Cuma Buka Minggu Pagi, Pasar Wit-Witan Banyuwangi Tawarkan Sarapan Tempo Dulu

Mohammad Alfin Aulia Hamawan • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 20:29 WIB
Pedagang menyiapkan sajian geseng di Pasar Wit-Witan, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi.
(Pemkab Banyuwangi)
Pedagang menyiapkan sajian geseng di Pasar Wit-Witan, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi. (Pemkab Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Minggu pagi di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, punya suasana berbeda. Di bawah rindangnya pepohonan, Pasar Wit-Witan menjadi tempat warga dan wisatawan berburu sarapan, mencicipi jajanan tradisional, sekaligus menikmati suasana pasar tempo dulu.

Pasar kuliner ini berada sekitar 16 kilometer dari pusat Kota Banyuwangi. Berdasarkan laporan Radar Banyuwangi pada Juli 2026, Pasar Wit-Witan buka setiap Minggu pukul 06.30–09.30 WIB. Pengunjung perlu datang pagi karena waktu operasionalnya relatif singkat.

Deretan lapak berbahan bambu dan atap tradisional berdiri di antara pepohonan. Bangku-bangku sederhana menjadi tempat pengunjung menikmati makanan. Daya tarik pasar bukan semata-mata menunya, melainkan juga pengalaman bersantap di ruang terbuka yang teduh.

Dari Tiwul hingga Geseng Bangsong

Pilihan makanan di sini beragam. Dalam liputan Radar Banyuwangi pada September 2025, pedagang menawarkan cenil, tiwul, getuk, dan kucur. Ada pula hidangan seperti nasi pecel, sego cawuk, sate, dan lontong jangan. Untuk minuman, pengunjung bisa menemukan es dawet.

Sementara itu, arsip Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada 2019 mencatat geseng bangsong, rawon alas, gatot, hingga jamu sebagai bagian dari kuliner yang pernah dijajakan. Geseng bangsong merupakan olahan itik jantan bercita rasa pedas dan asam. Daftar dagangan bisa berubah sesuai pedagang yang hadir.

Konsep tradisional juga tampak pada penyajiannya. Sejak awal penyelenggaraan, pengelola mendorong penggunaan daun pisang, tempurung kelapa, dan bambu sebagai wadah pengganti plastik. Para pedagang juga pernah diwajibkan mengenakan busana adat Using.

Mochamad Lutfi, yang ketika itu menjabat Camat Singojuruh, menjelaskan bahwa aturan tersebut dibuat agar penjual tidak menggunakan tempat atau wadah dari plastik. Pernyataan itu dimuat situs resmi Pemkab Banyuwangi pada 1 November 2019.

Ada Jejak Budaya Kebo-Keboan

Pasar Wit-Witan tidak hanya menjadi tempat makan. Kegiatan budaya turut memberi warna. Foto jurnalistik ANTARA pada 12 Januari 2025 memperlihatkan pegiat budaya berkostum kebo-keboan berinteraksi dengan pengunjung di kawasan pasar.

Pengalaman itu juga dirasakan Rini, warga Srono yang datang bersama keluarganya. Dalam laporan Radar Banyuwangi pada September 2025, dia mengatakan, "Baru kali ini lihat bentuk Kebo-keboan secara dekat". Kehadiran atraksi budaya tetap perlu dicek karena belum tentu berlangsung setiap pekan.

Pedagang Ikut Merasakan Manfaat

Keramaian pasar membuka peluang pendapatan bagi warga. Ismiyatun, pedagang kue tradisional, mengaku omzetnya saat berjualan di pasar pernah mencapai Rp2 juta sehari, jauh di atas penjualan sekitar Rp200 ribu saat berdagang di rumah.

"Alhamdulillah, sejak ada pasar ini bisa bantu perekonomian," kata Ismiyatun, sebagaimana dikutip Radar Banyuwangi dalam liputan 22 September 2025.

Bagi pengunjung, Pasar Wit-Witan menawarkan kesempatan mencicipi kuliner khas Banyuwangi dan melihat bagaimana pasar tematik menopang usaha warga. Sebelum berangkat, sebaiknya pastikan kembali jadwal operasional dan ketersediaan menu melalui pengelola setempat.

Editor : Lugas Rumpakaadi
wisata kuliner Banyuwangi Pasar Wit-Witan Wisata Singojuruh kuliner tradisional Banyuwangi Pasar Witwitan Alasmalang