alexametrics
24.6 C
Banyuwangi
Monday, August 15, 2022

Divonis Penjara 1,3 Tahun, Galih Huni Blok Pidum

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Galih Priawan terpidana kasus penipuan cek kosong yang divonis hukuman 1,3 tahun penjara oleh majelis hakim pengadilan negeri (PN) Banyuwangi, menempati Blok D8 di lapas Banyuwangi.

Kepala Lapas Banyuwangi, Ketut Akbar Herry Achjar mengatakan, terpidana Galih Priawan menempati Blok D8 satu kamar dengan narapidana dan tahanan kasus pidana umum seperti judi, penipuan, senjata tajam, pengeroyokan, penadah. “ Sejak menjadi tahanan sudah menempati blok D8 yang berjumlah 23 orang dalam satu kamar,” ujarnya.

Selama berada di dalam Lapas, Galih masih tergolong narapidana yang berperilaku baik dan tidak pernah neko-neko atau melakukan pelanggaran. “ Semua sama, jadi kalau melakukan pelanggaran tentu akan kami berikan sanksi,” jelas Akbar.

Baca Juga :  YAMAHA JATIM: DAPATKAN GRAND PRIZE MENARIK HANYA DENGAN SELFIE!

Diberitakan sebelumnya, a

 

Peristiwa penipuan tersebut terjadi pada Sabtu tanggal 14 Juli 2018, Galih datang kepada korban dan menyampaikan butuh dana guna pengembangan usaha. Ketika itu terdakwa berjanji akan memberikan bagi hasil atas setiap modal yang diberikan kepada korban dengan jaminan terdakwa menyerahkan sebuah cek Nomor 000020 warkat Bank UOB atas nama Galih Priawan senilai Rp.100 juta.

Karena permintaan terdakwa, korban yang sebelumnya sudah mengenal terdakwa akhirnya membantu usaha agar lebih berkembang dengan jaminan pemberian cek dari terdakwa. Korban memenuhi keinginan terdakwa dengan menyerahkan sejumlah uang sebesar Rp.100 juta kepada terdakwa melalui transfer ke rekening terdakwa.

Kemudian pada 04 November 2018, terdakwa menemui saksi korban untuk meminta tambahan modal serta menjanjikan akan memberikan keuntungan berupa bagi hasil atas setiap modal yang saksi korban berikan kepada terdakwa dengan jaminan terdakwa menyerahkan sebuah cek Nomor 000023 warkat Bank UOB atas nama Galih Priawan senilai Rp.100 juta.

Baca Juga :   Kapal Rute Tanjung Wangi–Lembar Mulai Beroperasi

Setelah menerima dua cek tersebut, pada bulan Desember 2018 korban meminta kepada karyawannya untuk melakukan kliring atau pencairan cek Bank UOB Indonesia yang diterima dari terdakwa tersebut. Nah, saat hendak dicairkan dua lembar cek tersebut tidak bisa dicairkan (diuangkan) atau ditolak oleh pihak Bank dengan alasan rekening giro atau Rekening Khusus telah ditutup karena masuk dalam daftar hitam Bank Indonesia.

Akibat perbuatan terdakwa itu, saksi korban menderita kerugian sebesar Rp.200 juta dan akhirnya kasus tersebut dilaporkan kepada pihak kepolisian. Putusan hakim ini sekaligus peringatan bagi siapa saja agar tidak percaya dengan pemberian cek kosong. (ddy)

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Galih Priawan terpidana kasus penipuan cek kosong yang divonis hukuman 1,3 tahun penjara oleh majelis hakim pengadilan negeri (PN) Banyuwangi, menempati Blok D8 di lapas Banyuwangi.

Kepala Lapas Banyuwangi, Ketut Akbar Herry Achjar mengatakan, terpidana Galih Priawan menempati Blok D8 satu kamar dengan narapidana dan tahanan kasus pidana umum seperti judi, penipuan, senjata tajam, pengeroyokan, penadah. “ Sejak menjadi tahanan sudah menempati blok D8 yang berjumlah 23 orang dalam satu kamar,” ujarnya.

Selama berada di dalam Lapas, Galih masih tergolong narapidana yang berperilaku baik dan tidak pernah neko-neko atau melakukan pelanggaran. “ Semua sama, jadi kalau melakukan pelanggaran tentu akan kami berikan sanksi,” jelas Akbar.

Baca Juga :  Covid Tak Terkendali, PKS Jatim Ajak Masyarakat Istighotsah

Diberitakan sebelumnya, a

 

Peristiwa penipuan tersebut terjadi pada Sabtu tanggal 14 Juli 2018, Galih datang kepada korban dan menyampaikan butuh dana guna pengembangan usaha. Ketika itu terdakwa berjanji akan memberikan bagi hasil atas setiap modal yang diberikan kepada korban dengan jaminan terdakwa menyerahkan sebuah cek Nomor 000020 warkat Bank UOB atas nama Galih Priawan senilai Rp.100 juta.

Karena permintaan terdakwa, korban yang sebelumnya sudah mengenal terdakwa akhirnya membantu usaha agar lebih berkembang dengan jaminan pemberian cek dari terdakwa. Korban memenuhi keinginan terdakwa dengan menyerahkan sejumlah uang sebesar Rp.100 juta kepada terdakwa melalui transfer ke rekening terdakwa.

Kemudian pada 04 November 2018, terdakwa menemui saksi korban untuk meminta tambahan modal serta menjanjikan akan memberikan keuntungan berupa bagi hasil atas setiap modal yang saksi korban berikan kepada terdakwa dengan jaminan terdakwa menyerahkan sebuah cek Nomor 000023 warkat Bank UOB atas nama Galih Priawan senilai Rp.100 juta.

Baca Juga :  Lukisan On The Spot Tanaman Hias Kadaka Laku Rp 10 Juta

Setelah menerima dua cek tersebut, pada bulan Desember 2018 korban meminta kepada karyawannya untuk melakukan kliring atau pencairan cek Bank UOB Indonesia yang diterima dari terdakwa tersebut. Nah, saat hendak dicairkan dua lembar cek tersebut tidak bisa dicairkan (diuangkan) atau ditolak oleh pihak Bank dengan alasan rekening giro atau Rekening Khusus telah ditutup karena masuk dalam daftar hitam Bank Indonesia.

Akibat perbuatan terdakwa itu, saksi korban menderita kerugian sebesar Rp.200 juta dan akhirnya kasus tersebut dilaporkan kepada pihak kepolisian. Putusan hakim ini sekaligus peringatan bagi siapa saja agar tidak percaya dengan pemberian cek kosong. (ddy)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/