RadarBanyuwangi.id – Masyarakat Bumi Blambangan kembali mengeluhkan kelangkaan gas elpiji ukuran 3 kilogram (kg).
Dalam sepekan terakhir ini, warga kesulitan mendapatkan gas tabung melon, baik di tingkat pangkalan maupun pengecer.
Sama seperti bulan Juni lalu, stok gas elpiji di pangkalan maupun pengecer dengan cepat habis diserbu pembeli. Sebagian pembeli lainnya tak kebagian jatah.
”Sudah berusaha mencari elpiji di beberapa toko, tetap tidak ada. Beli di pangkalan juga habis,” ujar Zamani, salah satu warga Kelurahan Kertosari.
Tak hanya di wilayah kota, beberapa warga yang tinggal di wilayah Glagah juga kesulitan mendapatkan gas elpiji bersubsidi tersebut. Mereka rela mengantrekan tabung kosong di toko agar bisa kebagian.
”Kalau mau kebagian harus naruh tabung gas kosong dulu. Kalau tidak ya kehabisan,” kata Maya, salah seorang warga Banjarsari.
Sales Branch Manager (SBM) Pertamina Banyuwangi Denny Nugrahanto mengatakan, tidak ada pengurangan jatah atau pembatasan yang dilakukan oleh Pertamina. Secara teknis, Pertamina tetap melakukan pengiriman sesuai dengan kuota yang telah ditentukan.
Di Banyuwangi, kuota harian mencapai 60.000 tabung gas. ”Kemarin kondisinya sudah lancar. Tidak ada pengurangan kuota dari kami (Pertamina, Red),” ujar Denny.
Pertamina mengindikasikan kelangkaan stok elpiji di lapangan disebabkan sejumlah faktor. Salah satunya, masih banyak pihak di luar sasaran elpiji subsidi yang ikut membeli gas melon. Mengacu Peraturan Menteri, sasaran pengguna gas melon adalah ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro.
gas
Namun di lapangan, masih ada restoran, industri, kafe, peternakan, dan beberapa usaha lain yang menggunakan gas elpiji bersubsidi. Untuk menertibkan hal tersebut, perlu kesadaran dari masyarakat serta kerja sama dari pemkab dan aparat berwenang.
”Banyak gas elpiji bersubsidi digunakan untuk kegiatan hajatan, ditambah musim kepulangan haji. Padahal, gas elpiji bersubsidi bukan untuk kegiatan seperti itu,” tegas Denny.
Terkait kelangkaan gas yang masih terjadi, pihaknya belum bisa melakukan langkah intervensi.
Termasuk menambah kuota elpiji bersubsidi seperti yang dilakukan pada bulan Juni lalu. Kala itu, atas permintaan Pemkab Banyuwangi, Pertamina melakukan penambahan kuota dari sebelumnya 60.000 tabung per hari menjadi 75.000.
”Untuk penambahan kita masih akan melihat kondisi di lapangan, bagaimana indikasinya,” pungkas Denny. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin