alexametrics
23.8 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Lampu PJU Sudah Nyala Luur

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Perkembangan kasus Covid-19 di Banyuwangi terus membaik. Setelah mengalami serangan gelombang kedua pada bulan Juli lalu, kini Banyuwangi sudah masuk sebagai kawasan dengan wilayah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 2.

Perubahan ini memberikan dampak yang cukup besar, terutama bagi relaksasi atau pelonggaran kegiatan masyarakat. Salah satunya yang paling ditunggu adalah dibukanya tempat wisata yang selama ini menjadi penggerak ekonomi.

Selama masa PPKM Level 4 dan 3, seluruh tempat wisata nyaris tutup total. Hanya ada beberapa tempat wisata terbuka yang bisa dikunjungi, namun tidak ada penarikan retribusi dari pengelola tempat wisata. ”Pariwisata sudah mulai dibuka dengan pembatasan (25 persen). Kita akan buat aturannya di SE Satgas. Sebelum SE keluar, tempat wisata sudah boleh buka sesuai dengan Inmendagri,” ujar Juru Bicara Satgas Covid-19 Banyuwangi dr Widji Lestariono.

Selain dibukanya tempat wisata, lampu penerangan jalan yang selama ini dimatikan, mulai dinyalakan lagi. Untuk relaksasi lainnya akan diterapkan mengikuti poin-poin yang disediakan dalam Inmendagri terbaru tentang PPKM Level 2. ”Semuanya masih sama, untuk WFO pekerja dan sekolah dengan PTM maksimal 50 persen. Sisanya kita ikuti poin-poin di Inmendagri yang akan dituangkan di SE Satgas Covid-19 Banyuwangi,” kata Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi itu.

Sebelum turun Level 2, selama sepekan Banyuwangi berada di Level 3. Ada empat faktor penunjang mengapa Banyuwangi turun ke Level 2.  Faktor pertama, penurunan angka konfirmasi Covid yang cukup signifikan. Angka positivity rate di Banyuwangi pada Minggu lalu (5/9) sempat tercatat berada di 0,86 persen.

Kemarin (6/9) sudah di angka 1,15%, jauh di bawah angka penularan pada bulan Juli lalu yang berada di angka 11 persen. Angka ini jauh berada di bawah standar WHO, yaitu 5 persen. Saat ini positivity rate Banyuwangi berada di angka yang paling rendah di Jatim. Hal ini seolah menjawab keraguan banyak pihak tentang angka konfirmasi di Banyuwangi.

Rio menyebutkan, angka testing di Banyuwangi cukup tinggi, sedangkan temuanya sangat rendah sehingga membuat kasus penularan sangat kecil. Faktor selanjutnya, angka kematian terus menurun. Setiap hari kasus kematian berada di bawah angka sepuluh dan lima pasien. Dibanding bulan Juli lalu, angka kematian mencapai 20 orang per hari.

Kemudian, imbuh Rio, angka BOR (keterisian tempat tidur) di tujuh rumah sakit rujukan Covid berada di bawah 10 persen. Angka ini jauh menurun di bawah bulan Juli lalu yang rata-rata berada di atas 80 persen. ”Rasio tracing kita juga mendekati batas yang ditentukan, minimal 15 tracing untuk setiap kasus,” tegasnya.

Perubahan Level 2 memiliki konsekuensi untuk bisa membuat banyak kelonggaran di kegiatan masyarakat. Rio mengingatkan masyarakat jangan sampai terlena dengan relaksasi tersebut. Dia meminta protokol kesehatan tetap diterapkan di mana saja. PPKM Level 4 dan 3 diharapkan bisa menjadi pengalaman bagi masyarakat untuk menegakkan dan membudayakan protokol kesehatan.

”Jika ingin terkendali, harus tetap diimbangi dengan prokes yang ketat. Kalau kita lengah, maka kita akan kembali ke Level 3, Level 4. Dengan penurunan level ini, masyarakat jangan sampai euforia,” pesan Rio. 

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Perkembangan kasus Covid-19 di Banyuwangi terus membaik. Setelah mengalami serangan gelombang kedua pada bulan Juli lalu, kini Banyuwangi sudah masuk sebagai kawasan dengan wilayah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 2.

Perubahan ini memberikan dampak yang cukup besar, terutama bagi relaksasi atau pelonggaran kegiatan masyarakat. Salah satunya yang paling ditunggu adalah dibukanya tempat wisata yang selama ini menjadi penggerak ekonomi.

Selama masa PPKM Level 4 dan 3, seluruh tempat wisata nyaris tutup total. Hanya ada beberapa tempat wisata terbuka yang bisa dikunjungi, namun tidak ada penarikan retribusi dari pengelola tempat wisata. ”Pariwisata sudah mulai dibuka dengan pembatasan (25 persen). Kita akan buat aturannya di SE Satgas. Sebelum SE keluar, tempat wisata sudah boleh buka sesuai dengan Inmendagri,” ujar Juru Bicara Satgas Covid-19 Banyuwangi dr Widji Lestariono.

Selain dibukanya tempat wisata, lampu penerangan jalan yang selama ini dimatikan, mulai dinyalakan lagi. Untuk relaksasi lainnya akan diterapkan mengikuti poin-poin yang disediakan dalam Inmendagri terbaru tentang PPKM Level 2. ”Semuanya masih sama, untuk WFO pekerja dan sekolah dengan PTM maksimal 50 persen. Sisanya kita ikuti poin-poin di Inmendagri yang akan dituangkan di SE Satgas Covid-19 Banyuwangi,” kata Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi itu.

Sebelum turun Level 2, selama sepekan Banyuwangi berada di Level 3. Ada empat faktor penunjang mengapa Banyuwangi turun ke Level 2.  Faktor pertama, penurunan angka konfirmasi Covid yang cukup signifikan. Angka positivity rate di Banyuwangi pada Minggu lalu (5/9) sempat tercatat berada di 0,86 persen.

Kemarin (6/9) sudah di angka 1,15%, jauh di bawah angka penularan pada bulan Juli lalu yang berada di angka 11 persen. Angka ini jauh berada di bawah standar WHO, yaitu 5 persen. Saat ini positivity rate Banyuwangi berada di angka yang paling rendah di Jatim. Hal ini seolah menjawab keraguan banyak pihak tentang angka konfirmasi di Banyuwangi.

Rio menyebutkan, angka testing di Banyuwangi cukup tinggi, sedangkan temuanya sangat rendah sehingga membuat kasus penularan sangat kecil. Faktor selanjutnya, angka kematian terus menurun. Setiap hari kasus kematian berada di bawah angka sepuluh dan lima pasien. Dibanding bulan Juli lalu, angka kematian mencapai 20 orang per hari.

Kemudian, imbuh Rio, angka BOR (keterisian tempat tidur) di tujuh rumah sakit rujukan Covid berada di bawah 10 persen. Angka ini jauh menurun di bawah bulan Juli lalu yang rata-rata berada di atas 80 persen. ”Rasio tracing kita juga mendekati batas yang ditentukan, minimal 15 tracing untuk setiap kasus,” tegasnya.

Perubahan Level 2 memiliki konsekuensi untuk bisa membuat banyak kelonggaran di kegiatan masyarakat. Rio mengingatkan masyarakat jangan sampai terlena dengan relaksasi tersebut. Dia meminta protokol kesehatan tetap diterapkan di mana saja. PPKM Level 4 dan 3 diharapkan bisa menjadi pengalaman bagi masyarakat untuk menegakkan dan membudayakan protokol kesehatan.

”Jika ingin terkendali, harus tetap diimbangi dengan prokes yang ketat. Kalau kita lengah, maka kita akan kembali ke Level 3, Level 4. Dengan penurunan level ini, masyarakat jangan sampai euforia,” pesan Rio. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/