alexametrics
28.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Lagi, Taksi Online dan Konvensional Geger

KALIPURO – Sejumlah sopir tak­si online mendatangi Kantor Desa Ketapang, Kalipuro, Senin (26/2) lalu. Mereka ingin melu­ruskan lagi masalah terkait zona merah yang disetujui sepihak di wilayah Desa Ketapang. Mereka tidak ingin zona merah yang awalnya sudah disetujui oleh kedua pihak diperluas lagi.

Kejadian berawal pukul 10.00 Sabtu (24/2) lalu. Seorang sopir taksi online, Mohammad Soleh, 45, mendapat orderan penumpang di Stasiun Banyuwangi Baru. Saat tiba di lokasi, Soleh menyuruh penumpang tersebut keluar sta­siun menuju jalan raya. Karena sebelumnya sudah disepakati jika sopir taksi online tidak boleh mengangkut penumpang dengan jarak 100 meter di pintu keluar dan pintu masuk stasiun.

Setelah penumpang tersebut bertemu dengan Sholeh di tepi jalan, terjadi kesalahpahaman. Sholeh tidak tahu jika jumlah penumpang sebanyak enam orang. ”Saya kira penumpang cuma satu orang. Order dari stasiun menuju Watudodol. Dengan ongkos Rp 10.000. Karena jumlahnya terlalu banyak akhirnya kesepakatan saya batalkan,” ujar Soleh.

Tiba-tiba dari arah belakang muncul tiga kendaraan lin dan taksi konvensional menghadang mobil milik Soleh. Selanjutnya, Sholeh dibawa menuju Kantor Desa Ke­tapang untuk menyepakati per­janjian secara tertulis. ”Saya tidak tahu apa masalahnya. Pulu­han sopir taksi konvensional mem­bawa saya ke Kantor Desa Ketapang untuk menyepakati perluasan zona merah,” ungkap Soleh.

Dalam surat perjanjian tersebut ditulis jika zona merah diperluas. Batas Selatan mulai SPBU Farly dan untuk batas Utara hingga Terminal Sritanjung.

Menyikapi masalah tersebut, Ketua Harian Paguyuban Driver Online Eko Setiabudi mengatakan, perluasan zona merah tersebut tidak sesuai kesepakatan awal. Surat pernyataan tersebut juga ditandatangani oleh satu pihak saja, serta tidak mewakili seluruh sopir taksi online. ”Karena per­wakilan taksi online hanya ditandatangani oleh Soleh saja, maka perjanjian tersebut saya rasa tidak sah dan kami tetap menyepakati pada perjanjian zona merah awal,” jelas Eko.

Sementara itu, Kabid Perhu­bungan Darat Dinas Perhubungan Banyuwangi Hendra Lesmana menjelaskan, perjanjian tetap mengacu pada perjanjian awal yang sudah disepakati dalam deklarasi di Polres Banyuwangi. Ke­mungkinan karena kesalah­pahaman antara kedua sopir taksi terjadi masalah tersebut.

”Untuk selanjutnya masih dite­tapkan zona merah yang sudah disepakati saat deklarasi di Polres Banyuwangi. Tidak ada perubahan. Sopir taksi online hanya bisa mengangkut penumpang dengan jarak 100 meter dari pintu masuk pelabuhan, terminal, maupun sta­siun,” tandas Hendra. (*)

KALIPURO – Sejumlah sopir tak­si online mendatangi Kantor Desa Ketapang, Kalipuro, Senin (26/2) lalu. Mereka ingin melu­ruskan lagi masalah terkait zona merah yang disetujui sepihak di wilayah Desa Ketapang. Mereka tidak ingin zona merah yang awalnya sudah disetujui oleh kedua pihak diperluas lagi.

Kejadian berawal pukul 10.00 Sabtu (24/2) lalu. Seorang sopir taksi online, Mohammad Soleh, 45, mendapat orderan penumpang di Stasiun Banyuwangi Baru. Saat tiba di lokasi, Soleh menyuruh penumpang tersebut keluar sta­siun menuju jalan raya. Karena sebelumnya sudah disepakati jika sopir taksi online tidak boleh mengangkut penumpang dengan jarak 100 meter di pintu keluar dan pintu masuk stasiun.

Setelah penumpang tersebut bertemu dengan Sholeh di tepi jalan, terjadi kesalahpahaman. Sholeh tidak tahu jika jumlah penumpang sebanyak enam orang. ”Saya kira penumpang cuma satu orang. Order dari stasiun menuju Watudodol. Dengan ongkos Rp 10.000. Karena jumlahnya terlalu banyak akhirnya kesepakatan saya batalkan,” ujar Soleh.

Tiba-tiba dari arah belakang muncul tiga kendaraan lin dan taksi konvensional menghadang mobil milik Soleh. Selanjutnya, Sholeh dibawa menuju Kantor Desa Ke­tapang untuk menyepakati per­janjian secara tertulis. ”Saya tidak tahu apa masalahnya. Pulu­han sopir taksi konvensional mem­bawa saya ke Kantor Desa Ketapang untuk menyepakati perluasan zona merah,” ungkap Soleh.

Dalam surat perjanjian tersebut ditulis jika zona merah diperluas. Batas Selatan mulai SPBU Farly dan untuk batas Utara hingga Terminal Sritanjung.

Menyikapi masalah tersebut, Ketua Harian Paguyuban Driver Online Eko Setiabudi mengatakan, perluasan zona merah tersebut tidak sesuai kesepakatan awal. Surat pernyataan tersebut juga ditandatangani oleh satu pihak saja, serta tidak mewakili seluruh sopir taksi online. ”Karena per­wakilan taksi online hanya ditandatangani oleh Soleh saja, maka perjanjian tersebut saya rasa tidak sah dan kami tetap menyepakati pada perjanjian zona merah awal,” jelas Eko.

Sementara itu, Kabid Perhu­bungan Darat Dinas Perhubungan Banyuwangi Hendra Lesmana menjelaskan, perjanjian tetap mengacu pada perjanjian awal yang sudah disepakati dalam deklarasi di Polres Banyuwangi. Ke­mungkinan karena kesalah­pahaman antara kedua sopir taksi terjadi masalah tersebut.

”Untuk selanjutnya masih dite­tapkan zona merah yang sudah disepakati saat deklarasi di Polres Banyuwangi. Tidak ada perubahan. Sopir taksi online hanya bisa mengangkut penumpang dengan jarak 100 meter dari pintu masuk pelabuhan, terminal, maupun sta­siun,” tandas Hendra. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/