alexametrics
22.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Jamaah Wahidiyah Doa Bersama untuk Persatuan Bangsa

GIRI – Gedung Olah Raga (GOR) Ta­­wang Alun Banyuwangi dipadati sekitar 40 ribu jamaah dan pengamal Selawat Wahidiyah dari berbagai daerah di Jawa Timur Pengasuh Per­juangan Wahidiyah yang sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Kedunglo Al Mu­na­dhdhoroh, Kanjeng Romo K.H. Abdul Latif Madjid RA memimpin langsung mujahadah nisfussanah tersebut.

Banyuwangi telah dua kali dipilih sebagai tempat pelaksanaan Mujahadah Nisfussanah tingkat Jatim. Sebelumnya, kegiatan serupa digeber di Bumi Blambangan pada 2016 lalu. Yang lebih istimewa, Mujahadah Nisfussanah Sabtu malam kemarin (3/3) juga dihadiri Wakil Gubernur (Wagub) Jatim Saifullah Yusuf.

Ketua panitia tim peliputan Ba­sori mengatakan, tahun 2018 me­rupakan tahun politik. Di tahun ini akan dilaksanakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di 171 se-Indonesia. “Nah, agar pesta demokrasi tersebut berjalan aman, lancar, dan kondusif serta meng­hasilkan pemimpin-pemimpin yang dapat menciptakan kese­jah­teraan dan keberkahan bagi bangsa dan negara, Yayasan Per­juangan Wahidiyah Provinsi Jatim menyelenggarakan Mujahadah Nisfussanah dengan tema Doa Bersama untuk Persatuan Bangsa,” ujarnya didampingi Ketua Panitia Penyelenggara, Isa Al Malik.

Sementara itu, membeludaknya peserta pengajian akbar Mujaha­dah Nisfussanah membuat seba­gian peserta lain tersingkirkan. Se­bagian besar peserta yang tidak kebagian tempat di dalam, terpak­sa mengikuti pengajian di luar GOR Tawangalun dan menggelar tikar di trotoar jalan. Beberapa jamaah juga ada yang sampai tertidur karena merasa kelelahan.

Mustafa, 45, jamaah asal Blitar mengaku, sudah tiba di Banyu­wangi sejak Jumat pagi. Dan sing­gah sementara di aula GOR Ta­wangalun untuk beristirahat seje­nak. Dirinya pun terpaksa tidur beralas tikar dan menggu­nakan toilet seadanya yang tersedia di lokasi tersebut. “Iya bagaimana lagi. Adanya tempatnya ini disyu­kuri saja dari pada tidak ada tem­pat. Anak dan istri saya juga tidur di trotoar karena tidak kebagian tempat di dalam lapangan,” kata Mustofa.

Lain halnya dengan Aminah, 40, Jamaah asal Jombang menga­takan, terpaksa harus tidur di tro­toar lantaran tidak kebagian tempat di dalam lapangan. Karena faktor kelelahan para rombongan yang berasal dari Jombang tersebut juga tidur pulas saat pengajian berlangsung. “Capek cari tempat muter-muter di dalam lapangan pada penuh. Terpaksa keluar lagi dan menggelar tikar di trotoar,” ungkap Aminah. (*)

GIRI – Gedung Olah Raga (GOR) Ta­­wang Alun Banyuwangi dipadati sekitar 40 ribu jamaah dan pengamal Selawat Wahidiyah dari berbagai daerah di Jawa Timur Pengasuh Per­juangan Wahidiyah yang sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Kedunglo Al Mu­na­dhdhoroh, Kanjeng Romo K.H. Abdul Latif Madjid RA memimpin langsung mujahadah nisfussanah tersebut.

Banyuwangi telah dua kali dipilih sebagai tempat pelaksanaan Mujahadah Nisfussanah tingkat Jatim. Sebelumnya, kegiatan serupa digeber di Bumi Blambangan pada 2016 lalu. Yang lebih istimewa, Mujahadah Nisfussanah Sabtu malam kemarin (3/3) juga dihadiri Wakil Gubernur (Wagub) Jatim Saifullah Yusuf.

Ketua panitia tim peliputan Ba­sori mengatakan, tahun 2018 me­rupakan tahun politik. Di tahun ini akan dilaksanakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di 171 se-Indonesia. “Nah, agar pesta demokrasi tersebut berjalan aman, lancar, dan kondusif serta meng­hasilkan pemimpin-pemimpin yang dapat menciptakan kese­jah­teraan dan keberkahan bagi bangsa dan negara, Yayasan Per­juangan Wahidiyah Provinsi Jatim menyelenggarakan Mujahadah Nisfussanah dengan tema Doa Bersama untuk Persatuan Bangsa,” ujarnya didampingi Ketua Panitia Penyelenggara, Isa Al Malik.

Sementara itu, membeludaknya peserta pengajian akbar Mujaha­dah Nisfussanah membuat seba­gian peserta lain tersingkirkan. Se­bagian besar peserta yang tidak kebagian tempat di dalam, terpak­sa mengikuti pengajian di luar GOR Tawangalun dan menggelar tikar di trotoar jalan. Beberapa jamaah juga ada yang sampai tertidur karena merasa kelelahan.

Mustafa, 45, jamaah asal Blitar mengaku, sudah tiba di Banyu­wangi sejak Jumat pagi. Dan sing­gah sementara di aula GOR Ta­wangalun untuk beristirahat seje­nak. Dirinya pun terpaksa tidur beralas tikar dan menggu­nakan toilet seadanya yang tersedia di lokasi tersebut. “Iya bagaimana lagi. Adanya tempatnya ini disyu­kuri saja dari pada tidak ada tem­pat. Anak dan istri saya juga tidur di trotoar karena tidak kebagian tempat di dalam lapangan,” kata Mustofa.

Lain halnya dengan Aminah, 40, Jamaah asal Jombang menga­takan, terpaksa harus tidur di tro­toar lantaran tidak kebagian tempat di dalam lapangan. Karena faktor kelelahan para rombongan yang berasal dari Jombang tersebut juga tidur pulas saat pengajian berlangsung. “Capek cari tempat muter-muter di dalam lapangan pada penuh. Terpaksa keluar lagi dan menggelar tikar di trotoar,” ungkap Aminah. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/