alexametrics
24 C
Banyuwangi
Wednesday, July 6, 2022

Sabet 6 Penghargaan dari Tujuh Kategori di Tianjin

Masa pandemi Covid-19 tak menghalangi perkembangan prestasi siswa-siswi MAN Banyuwangi di bidang robotik. Mereka mampu mendulang prestasi di tiga event yang digelar di beberapa negara, seperti Zimbabwe, Hongkong, dan Tiongkok.

 

FREDY RIZKI, Banyuwangi

 

USIA kegiatan ekstrakurikuler kelompok ilmiah remaja dan robotik di MAN Banyuwangi baru seumur jagung. Mereka baru berdiri tahun 2019. Kendati masih minim jam terbang, kiprah mereka bisa bicara di level internasional.

Selama tahun 2021, ada tiga kejuaraan robotik yang diikuti perwakilan sekolah yang beralamat di Jalan Ikan Tengiri Nomor 2, Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi tersebut. Mulai dari event virtual Robocup Asia Pasific Tianjin Invitation Tournament di Tianjin-Tiongkok, Global Youth Science di Hongkong, sampai Africa Science Buskers Festival 2021 di Zimbabwe.

Ada enam siswa yang terlibat dalam event-event tersebut. Mereka adalah Meyriza Widya Pranata, Muhsinul Wafa, Hendika Putra Anugerah, Dinda Rima Rachcita, Chika Nabila Orisandi, dan Naviatun Nadhiva. Di event Global Youth Science Hongkong, tim dari MAN Banyuwangi mendapatkan dua penghargaan, yaitu Honorable Mention. Penghargaan kedua Visitor’s Favorite Award. Video mereka menjadi yang paling difavoritkan di event tersebut.

Selanjutnya di event Africa Science Buskers Festival 2021. Dari event ini, MAN Banyuwangi mendapatkan penghargaan di dua kategori, yaitu Influencer Award dan Community Awareness.

”Untuk kategori Visitor’s Favorite Award dengan perolehan skor tertinggi dibanding kompetitor lain,” ujar Teguh Prasetiyo, pembina ekstrakurikuler kelompok ilmiah remaja dan robotik.

Teguh menjelaskan, di dua ajang itu tim robotik MAN Banyuwangi menggunakan robot dengan jenis Transporter with Internet of Thing (Iot) Based Camera. Robot ini memiliki kemampuan untuk berjalan dengan menggunakan sensor kemudian menjepit benda-benda yang menjadi objek sasaran.

Selain memindahkan objek benda, robot ini juga bisa melakukan scan barcode yang tertera di benda yang menjadi objek, lalu mengirimkan data dari barcode tersebut melalui jaringan internet kepada operator atau komputer. ”Robot itu kita pasangi logika atau coding di dalam micro controller. Robot yang dikerjakan anak-anak bisa bergerak sendiri,” jelas Teguh.

Di samping membawa prestasi, imbuh Teguh, robot yang dibuat tim robotik MAN Banyuwangi itu sebenarnya dirpoyeksikan sebagai robot pemindah barang atau transporter. Robot ini terinspirasi dari kondisi pandemi Covid yang membuat manusia harus mengurangi interaksi. Robot itu bisa memindahkan barang sehingga bisa meminimalisasi interaksi manusia. ”Ke depan proyeksinya untuk membantu masyarakat di saat pandemi,” imbuh alumnus Universitas Negeri Malang itu.

Berbeda dengan kejuaraan di Hongkong dan Afrika, untuk kejuaraan di Tiongkok tim MAN Banyuwangi tidak mengirimkan video robot kepada panitia. Peserta di event kejuaraan tersebut hanya diminta mengirimkan coding untuk bisa menjalankan robot yang sudah disediakan panitia.

Robot tersebut harus bisa mengumpulkan objek yang disesuaikan dengan warna kemudian menghindari halangan dinding dan garis. Coding yang dikirim oleh tim harus membuat robot bisa memahami perintah-perintah tersebut. Hasilnya, tim robotik MAN Banyuwangi bisa mendapatkan skor yang cukup tinggi.

Teguh mengatakan, tim MAN Banyuwangi juga diminta untuk bekerja sama dengan tim dari Jepang dan Tiongkok. Hal ini menjadi penilaian tersendiri dari salah satu kategori yang dilombakan. Hasilnya, dari tujuh kategori, MAN Banyuwangi bisa menyabet enam kategori. ”Di Tianjin jurinya cukup ketat. Tapi anak-anak bisa membuat coding yang sesuai dengan kriteria dan mendapat nilai tertinggi, skornya sekitar 2.000,” imbuh bapak tiga anak itu.

Moncernya prestasi robotik MAN Banyuwangi tak muncul secara instan. MAN sebagai sekolah yang selama ini terkenal dengan pendidikan agamanya membuat para siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler robotik harus bekerja keras. Mereka harus bisa membagi waktu antara belajar materi pelajaran reguler dan segala macam ilmu tentang robotika. Ini pun menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah.

Berbagai cara dilakukan, salah satunya dengan mengiming-imingi siswa dengan beasiswa agar mau berlatih lebih giat. Awal terbentuk, tim robotik MAN Banyuwangi sempat kalah di salah satu event robotik di Malang. Tapi hal itu tak menurunkan semangat mereka. Buktinya tim tetap bisa berkiprah di tiga ajang di luar negeri itu. ”Tantangannya ya harus mengajari anak-anak dari nol untuk bahasa pemrograman. Tapi ini tidak jadi masalah selagi anak-anak mau belajar lebih keras,”ujar pria yang menekuni ilmu komputasi tersebut.

Ke depannya, Teguh berharap masih banyak prestasi yang bisa dikembangkan oleh siswa-siswi di sekolahnya. Meskipun berbasis sekolah pendidikan agama Islam, dia Ingin MAN Banyuwangi tetap kompetitif di bidang perkembangan teknologi. ”Ada beberapa event lagi yang kita bidik. Salah satunya Madrasah Robotic Competition (MRC). Tahun ini kita belum bisa ikut, tapi tahun depan Insya Allah kita bisa,” tandasnya. (fre/aif/c1)

Masa pandemi Covid-19 tak menghalangi perkembangan prestasi siswa-siswi MAN Banyuwangi di bidang robotik. Mereka mampu mendulang prestasi di tiga event yang digelar di beberapa negara, seperti Zimbabwe, Hongkong, dan Tiongkok.

 

FREDY RIZKI, Banyuwangi

 

USIA kegiatan ekstrakurikuler kelompok ilmiah remaja dan robotik di MAN Banyuwangi baru seumur jagung. Mereka baru berdiri tahun 2019. Kendati masih minim jam terbang, kiprah mereka bisa bicara di level internasional.

Selama tahun 2021, ada tiga kejuaraan robotik yang diikuti perwakilan sekolah yang beralamat di Jalan Ikan Tengiri Nomor 2, Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi tersebut. Mulai dari event virtual Robocup Asia Pasific Tianjin Invitation Tournament di Tianjin-Tiongkok, Global Youth Science di Hongkong, sampai Africa Science Buskers Festival 2021 di Zimbabwe.

Ada enam siswa yang terlibat dalam event-event tersebut. Mereka adalah Meyriza Widya Pranata, Muhsinul Wafa, Hendika Putra Anugerah, Dinda Rima Rachcita, Chika Nabila Orisandi, dan Naviatun Nadhiva. Di event Global Youth Science Hongkong, tim dari MAN Banyuwangi mendapatkan dua penghargaan, yaitu Honorable Mention. Penghargaan kedua Visitor’s Favorite Award. Video mereka menjadi yang paling difavoritkan di event tersebut.

Selanjutnya di event Africa Science Buskers Festival 2021. Dari event ini, MAN Banyuwangi mendapatkan penghargaan di dua kategori, yaitu Influencer Award dan Community Awareness.

”Untuk kategori Visitor’s Favorite Award dengan perolehan skor tertinggi dibanding kompetitor lain,” ujar Teguh Prasetiyo, pembina ekstrakurikuler kelompok ilmiah remaja dan robotik.

Teguh menjelaskan, di dua ajang itu tim robotik MAN Banyuwangi menggunakan robot dengan jenis Transporter with Internet of Thing (Iot) Based Camera. Robot ini memiliki kemampuan untuk berjalan dengan menggunakan sensor kemudian menjepit benda-benda yang menjadi objek sasaran.

Selain memindahkan objek benda, robot ini juga bisa melakukan scan barcode yang tertera di benda yang menjadi objek, lalu mengirimkan data dari barcode tersebut melalui jaringan internet kepada operator atau komputer. ”Robot itu kita pasangi logika atau coding di dalam micro controller. Robot yang dikerjakan anak-anak bisa bergerak sendiri,” jelas Teguh.

Di samping membawa prestasi, imbuh Teguh, robot yang dibuat tim robotik MAN Banyuwangi itu sebenarnya dirpoyeksikan sebagai robot pemindah barang atau transporter. Robot ini terinspirasi dari kondisi pandemi Covid yang membuat manusia harus mengurangi interaksi. Robot itu bisa memindahkan barang sehingga bisa meminimalisasi interaksi manusia. ”Ke depan proyeksinya untuk membantu masyarakat di saat pandemi,” imbuh alumnus Universitas Negeri Malang itu.

Berbeda dengan kejuaraan di Hongkong dan Afrika, untuk kejuaraan di Tiongkok tim MAN Banyuwangi tidak mengirimkan video robot kepada panitia. Peserta di event kejuaraan tersebut hanya diminta mengirimkan coding untuk bisa menjalankan robot yang sudah disediakan panitia.

Robot tersebut harus bisa mengumpulkan objek yang disesuaikan dengan warna kemudian menghindari halangan dinding dan garis. Coding yang dikirim oleh tim harus membuat robot bisa memahami perintah-perintah tersebut. Hasilnya, tim robotik MAN Banyuwangi bisa mendapatkan skor yang cukup tinggi.

Teguh mengatakan, tim MAN Banyuwangi juga diminta untuk bekerja sama dengan tim dari Jepang dan Tiongkok. Hal ini menjadi penilaian tersendiri dari salah satu kategori yang dilombakan. Hasilnya, dari tujuh kategori, MAN Banyuwangi bisa menyabet enam kategori. ”Di Tianjin jurinya cukup ketat. Tapi anak-anak bisa membuat coding yang sesuai dengan kriteria dan mendapat nilai tertinggi, skornya sekitar 2.000,” imbuh bapak tiga anak itu.

Moncernya prestasi robotik MAN Banyuwangi tak muncul secara instan. MAN sebagai sekolah yang selama ini terkenal dengan pendidikan agamanya membuat para siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler robotik harus bekerja keras. Mereka harus bisa membagi waktu antara belajar materi pelajaran reguler dan segala macam ilmu tentang robotika. Ini pun menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah.

Berbagai cara dilakukan, salah satunya dengan mengiming-imingi siswa dengan beasiswa agar mau berlatih lebih giat. Awal terbentuk, tim robotik MAN Banyuwangi sempat kalah di salah satu event robotik di Malang. Tapi hal itu tak menurunkan semangat mereka. Buktinya tim tetap bisa berkiprah di tiga ajang di luar negeri itu. ”Tantangannya ya harus mengajari anak-anak dari nol untuk bahasa pemrograman. Tapi ini tidak jadi masalah selagi anak-anak mau belajar lebih keras,”ujar pria yang menekuni ilmu komputasi tersebut.

Ke depannya, Teguh berharap masih banyak prestasi yang bisa dikembangkan oleh siswa-siswi di sekolahnya. Meskipun berbasis sekolah pendidikan agama Islam, dia Ingin MAN Banyuwangi tetap kompetitif di bidang perkembangan teknologi. ”Ada beberapa event lagi yang kita bidik. Salah satunya Madrasah Robotic Competition (MRC). Tahun ini kita belum bisa ikut, tapi tahun depan Insya Allah kita bisa,” tandasnya. (fre/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/