RADAR BANYUWANGI - Pintu Kereta Rel Listrik (KRL) ternyata tidak sekadar membuka dan menutup secara otomatis. Ada sistem pengaman yang dirancang untuk memastikan pintu terkunci sebelum kereta bergerak. Namun, teknologi ini tetap memiliki keterbatasan.
Pernah bertanya-tanya mengapa petugas KRL selalu mengingatkan penumpang agar tidak menahan pintu yang hendak menutup? Rupanya, tindakan tersebut bukan hanya mengganggu perjalanan, melainkan juga berpotensi membahayakan keselamatan.
Di balik pintu otomatis KRL, terdapat mekanisme pengamanan yang mengandalkan sensor, perangkat pengunci, dan sistem kendali elektronik.
Salah satu teknologi yang dikenal dalam industri perkeretaapian adalah door-traction interlock. Sistem ini dirancang untuk mencegah pemberian tenaga penggerak ketika pintu belum memenuhi persyaratan keselamatan.
Lantas, bagaimana cara kerjanya?
Baca Juga: Sempat Ditarik Usai Temuan Fraktur, 7 Rangkaian KRL INKA Kembali Layani Bogor Line
Cara Kerja Interlock pada Pintu Kereta
Interlock merupakan mekanisme pengaman yang menghubungkan kondisi pintu dengan sistem penggerak kereta.
Prinsipnya, tenaga traksi hanya boleh diberikan ketika pintu penumpang yang dipersyaratkan telah tertutup dan terkunci.
Ketentuan tersebut antara lain tercantum dalam regulasi teknis perkeretaapian Uni Eropa Nomor 1302/2014, bagian 4.2.5.5.7, mengenai door-traction interlock.
Dalam sistem kereta yang menerapkan teknologi tersebut, perangkat pendeteksi memastikan posisi pintu dan status pengunciannya.
Informasi itu kemudian diteruskan ke sistem pengendali. Jika masih terdapat pintu yang belum terkonfirmasi tertutup dan terkunci, interlock menghambat pemberian tenaga traksi secara normal.
Sebaliknya, ketika persyaratan keselamatan terpenuhi, sistem memungkinkan pengoperasian traksi sesuai prosedur.
Meski begitu, mekanisme ini tidak dapat disamakan dengan rem otomatis yang pasti menghentikan kereta dalam segala keadaan.
Penerapan interlock juga berbeda menurut jenis dan desain rangkaian. Karena itu, spesifikasi teknis suatu armada tidak bisa langsung dianggap berlaku pada seluruh KRL.
Baca Juga: KRL Produksi Banyuwangi Kembali Menggelinding, Kapasitas Angkut Penumpang Jabodetabek Naik
KRL Baru Sudah Dilengkapi Teknologi Antijepit
Selain interlock, teknologi antijepit menjadi bagian penting dari pengembangan pintu kereta modern.
KAI Commuter telah menerapkan fitur tersebut pada KRL seri CLI-125 yang mulai dioperasikan pada 1 Juni 2025.
Berdasarkan keterangan resmi KAI Commuter, rangkaian ini memiliki 12 kereta, dengan delapan pintu penumpang pada setiap kereta, masing-masing empat pintu di setiap sisi.
Armada tersebut juga dibekali Train Control Monitoring System (TCMS), yang mendukung pengendalian dan pemantauan operasional secara terpusat.
Direktur Utama KAI Commuter saat itu, Asdo Artriviyanto, menjelaskan fungsi teknologi antijepit pada pintu otomatis tersebut.
"KRL baru ini mengadopsi teknologi Anti Trap yang berfungsi untuk keselamatan dan mencegah potensi penumpang terjepit pintu otomatis," jelas Asdo, seperti dikutip dari Kompas.com, 1 Juni 2025.
Secara umum, teknologi antijepit bekerja dengan mendeteksi hambatan ketika pintu menutup. Bergantung pada desainnya, sistem dapat menghentikan gerakan pintu atau memerintahkan pintu membuka kembali.
Namun, kemampuan tersebut memiliki batas.
Baca Juga: 23 KRL Bekas Jepang Disiapkan Jadi Solusi Transisi, MTI Minta Audit Kelaikan
Mengapa Penumpang Masih Bisa Terjepit?
Keberadaan sensor bukan berarti seluruh benda yang menghalangi pintu pasti terdeteksi.
Laporan tahunan 2022 dari Rail Accident Investigation Branch (RAIB), lembaga investigasi kecelakaan kereta api Inggris, menjelaskan bahwa benda tipis atau mudah berubah bentuk dapat luput dari pendeteksian.
Contohnya meliputi tangan dan tali tas. Dalam sejumlah kejadian yang diteliti RAIB, penumpang terjepit ketika pintu menutup, kemudian terseret saat kereta berangkat.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa sistem otomatis tetap membutuhkan dukungan pemeriksaan keselamatan dan pengawasan petugas.
Baca Juga: KNKT Ungkap 6 Faktor Tabrakan Argo Bromo Anggrek dan KRL Bekasi Timur
Pernah Terjadi di KRL Jabodetabek
Risiko gangguan pintu bukan sekadar persoalan teknis.
Pada 2 Agustus 2024, pintu KRL Commuter Line nomor 1155 rute Bogor–Jakarta Kota dilaporkan tidak tertutup sempurna ketika kereta berjalan.
Peristiwa yang terjadi di Stasiun Pasar Minggu, Jakarta Selatan, itu sempat menjadi perhatian publik.
KAI Commuter menjelaskan bahwa gangguan dipicu oleh penumpang yang menahan pintu, ditambah kondisi kereta yang padat.
Petugas kemudian membantu menangani pintu serta berkoordinasi dengan tim teknis untuk pemeriksaan dan perbaikan.
External Relations and Corporate Image Care KAI Commuter saat itu, Leza Arlan, mengingatkan penumpang untuk tidak menghalangi penutupan pintu.
"Kami imbau kepada seluruh pengguna untuk tidak menahan atau mengganjal pintu pada saat akan ditutup," kata Leza, dikutip dari detikNews, 2 Agustus 2024.
Peristiwa tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan kondisi atau konfigurasi interlock pada rangkaian yang mengalami gangguan.
Namun, kejadian itu menjadi pengingat bahwa pengamanan teknis harus berjalan bersama prosedur operasional dan kedisiplinan penumpang.
Baca Juga: Rencana Impor 23 KRL Bekas Jepang Jadi Sorotan, Ini Alasan KAI dan Kritik FAKTA
Apa yang Dilakukan jika Pintu KRL Bermasalah?
Ketika pintu tidak dapat menutup atau terkunci dengan semestinya, penanganannya menjadi kewenangan petugas yang berwenang.
Petugas perlu memeriksa kondisi pintu, memastikan keselamatan penumpang, dan menentukan penanganan berdasarkan prosedur serta karakteristik armada.
Jika diperlukan, pintu yang bermasalah dapat ditangani melalui prosedur pengamanan khusus sesuai ketentuan teknis kereta.
Penumpang tidak diperkenankan mencoba memperbaiki atau membuka paksa pintu.
Apabila menemukan pintu tidak tertutup sempurna, terdapat barang terjepit, atau muncul kondisi berbahaya, penumpang sebaiknya segera melaporkannya kepada petugas.
Saat peringatan penutupan pintu berbunyi, jangan memaksakan diri masuk. Pastikan pula tas dan barang bawaan tidak menghalangi jalur pintu.
Editor : Lugas Rumpakaadi