setelah kami datangi, ternyata yang bersangkutan sudah kabur lebih dulu,” terang Donny.

Tersangka Mariam mengakui bahwa aksinya tersebut bakal terlacak oleh aparat kepolisian, sehingga berbuntut pada penangkapan. Padahal pola transaksinya berusaha dijalankan secara rapi. Bahkan, dia menyembunyikan rahasia upal itu dari sang anak yang sempat mengantarnya berbelanja. ”Saya mau mengumpulkan uang guna melunasi utang sewa mobil rental sekitar Rp 10 juta,” dalihnya.

Mariam mengaku, imbas dari usaha katering yang dirintis, dia harus menanggung utang sebesar Rp 30 juta. Utang itu merupakan ulah nakal juragannya yang menyuruh mencarikan sewaan mobil. Nahas, setelah sepekan kendaraan yang kabarnya hendak dipergunakan mengurus usaha makanan di Bali justru dibawa kabur. Mobil yang disewa ternyata digadaikan oleh sang majikan kepada orang lain. ”Uang gadai itu dibebankan kepada saya. Soalnya sang pemilik kendaraan tahu transaksinya dengan saya,” jelas Mariam.

Akibat perbuatannya, tersangka akan dijerat pasal 36 ayat (3), juncto pasal 26 ayat (3) UU RI No 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 50 miliar.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/