alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Harga Sudah Murah, Daya Beli Masih Kurang

RadarBanyuwangi.id – Sejumlah pedagang Pasar Rogojampi mengeluhkan sepinya pembeli. Padahal, harga sembako dan bumbu dapur sudah lebih murah dibanding harga pekan sebelumnya.

Sepinya pembeli ini diduga akibat dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). ”Sejak ada PPKM Darurat, pasar mulai terasa sepi,” ungkap Bambang, seorang pedagang sayur di Pasar Rogojampi.

Menurut Bambang, sebelum diberlakukannya PPKM Darurat Jawa-Bali, masih ada pembeli yang berkunjung ke Pasar Rogojampi. Meskipun jumlahnya sudah jauh berkurang dibanding kondisi normal sebelum pandemi Covid-19 melanda. Namun, kondisinya makin parah saat ada PPKM Darurat. ”Pasar sudah sepi ditambah ada PPKM tambah terasa tak ada pembeli sama sekali,” katanya.

Biasanya dalam sehari Bambang bisa mengantongi keuntungan hingga Rp 300 ribu. Namun, kini untuk bisa meraup untung Rp 100 ribu pun sudah sangat sulit. ”Pembelinya yang tidak ada,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Meydiana, pedagang sembako di Pasar Rogojampi. Menurut perempuan yang akrab disapa Mey itu, saat ini harga sejumlah sembako cenderung stabil. Hampir tak ada yang berharga mahal. Sebut saja harga cabai rawit yang sebelumnya di kisaran harga Rp 11 ribu per kilogram (kg), kini harganya hanya Rp 10 ribu per kg. ”Cabai rawit ini harganya relatif stagnan, naik turunnya hanya seribu rupiah,” katanya.

Begitu juga cabai merah besar yang harganya masih normal di kisaran Rp 10 ribu per kg. Harga bawang merah juga turun dari sebelumnya di kisaran Rp 30 ribu per kg, kini hanya Rp 18 ribu per kg. Harga telur yang semula Rp 20 ribu per kg, kini juga turun di harga Rp 18 ribu per kg. Gula pasir juga demikian, dari harga Rp 12.500 per kg, kini dijual Rp 12 ribu per kg.

Sayangnya, meski harga sejumlah sembako cenderung murah, jumlah pembeli justru minim. ”Mending saat harga cabai mahal tapi pembeli bisa beli satu ons sampai tiga ons, daripada murah beli satu kilogram tapi seminggu tidak beli lagi,” ungkap Mey.

Kondisi pasar, lanjut Mey, memang semakin sepi pembeli setelah diberlakukan PPKM Darurat. Apalagi PPKM juga terus diperpanjang. Daya beli masyarakat semakin lemah. Masyarakat yang hendak beli ke pasar terbatas. Mereka memilih belanja pada pedagang keliling di kampung-kampung. ”Kalau pembeli ke pasar pasti beli banyak, kalau eceran kebanyakan belinya ke pedagang kelontong keliling di kampung,” tandasnya. (ddy/bay/c1)

RadarBanyuwangi.id – Sejumlah pedagang Pasar Rogojampi mengeluhkan sepinya pembeli. Padahal, harga sembako dan bumbu dapur sudah lebih murah dibanding harga pekan sebelumnya.

Sepinya pembeli ini diduga akibat dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). ”Sejak ada PPKM Darurat, pasar mulai terasa sepi,” ungkap Bambang, seorang pedagang sayur di Pasar Rogojampi.

Menurut Bambang, sebelum diberlakukannya PPKM Darurat Jawa-Bali, masih ada pembeli yang berkunjung ke Pasar Rogojampi. Meskipun jumlahnya sudah jauh berkurang dibanding kondisi normal sebelum pandemi Covid-19 melanda. Namun, kondisinya makin parah saat ada PPKM Darurat. ”Pasar sudah sepi ditambah ada PPKM tambah terasa tak ada pembeli sama sekali,” katanya.

Biasanya dalam sehari Bambang bisa mengantongi keuntungan hingga Rp 300 ribu. Namun, kini untuk bisa meraup untung Rp 100 ribu pun sudah sangat sulit. ”Pembelinya yang tidak ada,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Meydiana, pedagang sembako di Pasar Rogojampi. Menurut perempuan yang akrab disapa Mey itu, saat ini harga sejumlah sembako cenderung stabil. Hampir tak ada yang berharga mahal. Sebut saja harga cabai rawit yang sebelumnya di kisaran harga Rp 11 ribu per kilogram (kg), kini harganya hanya Rp 10 ribu per kg. ”Cabai rawit ini harganya relatif stagnan, naik turunnya hanya seribu rupiah,” katanya.

Begitu juga cabai merah besar yang harganya masih normal di kisaran Rp 10 ribu per kg. Harga bawang merah juga turun dari sebelumnya di kisaran Rp 30 ribu per kg, kini hanya Rp 18 ribu per kg. Harga telur yang semula Rp 20 ribu per kg, kini juga turun di harga Rp 18 ribu per kg. Gula pasir juga demikian, dari harga Rp 12.500 per kg, kini dijual Rp 12 ribu per kg.

Sayangnya, meski harga sejumlah sembako cenderung murah, jumlah pembeli justru minim. ”Mending saat harga cabai mahal tapi pembeli bisa beli satu ons sampai tiga ons, daripada murah beli satu kilogram tapi seminggu tidak beli lagi,” ungkap Mey.

Kondisi pasar, lanjut Mey, memang semakin sepi pembeli setelah diberlakukan PPKM Darurat. Apalagi PPKM juga terus diperpanjang. Daya beli masyarakat semakin lemah. Masyarakat yang hendak beli ke pasar terbatas. Mereka memilih belanja pada pedagang keliling di kampung-kampung. ”Kalau pembeli ke pasar pasti beli banyak, kalau eceran kebanyakan belinya ke pedagang kelontong keliling di kampung,” tandasnya. (ddy/bay/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/