alexametrics
22.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Integrasikan Potensi Gombengsari melalui Rumah Digital

KALIPURO, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Digitalisasi produk masyarakat di Banyuwangi mulai menyasar ke desa-desa. Di Desa Gombengsari salah satunya, Stikom Banyuwangi mendorong digitalisasi di tengah masyarakat dengan mendirikan Rumah Digital Gombengsari.

Ketua Tim Kedaireka Stikom PGRI Banyuwangi Faruk Alfian mengatakan, program Rumah Digital Gombengsari merupakan platform yang disediakan Stikom dari program Kedaireka yang diselenggarakan Kemendikbudristek. Kedaireka adalah wadah kolaborasi perguruan tinggi dengan industri untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Stikom sendiri menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Banyuwangi yang lolos dari seleksi yang dilakukan Kemendikbudristek.

”Ada 1.500 ide program yang masuk ke Kemendikbud, dan 400 yang lolos seleksi. Salah satunya dari Tim Stikom melalui program integrasi sistem pariwisata Gombengsari Berbasis Digital,” jelas Faruk, Rabu kemarin (8/12).

Bidang yang dikerjakan tim Kedaireka adalah membuat animasi grafis, video profil wisata & UMKM, katalog digital, website Rumah Digital Gombengsari, dan marketplace Gombengsari. Semua sistem yang dibangun inilah yang menjadi konten Rumah Digital Gombengsari

Program Rumah Digital Gombengsari bertujuan untuk membantu promosi produk, mulai dari UMKM, pariwisata, homestay, dan potensi-potensi yang ada di Gombengsari. Di rumah digital, wisatawan bisa mengakses informasi lengkap yang disajikan melalui animasi grafis garapan dosen dan mahasiswa Stikom PGRI Banyuwangi.

Ada juga website yang terintegrasi dengan semua pelaku ekonomi di Gombengsari. Yakni rumahdigitalgombengsari.com. Di dalamnya ada marketplace yang berisi beragam produk yang disediakan oleh desa penghasil kopi di Banyuwangi itu. ”Sebelumnya masyarakat hanya melakukan transaksi melalui mulut ke mulut. Jadi jangkauan mereka terbatas. Dengan Rumah Digital Gombengsari, jangkauannya kita harapkan bisa mencapai mancanegara,” jelasnya.

Untuk membantu Rumah Digital Gombengsari, ada tim dari Stikom PGRI Banyuwangi yang terdiri dari 2 orang dosen dan 7 mahasiswa. Mereka berbagi tugas untuk menyediakan grafis dan mengelola website di Rumah Digital Gombengsari. ”Jadi, orang yang ingin tahu Gombengsari tak perlu berkeliling cukup datang ke Rumah Digital Gombengsari atau mengakses website yang kita sediakan. Ke depan kita akan sediakan mahasiswa untuk magang di sini. Mereka akan mengawal penggunaan fasilitas sampai masyarakat bisa mandiri,” tegasnya.

Camat Kalipuro Astorik yang hadir untuk membuka Rumah Digital Gombengsari mengatakan, pihaknya berharap dengan sentuhan digitalisasi bisa mengembangkan potensi Desa Gombengsari. ”Rumah digital adalah etalase yang bisa menyajikan semua yang ada di Gombengsari. Semoga dengan keberadaan Rumah digital ini bisa mengangkat citra dan marwah Gombengsari. Tinggal masyarakat memberi dukungan agar ini bisa berkembang,” ujar mantan Camat Glagah itu.

Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata Ainur Rofik mengatakan, perkembangan teknologi menjadi angin segar bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk bisa bertahan dan berkembang di tengah pandemi. Kunci utama para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif bertahan di tengah pandemi adalah memiliki kemampuan adaptasi, inovasi, dan kolaborasi yang baik.

Digital tourism merupakan salah satu strategi yang efektif dalam mempromosikan berbagai destinasi dan potensi pariwisata melalui berbagai platform. Artinya, digital tourism tidak hanya sekadar mengenalkan, namun juga menyebar keindahan pariwisata secara luas untuk meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara. ”Saat ini tren pariwisata juga mulai bergeser ke arah digital. Salah satu buktinya terlihat dari aktivitas wisatawan yang mulai merencanakan perjalanan, pre-on-post journey, hampir seluruhnya dilakukan secara digital,” kata Rofik. (fre/aif/c1)

 

Kopi Melimpah, Butuh Pemasaran lewat Digital

 

Ketua Pokdarwis Gombengsari Abdul Rahman mengucapkan terima kasih kepada Stikom PGRI Banyuwangi yang telah memilih Pokdarwis Gombengsari sebagai pihak yang dilibatkan dalam program integrasi sistem pariwisata Gombengsari berbasis digital.

Menurut Rahman, Kelurahan Gombengsari memiliki potensi perkebunan, peternakan, dan sumber daya alam. Potensi perkebunan yang paling dominan adalah kopi, sementara peternakan ada kambing dan sapi perah. Sementara untuk alam, Gombengsari memiliki Taman Sumber Manis Suko, Wisata Puncak Asmoro, serta Camping Ground menjadi bagian yang mempercantik Desa Gombengsari.

”Potensi-potensi ini sudah menjadi daya tarik wisatawan baik lokal maupun dari luar Banyuwangi. Sebagai Pokdarwis, kami juga telah menyiapkan fasilitas pendukung seperti homestay dan wisata edukasi,” kata Rahman.

Bahkan, pada tahun 2018 pihaknya sudah menggelar event, seperti Ngunduh Kopi 73. Event yang bertepatan dengan HUT ke-73 RI ini sekaligus mengingatkan kepada masyarakat luas bahwa masyarakat Gombengsari memulai ngunduh kopi di tahun 1973. Tidak itu saja, tahun 2019 Gombengsari juga pernah menggelar Festival Petik Kopi.

”Nah karena Kelurahan Gombengsari ini memiliki potensi perkebunan kopi yang sangat bagus maka diperlukan pemasaran melalui digital. Mudah-mudahan melalui desiminasi program integrasi sistem pariwisata berbasis digital dengan Stikom PGRI akan menambah kunjungan wisatawan ke sini. Apalagi Stikom membuatkan web dengan nama rumahdigitalgombengsari.com,” ujar Rahman.

Hal senada dikatakan oleh Lurah Gombengsari Abdul Madjid. Menurut Madjid sebagai pemangku Kelurahan Gombengsari, pihaknya bakal menggunakan kesempatan kerja sama bersama Stikom PGRI dengan baik. Termasuk menyiapkan SDM pemuda-pemudi Gombengsari. ”Agar berhasil dalam penerapan sebuah teknologi membutuhkan kehadiran unsur kunci lainnya seperti sumber daya manusia (SDM), hubungan kerja atau kolaborasi, dan berbagai informasi yang membuat teknologi tersebut dapat bekerja dengan baik,” kata Madjid. (fre/aif/c1)

KALIPURO, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Digitalisasi produk masyarakat di Banyuwangi mulai menyasar ke desa-desa. Di Desa Gombengsari salah satunya, Stikom Banyuwangi mendorong digitalisasi di tengah masyarakat dengan mendirikan Rumah Digital Gombengsari.

Ketua Tim Kedaireka Stikom PGRI Banyuwangi Faruk Alfian mengatakan, program Rumah Digital Gombengsari merupakan platform yang disediakan Stikom dari program Kedaireka yang diselenggarakan Kemendikbudristek. Kedaireka adalah wadah kolaborasi perguruan tinggi dengan industri untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Stikom sendiri menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Banyuwangi yang lolos dari seleksi yang dilakukan Kemendikbudristek.

”Ada 1.500 ide program yang masuk ke Kemendikbud, dan 400 yang lolos seleksi. Salah satunya dari Tim Stikom melalui program integrasi sistem pariwisata Gombengsari Berbasis Digital,” jelas Faruk, Rabu kemarin (8/12).

Bidang yang dikerjakan tim Kedaireka adalah membuat animasi grafis, video profil wisata & UMKM, katalog digital, website Rumah Digital Gombengsari, dan marketplace Gombengsari. Semua sistem yang dibangun inilah yang menjadi konten Rumah Digital Gombengsari

Program Rumah Digital Gombengsari bertujuan untuk membantu promosi produk, mulai dari UMKM, pariwisata, homestay, dan potensi-potensi yang ada di Gombengsari. Di rumah digital, wisatawan bisa mengakses informasi lengkap yang disajikan melalui animasi grafis garapan dosen dan mahasiswa Stikom PGRI Banyuwangi.

Ada juga website yang terintegrasi dengan semua pelaku ekonomi di Gombengsari. Yakni rumahdigitalgombengsari.com. Di dalamnya ada marketplace yang berisi beragam produk yang disediakan oleh desa penghasil kopi di Banyuwangi itu. ”Sebelumnya masyarakat hanya melakukan transaksi melalui mulut ke mulut. Jadi jangkauan mereka terbatas. Dengan Rumah Digital Gombengsari, jangkauannya kita harapkan bisa mencapai mancanegara,” jelasnya.

Untuk membantu Rumah Digital Gombengsari, ada tim dari Stikom PGRI Banyuwangi yang terdiri dari 2 orang dosen dan 7 mahasiswa. Mereka berbagi tugas untuk menyediakan grafis dan mengelola website di Rumah Digital Gombengsari. ”Jadi, orang yang ingin tahu Gombengsari tak perlu berkeliling cukup datang ke Rumah Digital Gombengsari atau mengakses website yang kita sediakan. Ke depan kita akan sediakan mahasiswa untuk magang di sini. Mereka akan mengawal penggunaan fasilitas sampai masyarakat bisa mandiri,” tegasnya.

Camat Kalipuro Astorik yang hadir untuk membuka Rumah Digital Gombengsari mengatakan, pihaknya berharap dengan sentuhan digitalisasi bisa mengembangkan potensi Desa Gombengsari. ”Rumah digital adalah etalase yang bisa menyajikan semua yang ada di Gombengsari. Semoga dengan keberadaan Rumah digital ini bisa mengangkat citra dan marwah Gombengsari. Tinggal masyarakat memberi dukungan agar ini bisa berkembang,” ujar mantan Camat Glagah itu.

Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata Ainur Rofik mengatakan, perkembangan teknologi menjadi angin segar bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk bisa bertahan dan berkembang di tengah pandemi. Kunci utama para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif bertahan di tengah pandemi adalah memiliki kemampuan adaptasi, inovasi, dan kolaborasi yang baik.

Digital tourism merupakan salah satu strategi yang efektif dalam mempromosikan berbagai destinasi dan potensi pariwisata melalui berbagai platform. Artinya, digital tourism tidak hanya sekadar mengenalkan, namun juga menyebar keindahan pariwisata secara luas untuk meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara. ”Saat ini tren pariwisata juga mulai bergeser ke arah digital. Salah satu buktinya terlihat dari aktivitas wisatawan yang mulai merencanakan perjalanan, pre-on-post journey, hampir seluruhnya dilakukan secara digital,” kata Rofik. (fre/aif/c1)

 

Kopi Melimpah, Butuh Pemasaran lewat Digital

 

Ketua Pokdarwis Gombengsari Abdul Rahman mengucapkan terima kasih kepada Stikom PGRI Banyuwangi yang telah memilih Pokdarwis Gombengsari sebagai pihak yang dilibatkan dalam program integrasi sistem pariwisata Gombengsari berbasis digital.

Menurut Rahman, Kelurahan Gombengsari memiliki potensi perkebunan, peternakan, dan sumber daya alam. Potensi perkebunan yang paling dominan adalah kopi, sementara peternakan ada kambing dan sapi perah. Sementara untuk alam, Gombengsari memiliki Taman Sumber Manis Suko, Wisata Puncak Asmoro, serta Camping Ground menjadi bagian yang mempercantik Desa Gombengsari.

”Potensi-potensi ini sudah menjadi daya tarik wisatawan baik lokal maupun dari luar Banyuwangi. Sebagai Pokdarwis, kami juga telah menyiapkan fasilitas pendukung seperti homestay dan wisata edukasi,” kata Rahman.

Bahkan, pada tahun 2018 pihaknya sudah menggelar event, seperti Ngunduh Kopi 73. Event yang bertepatan dengan HUT ke-73 RI ini sekaligus mengingatkan kepada masyarakat luas bahwa masyarakat Gombengsari memulai ngunduh kopi di tahun 1973. Tidak itu saja, tahun 2019 Gombengsari juga pernah menggelar Festival Petik Kopi.

”Nah karena Kelurahan Gombengsari ini memiliki potensi perkebunan kopi yang sangat bagus maka diperlukan pemasaran melalui digital. Mudah-mudahan melalui desiminasi program integrasi sistem pariwisata berbasis digital dengan Stikom PGRI akan menambah kunjungan wisatawan ke sini. Apalagi Stikom membuatkan web dengan nama rumahdigitalgombengsari.com,” ujar Rahman.

Hal senada dikatakan oleh Lurah Gombengsari Abdul Madjid. Menurut Madjid sebagai pemangku Kelurahan Gombengsari, pihaknya bakal menggunakan kesempatan kerja sama bersama Stikom PGRI dengan baik. Termasuk menyiapkan SDM pemuda-pemudi Gombengsari. ”Agar berhasil dalam penerapan sebuah teknologi membutuhkan kehadiran unsur kunci lainnya seperti sumber daya manusia (SDM), hubungan kerja atau kolaborasi, dan berbagai informasi yang membuat teknologi tersebut dapat bekerja dengan baik,” kata Madjid. (fre/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/