alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Wednesday, October 5, 2022

Perempuan yang Kritis Akibat Digugat Cerai Suami Itu Akhirnya Meninggal Dunia

SITUBONDO, Jawa Pos Radar Situbondo – Kholif  warga Desa Sumberanyar, Kecamatan Banyuputih, akhirnya menghembuskan nafas terakhir di RS dr Abdoer Rahem Situbondo. Kemarin (11/8), jenazah  perempuan 25 tahun itu, sudah dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) yang tak jauh dari rumahnya.

Perempuan yang diduga kuat mengalami tekanan batin lantaran ditelantarakan suaminya, AMR, itu  menghembusakan nafas terakhir pukul 23.00. Yang miris, meski Kholif sudah meninggal, namun sang suami maupun keluarga suami, tidak ada yang datang takziah. “Padahal secara hukum, sang suami seharusnya bertanggung jawab atas segala perawatan selama kholif  menjalani perawatan,”ungkap Khoirul Anwar, kuasa hukum Kholif.

Kata pria yang akrab disapa Aan tersebut, AMR diduga bukan hanya  menelantarkan. Tetapi sudah merusak psikis Kholif. Terbukti, saat persidangan pertama, Kholif yang menyempatkan hadir memakai kursi roda, mendaptkan pernyataan yang cukup menyakitkan hingga kondisi kesehatannya semakin drop.

Baca Juga :  Balap Liar di Depan Mapolsek Besuki Digelar Jelang Subuh

“Berdasarkan pernyataan kakak Kholif menyatakan bahwa suami Kholif menolak permintaan hakim agar tidak mentalak Kholif. Tapi, suami Kholif mengatakan tetap mau mencerai istrinya karena sudah memiliki calon baru. Padahal saat persidangan, kholif sudah sakit,” imbuh Aan.

Lebih dari itu, Aan juga menyampaikan, kematian Kholif bukan berarti akhir dari segalanya. Sebab, proses hukum yang sudah dilaporkan dua hari yang lalu, tetap berlanjut.  Yang jelas polisi harus melanjutkan prosesnya. Mengingat yang meninggal adalah Kholif sebagai korban, bukan pelaku.

“Jika semisal sang suami yang meninggal, sudah pasti prosesnya diberhentikan atau ditutup. Karena ini yang mati adalah korban, ya polisi tetap harus melakukan penyidikan terhadap laporan. Dan kami akan terus mengawal,” tegasnya.

Aan  mempertegas, jika apa yang dilakukan AMR sudah masuk dalam  ranah tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Yang pasti, jika terbukti, AMR harus menjalani hukuman sebagaimana hukum yang berlaku. “Setiap orang yang melakukan penelantaran dalam rumah tangga dipidana dengan pidana penjara paling lama tiga tahun atau denda paling banyak Rp15 juta,” terangnya.

Baca Juga :  Ajak Istri dan 4 Anaknya Ngamen, Menetap Tidak Menentu

Sementara itu aktifis perempuan Situbondo, Siti Nurmaya sedikit menjelaskan psikis almarhumah Kholif, yang sudah tiga kali keluar masuk rumah sakit. Bahkan pada saat menjalani perawatan di rumah sakit Asembagus selama delapan hari, Kholif sulit untuk diajak komunikasi.

“Kalau masalah psikis belum dilakukan pemeriksaan. Tetapi kalau pengakuan dari keluarganya, Kholif seperti orang stres. Tetapi kalau ditanyakan apakah merindukan suaminya, kholif masih menjawab ingin kembali dengan suaminya,” pungkas Siti Nurmaya. (hum/pri)

SITUBONDO, Jawa Pos Radar Situbondo – Kholif  warga Desa Sumberanyar, Kecamatan Banyuputih, akhirnya menghembuskan nafas terakhir di RS dr Abdoer Rahem Situbondo. Kemarin (11/8), jenazah  perempuan 25 tahun itu, sudah dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) yang tak jauh dari rumahnya.

Perempuan yang diduga kuat mengalami tekanan batin lantaran ditelantarakan suaminya, AMR, itu  menghembusakan nafas terakhir pukul 23.00. Yang miris, meski Kholif sudah meninggal, namun sang suami maupun keluarga suami, tidak ada yang datang takziah. “Padahal secara hukum, sang suami seharusnya bertanggung jawab atas segala perawatan selama kholif  menjalani perawatan,”ungkap Khoirul Anwar, kuasa hukum Kholif.

Kata pria yang akrab disapa Aan tersebut, AMR diduga bukan hanya  menelantarkan. Tetapi sudah merusak psikis Kholif. Terbukti, saat persidangan pertama, Kholif yang menyempatkan hadir memakai kursi roda, mendaptkan pernyataan yang cukup menyakitkan hingga kondisi kesehatannya semakin drop.

Baca Juga :  Pembangunan Sumur Bor di Daerah Kering Belum Terjangkau Seluruhnya

“Berdasarkan pernyataan kakak Kholif menyatakan bahwa suami Kholif menolak permintaan hakim agar tidak mentalak Kholif. Tapi, suami Kholif mengatakan tetap mau mencerai istrinya karena sudah memiliki calon baru. Padahal saat persidangan, kholif sudah sakit,” imbuh Aan.

Lebih dari itu, Aan juga menyampaikan, kematian Kholif bukan berarti akhir dari segalanya. Sebab, proses hukum yang sudah dilaporkan dua hari yang lalu, tetap berlanjut.  Yang jelas polisi harus melanjutkan prosesnya. Mengingat yang meninggal adalah Kholif sebagai korban, bukan pelaku.

“Jika semisal sang suami yang meninggal, sudah pasti prosesnya diberhentikan atau ditutup. Karena ini yang mati adalah korban, ya polisi tetap harus melakukan penyidikan terhadap laporan. Dan kami akan terus mengawal,” tegasnya.

Aan  mempertegas, jika apa yang dilakukan AMR sudah masuk dalam  ranah tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Yang pasti, jika terbukti, AMR harus menjalani hukuman sebagaimana hukum yang berlaku. “Setiap orang yang melakukan penelantaran dalam rumah tangga dipidana dengan pidana penjara paling lama tiga tahun atau denda paling banyak Rp15 juta,” terangnya.

Baca Juga :  Balap Liar di Depan Mapolsek Besuki Digelar Jelang Subuh

Sementara itu aktifis perempuan Situbondo, Siti Nurmaya sedikit menjelaskan psikis almarhumah Kholif, yang sudah tiga kali keluar masuk rumah sakit. Bahkan pada saat menjalani perawatan di rumah sakit Asembagus selama delapan hari, Kholif sulit untuk diajak komunikasi.

“Kalau masalah psikis belum dilakukan pemeriksaan. Tetapi kalau pengakuan dari keluarganya, Kholif seperti orang stres. Tetapi kalau ditanyakan apakah merindukan suaminya, kholif masih menjawab ingin kembali dengan suaminya,” pungkas Siti Nurmaya. (hum/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/