alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Unair Support Warga Pulau Santen Konservasi Ekosistem Pendaratan Penyu

BANYUWANGI – Garis Pantai Pulau Santen selama beberapa tahun terakhir menjadi lokasi favorit pendaratan penyu lekang. Untuk mempertahankan siklus tersebut, Minggu (5/12) Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR, melakukan program optimalisasi konservasi ekosistem laut di Pulau Santen, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan/Kabupaten Banyuwangi dengan melibatkan masyarakat sekitar.

Sebagai gerakan awal, UNAIR menggandeng Seksi Konservasi Wilayah V Banyuwangi, BKSDA, Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF) dan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar. Mereka bersama-sama memberikan pemahaman kepada masyarakat Pulau Santen tentang pentingnya menjaga konservasi laut.

Kegiatan itu juga disajikan dengan webinar sehingga tak hanya disaksikan masyarakat sekitar Pulau Santen. Tiga orang pembicara yaitu Kasi Konservasi Wilayah V Banyuwangi, BKSDA Jatim, Purwantono; Kordinator Publikasi dan Sosialisasi BSTF, Bayu Saksono dan Staf BPSPL Denpasar, Dewi Retnoningrum menyampaikan materi tentang potensi, gambaran dan manfaat konservasi ekosistem penyu di wilayah Pulau Santen.

Pembicara dari UNAIR juga turut menyampaikan. “Kita ingin mengajak masyarakat untuk memahami sistem konservasi dan tujuan konservasi. Selain menjaga kondisi alam, kita juga ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari dampak konservasi,” kata Wakil Dekan II Bidang Pengabdian Masyarakat, Kolaborasi Riset dan Pemelitian Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR, Prof.Dr.Mustofa Helmi Effendi

Karena itu kemarin, UNAIR memberikan pemahaman kepada masyarakat bersama dengan nara sumber lainya tentang apa saja bisa mendukung keberlangsungan aktifitas penyu di Pulau Santen. Salah satu penanaman pohon pandan, dan cemara udang di sekitar Pantai Pulau Santen. “Tempat ini menjadi ikon pendaratan penyu. Jadi harus kita pertahankan. Ketika penyu banyak bertelur di sini, wisatawan juga akan banyak yang datang,”imbuh pria asal Surabaya itu.

Support konservasi laut kepada masyarakat Pulau Santen ini menurut Helmi akan dilakukan secara berkelanjutan. Minimal, sampai nanti masyarakat sudah memiliki atau terbangun budaya konservasinya. “UNAIR sendiri memiliki tujuan SDGs (Sustaibavke Development Goals) yang kita kejar di sini. Yaitu untuk menyadarkan masyarakat di sini tentang pentingnya konservasi, kemudian kolaborasi dan edukasi kita dengan masyarakat. Termasuk peran kita untuk menghadapi perubahan iklim,” tegasnya.

BANYUWANGI – Garis Pantai Pulau Santen selama beberapa tahun terakhir menjadi lokasi favorit pendaratan penyu lekang. Untuk mempertahankan siklus tersebut, Minggu (5/12) Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR, melakukan program optimalisasi konservasi ekosistem laut di Pulau Santen, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan/Kabupaten Banyuwangi dengan melibatkan masyarakat sekitar.

Sebagai gerakan awal, UNAIR menggandeng Seksi Konservasi Wilayah V Banyuwangi, BKSDA, Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF) dan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar. Mereka bersama-sama memberikan pemahaman kepada masyarakat Pulau Santen tentang pentingnya menjaga konservasi laut.

Kegiatan itu juga disajikan dengan webinar sehingga tak hanya disaksikan masyarakat sekitar Pulau Santen. Tiga orang pembicara yaitu Kasi Konservasi Wilayah V Banyuwangi, BKSDA Jatim, Purwantono; Kordinator Publikasi dan Sosialisasi BSTF, Bayu Saksono dan Staf BPSPL Denpasar, Dewi Retnoningrum menyampaikan materi tentang potensi, gambaran dan manfaat konservasi ekosistem penyu di wilayah Pulau Santen.

Pembicara dari UNAIR juga turut menyampaikan. “Kita ingin mengajak masyarakat untuk memahami sistem konservasi dan tujuan konservasi. Selain menjaga kondisi alam, kita juga ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari dampak konservasi,” kata Wakil Dekan II Bidang Pengabdian Masyarakat, Kolaborasi Riset dan Pemelitian Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR, Prof.Dr.Mustofa Helmi Effendi

Karena itu kemarin, UNAIR memberikan pemahaman kepada masyarakat bersama dengan nara sumber lainya tentang apa saja bisa mendukung keberlangsungan aktifitas penyu di Pulau Santen. Salah satu penanaman pohon pandan, dan cemara udang di sekitar Pantai Pulau Santen. “Tempat ini menjadi ikon pendaratan penyu. Jadi harus kita pertahankan. Ketika penyu banyak bertelur di sini, wisatawan juga akan banyak yang datang,”imbuh pria asal Surabaya itu.

Support konservasi laut kepada masyarakat Pulau Santen ini menurut Helmi akan dilakukan secara berkelanjutan. Minimal, sampai nanti masyarakat sudah memiliki atau terbangun budaya konservasinya. “UNAIR sendiri memiliki tujuan SDGs (Sustaibavke Development Goals) yang kita kejar di sini. Yaitu untuk menyadarkan masyarakat di sini tentang pentingnya konservasi, kemudian kolaborasi dan edukasi kita dengan masyarakat. Termasuk peran kita untuk menghadapi perubahan iklim,” tegasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/