alexametrics
24.2 C
Banyuwangi
Wednesday, July 6, 2022

Berselawat Agar Terhindar Belenggu Kemusyrikan

JawaPos.com – Puluhan ribu pengamal selawat Wahidiyah asal seantero Provinsi Jatim berkumpul di Banyuwangi Sabtu malam (3/3).

Mereka datang untuk ber-mujahadah (bersungguh-sungguh memerangi hawa nafsu) melalui doa bersama, tepatnya lewat amalan selawat Wahidiyah.

Mujahadah Nisfussanah dan Doa Bersama kali ini dipusatkan di Kompleks Gedung Olahraga Tawang Alun, Banyuwangi. Mujahadah tersebut dipimpin langsung Pengasuh Perjuangan Wahidiyah yang sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Kedunglo Al Munadhdhoroh, Kanjeng Romo K.H. Abdul Latif Madjid RA.

Kegiatan akbar tersebut diisi kuliah wahidiyah serta dilanjutkan penyampaian fatwa dan amanat oleh KH. Abdul Latif Madjid. Melalui fatwa dan amanat tersebut sang pengasuh Yayasan Perjuangan Wahidiyah mengajak jemaah menghadap Allah dengan jalan membaca selawat.

KH. Abdul Latif  Madjid RA mengatakan perjuangan Wahidiyah adalah perjuangan keimanan, yakni iman musyahadah (menyaksikan) untuk membebaskan jiwa manusia dari belenggu kemusyrikan. Dijelaskan, pemahaman umum tentang iman musyahadah adalah masalah ikhsan. “Seperti perintah salat. Salat-lah kamu sekalian seolah-olah kamu melihat Allah SWT. Kalau tidak bisa melihat-Nya, yakinlah (Dia) pasti melihat mu,” ujar pria yang biasa disapa Kanjeng Romo tersebut.

Kanjeng Romo menilai, ikhsan masih belum sempurna. “Karena masih bersifat inggeng-inggeng atau seolah-olah. Tetapi iman yang diperjuangkan wahidiyah, yakni iman makrifat kepada ke-Esa-an Allah atau makrifat billah,” kata dia.

Masih menurut Kanjeng Romo, makrifat bilah atau menyadari dan merasakan segala sesuatu terjadi, termasuk segala aktivitas manusia adalah atas kehendak Allah SWT. Itu sebagaimana firman Allah: “Allah-lah yang menciptakan kamu sekalian dan apa-apa yang kamu perbuat (QS: Ash-Shoffat: 96). “Oleh karena itu, orang yang telah mencapai (iman) makrifat, maka dia akan terhindar dari dosa syirik kepada Allah. Karena sudah tidak ada lagi pengakuan (ego) dari dalam dirinya. Bisa salat, bisa puasa, bisa bergerak dan diam karena dibisakan oleh Allah,” terangnya.

Untuk mencapai iman makrifat, imbuh Kanjeng Romo, Wahidiyah memberi tuntunan dengan mengajarkan amalan selawat wahidiyah dan bimbingannya. “Maka, untuk mencapai iman makrifat kepada Allah, amalan selawat Wahidiyah menjadi thoriq (jalan) atau sarana menuju wushul (sampai) kepada Allah SWT,” cetusnya.

Setelah penyampaian fatwa dan amanat dari Kanjeng Romo KH. Abdul Latif Madjid, sebanyak kurang lebih 40 ribu jamaah asal seantero Jatim lantas berselawat bersama. Mereka sangat khusus membaca selawat.

Sementara itu, Mujahadah Nifsussanah dan doa bersama kali ini dihadiri Wakil Gubernur (Wagub) Jatim Saifullah Yusuf. Pria yang karib disapa Gus Ipul tersebut mengaku sengaja hadir ke pengajian umum Mujahadah Nisfussanah, karena ingin sowan pada kiai pengasuh, Kanjeng Romo KH Abdul Latif Madjid RA. “Saya ke sini sowan. Sowan ke kiai, serta ingin mendapat keberkahan dari majelis yang mulia ini,” ujarnya.

Selain Gus Ipul, pengajian Wahidiyah tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama (NU), pejabat Pemerintah Daerah Banyuwangi serta tokoh lintas agama.

Sementara itu, Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Kelembagaan, Yayasan Perjuangan Wahidiyah Ponpes Al Munadhdhoroh, Kedunglo, Kediri, Dr Aminudin MH, mengatakan kehadiran Gus Ipul pada pengajian umum Mujahadah Nisfussanah hanya sebagai jemaah. Kehadiran Gus Ipul bukan dalam rangka kampanye selaku salah satu kandidat Calon Gubernur (Cagub) Jawa Timur. “Yang kami undang yaitu pengurus PBNU. Dan Gus Ipul bagian dari pengurus PBNU, beliau yang ditugaskan hadir mewakili,” pungkasnya.

JawaPos.com – Puluhan ribu pengamal selawat Wahidiyah asal seantero Provinsi Jatim berkumpul di Banyuwangi Sabtu malam (3/3).

Mereka datang untuk ber-mujahadah (bersungguh-sungguh memerangi hawa nafsu) melalui doa bersama, tepatnya lewat amalan selawat Wahidiyah.

Mujahadah Nisfussanah dan Doa Bersama kali ini dipusatkan di Kompleks Gedung Olahraga Tawang Alun, Banyuwangi. Mujahadah tersebut dipimpin langsung Pengasuh Perjuangan Wahidiyah yang sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Kedunglo Al Munadhdhoroh, Kanjeng Romo K.H. Abdul Latif Madjid RA.

Kegiatan akbar tersebut diisi kuliah wahidiyah serta dilanjutkan penyampaian fatwa dan amanat oleh KH. Abdul Latif Madjid. Melalui fatwa dan amanat tersebut sang pengasuh Yayasan Perjuangan Wahidiyah mengajak jemaah menghadap Allah dengan jalan membaca selawat.

KH. Abdul Latif  Madjid RA mengatakan perjuangan Wahidiyah adalah perjuangan keimanan, yakni iman musyahadah (menyaksikan) untuk membebaskan jiwa manusia dari belenggu kemusyrikan. Dijelaskan, pemahaman umum tentang iman musyahadah adalah masalah ikhsan. “Seperti perintah salat. Salat-lah kamu sekalian seolah-olah kamu melihat Allah SWT. Kalau tidak bisa melihat-Nya, yakinlah (Dia) pasti melihat mu,” ujar pria yang biasa disapa Kanjeng Romo tersebut.

Kanjeng Romo menilai, ikhsan masih belum sempurna. “Karena masih bersifat inggeng-inggeng atau seolah-olah. Tetapi iman yang diperjuangkan wahidiyah, yakni iman makrifat kepada ke-Esa-an Allah atau makrifat billah,” kata dia.

Masih menurut Kanjeng Romo, makrifat bilah atau menyadari dan merasakan segala sesuatu terjadi, termasuk segala aktivitas manusia adalah atas kehendak Allah SWT. Itu sebagaimana firman Allah: “Allah-lah yang menciptakan kamu sekalian dan apa-apa yang kamu perbuat (QS: Ash-Shoffat: 96). “Oleh karena itu, orang yang telah mencapai (iman) makrifat, maka dia akan terhindar dari dosa syirik kepada Allah. Karena sudah tidak ada lagi pengakuan (ego) dari dalam dirinya. Bisa salat, bisa puasa, bisa bergerak dan diam karena dibisakan oleh Allah,” terangnya.

Untuk mencapai iman makrifat, imbuh Kanjeng Romo, Wahidiyah memberi tuntunan dengan mengajarkan amalan selawat wahidiyah dan bimbingannya. “Maka, untuk mencapai iman makrifat kepada Allah, amalan selawat Wahidiyah menjadi thoriq (jalan) atau sarana menuju wushul (sampai) kepada Allah SWT,” cetusnya.

Setelah penyampaian fatwa dan amanat dari Kanjeng Romo KH. Abdul Latif Madjid, sebanyak kurang lebih 40 ribu jamaah asal seantero Jatim lantas berselawat bersama. Mereka sangat khusus membaca selawat.

Sementara itu, Mujahadah Nifsussanah dan doa bersama kali ini dihadiri Wakil Gubernur (Wagub) Jatim Saifullah Yusuf. Pria yang karib disapa Gus Ipul tersebut mengaku sengaja hadir ke pengajian umum Mujahadah Nisfussanah, karena ingin sowan pada kiai pengasuh, Kanjeng Romo KH Abdul Latif Madjid RA. “Saya ke sini sowan. Sowan ke kiai, serta ingin mendapat keberkahan dari majelis yang mulia ini,” ujarnya.

Selain Gus Ipul, pengajian Wahidiyah tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama (NU), pejabat Pemerintah Daerah Banyuwangi serta tokoh lintas agama.

Sementara itu, Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Kelembagaan, Yayasan Perjuangan Wahidiyah Ponpes Al Munadhdhoroh, Kedunglo, Kediri, Dr Aminudin MH, mengatakan kehadiran Gus Ipul pada pengajian umum Mujahadah Nisfussanah hanya sebagai jemaah. Kehadiran Gus Ipul bukan dalam rangka kampanye selaku salah satu kandidat Calon Gubernur (Cagub) Jawa Timur. “Yang kami undang yaitu pengurus PBNU. Dan Gus Ipul bagian dari pengurus PBNU, beliau yang ditugaskan hadir mewakili,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/