Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sapi Simmental Sutami Tembus 1,08 Ton, Sukses Menangi Kontes Sapi Lombok 2026

Ali Sodiqin
Penulis: Ali Sodiqin❯

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Sutami (paling kiri) berfoto bersama kepala daerah dan sapi miliknya yang menjadi juara pertama pada ajang Kontes Sapi Lombok 2026 di Pasar Hewan Barabali, Batukliang, Minggu (25/10) lalu. (Lombok Post)
Sutami (paling kiri) berfoto bersama kepala daerah dan sapi miliknya yang menjadi juara pertama pada ajang Kontes Sapi Lombok 2026 di Pasar Hewan Barabali, Batukliang, Minggu (25/10) lalu. (Lombok Post)

RADAR BANYUWANGI — Ketekunan merawat sapi sejak kecil mengantarkan Sutami, peternak asal Dusun Perina, Desa Jelantik, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, mencuri perhatian di Kontes Sapi Lombok 2026. Sapi Simmental miliknya meraih juara pertama kategori ekstrem dengan bobot mencapai 1.080 kilogram dan ditaksir bernilai hingga Rp 150 juta. Kisahnya menjadi gambaran bahwa disiplin merawat ternak dan pengelolaan pakan yang tepat dapat membuka peluang ekonomi bagi peternak lokal.

Kemunculan sapi-sapi berbobot jumbo menjadi magnet tersendiri dalam kontes yang untuk pertama kalinya digelar tersebut. Areal Pasar Hewan Barabali dipadati ribuan pengunjung yang ingin menyaksikan langsung sapi dari berbagai jenis, mulai Limousin hingga Simmental, ditimbang di arena.

Puluhan mobil pikap berjejer mengangkut sapi peserta. Di tengah riuhnya penonton, proses penimbangan berlangsung terbuka sehingga bobot ternak dapat disaksikan langsung. Sebagian pengunjung bahkan mendekat untuk berswafoto dengan sapi-sapi berukuran besar.

Di balik kemeriahan itu, prestasi Sutami menjadi salah satu cerita yang menonjol. Peternak yang tergabung dalam kelompok ternak lokal Sampic tersebut membuktikan bahwa merawat sapi bukan hanya soal memberi makan, tetapi juga membutuhkan ketelatenan, kedisiplinan, dan kesabaran.

Kebersihan Kandang dan Pola Pakan Jadi Kunci

Bagi Sutami, kesehatan ternak dimulai dari kebersihan kandang dan pola pemberian pakan yang teratur. Ia membiasakan diri menjaga kondisi kandang sekaligus memberikan pakan dua kali sehari.

“Kebersihan dan kesehatan harus dijaga itu. Terus pola makan teratur, nyombor pagi dan malam dua kali sehari,” ungkap Sutami kepada Lombok Post.

Selain perawatan harian, Sutami bersama kelompoknya juga meracik pakan konsentrat secara mandiri. Pengelolaan pakan tersebut menjadi bagian dari upayanya merawat sapi agar tumbuh optimal dan memiliki nilai jual lebih tinggi.

Ia menilai, peternak perlu konsisten menjalankan perawatan, bukan hanya berfokus pada ukuran tubuh sapi. Kebersihan, kesehatan, dan keteraturan pemberian pakan harus berjalan beriringan.

Dari Rp 35,5 Juta, Harga Sapi Pernah Ditawar Rp 60 Juta

Pengalaman Sutami menunjukkan bagaimana pemeliharaan ternak dapat membuka peluang peningkatan nilai jual. Ia bercerita, pernah membeli seekor sapi Simmental berusia 20 bulan seharga Rp 35,5 juta.

Setelah dipelihara selama beberapa bulan dengan racikan pakan konsentrat mandiri bersama kelompoknya, sapi tersebut mengalami peningkatan nilai jual. Menurut Sutami, harga penawarannya bahkan mencapai Rp 60 juta.

Sementara itu, sapi Simmental yang mengantarkannya meraih juara pertama kategori ekstrem dalam Kontes Sapi Lombok 2026 disebut memiliki nilai hingga Rp 150 juta.

“Sekarang sapi yang menang kontes ini bisa mencapai Rp 150 juta,” ucapnya semringah.

Nilai tersebut menggambarkan potensi ekonomi dari peternakan sapi berbobot besar. Namun, hasil usaha tentu bergantung pada banyak faktor, antara lain biaya pembelian ternak, pakan, perawatan, kesehatan, serta harga pasar saat penjualan.

Hobi Sejak Kelas Dua SD, Kini Memelihara 25 Ekor Sapi

Keberhasilan Sutami tidak datang dalam semalam. Kecintaannya terhadap dunia peternakan tumbuh sejak masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Seiring waktu, hobi itu berkembang menjadi usaha yang kini dikelolanya dengan total 25 ekor sapi di lahan miliknya sendiri.

Pengalaman panjang tersebut membentuk prinsip yang terus ia pegang hingga sekarang: kesabaran merupakan modal penting dalam beternak.

“Kuncinya harus sabar, sabar, dan sabar,” ujarnya penuh semangat.

Bagi Sutami, merawat sapi membutuhkan proses. Peternak harus memahami kebutuhan ternak, menjaga kondisi kandang, mengatur pemberian pakan, serta memastikan kesehatan hewan tetap terpantau. Hasilnya tidak bisa diperoleh secara instan, tetapi melalui perawatan yang konsisten.

Berharap Kontes Sapi Lombok Digelar Setiap Tahun

Prestasi Sutami sekaligus menambah semarak Kontes Sapi Lombok 2026. Ajang yang menyedot perhatian ribuan pengunjung itu menjadi ruang bagi peternak untuk memperlihatkan kualitas ternak sekaligus memacu semangat dalam mengembangkan usaha.

Sutami berharap kegiatan serupa tidak berhenti pada penyelenggaraan perdana. Ia ingin kontes sapi dapat digelar secara rutin agar peternak lokal memiliki kesempatan untuk menunjukkan hasil perawatan dan meningkatkan motivasi dalam memelihara sapi berbobot besar.

“Kami peternak lokal sangat berharap giat seperti kontes ini rutin digelar tiap tahun, jadi semangat merawat sapi-sapi ukuran jumbo,” tukasnya.

Kisah Sutami menunjukkan bahwa peternakan dapat menjadi usaha bernilai ekonomi ketika dijalankan dengan ketekunan dan manajemen yang terukur. Di tengah kemeriahan kontes, keberhasilannya menjadi pengingat bahwa di balik sapi jumbo yang menarik perhatian publik, ada proses panjang berupa disiplin, perawatan, dan kesabaran peternak. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BanyuwangiIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kontes Sapi Raksasa Banyuwangi 2026 Hebohkan Tegaldlimo, Belgian Blue hingga Simental Jadi Rebutan Jelang Idul Adha

Kontes Sapi Raksasa Banyuwangi 2026 Hebohkan Tegaldlimo, Belgian Blue hingga Simental Jadi Rebutan Jelang Idul Adha

Kontes sapi Banyuwangi 2026 di Tegaldlimo menampilkan sapi jumbo hingga 1 ton, jadi buruan jelang Idul Adha.

Sapi 1,36 Ton “Max Tojo” Juara Kontes Ekstrem Tegaldlimo, Rutin Minum Jamu Empon-Empon, Harga Tembus Rp 200 Juta

Sapi 1,36 Ton “Max Tojo” Juara Kontes Ekstrem Tegaldlimo, Rutin Minum Jamu Empon-Empon, Harga Tembus Rp 200 Juta

Sapi 1,36 ton juara kontes ekstrem di Tegaldlimo, Banyuwangi, dirawat dengan jamu empon-empon. Harganya tembus Rp 200 juta.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer