Ziarah ke Makam Imam Bukhari, Abdul Kadir Temukan Jejak Bung Karno

Syaifuddin Mahmud • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 21:00 WIB
PENINGGALAN ISLAM: Abdul Kadir berdiri di depan makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan, Rabu (7/10). Situs religi ini menjadi magnet kunjungan wisatawan muslim dari berbagai penjuru dunia. (KADIR for Radar Banyuwangi)
PENINGGALAN ISLAM: Abdul Kadir berdiri di depan makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan, Rabu (7/10). Situs religi ini menjadi magnet kunjungan wisatawan muslim dari berbagai penjuru dunia. (KADIR for Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Perjalanan darat Abdul Kadir bersama Radar Banyuwangi menembus Asia Tengah tak sekadar soal menaklukkan jarak. Di tengah orientasi medan turing, rider asal Banyuwangi itu menyempatkan diri berziarah ke Makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan, Selasa (7/10), sekaligus menelusuri jejak sejarah hubungan Indonesia dengan salah satu ulama hadis paling berpengaruh di dunia.

Kadir tiba di kompleks makam sekitar pukul 09.30 waktu setempat. Didampingi staf KBRI Uzbekistan, Zoir, dia memasuki kompleks memorial Imam Bukhari yang berada di Desa Hartang, sekitar 280 kilometer dari Tashkent.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memanjatkan doa sekaligus memohon kelancaran perjalanan panjangnya menjelajahi kawasan Asia Tengah.

Namun, ada kisah lain yang membuat kunjungan itu terasa istimewa.

Begitu mengetahui Kadir berasal dari Indonesia, penjaga makam langsung menyambutnya dengan hangat. Nama Presiden Soekarno bahkan disebut dalam percakapan mereka.

Hal itu berkaitan dengan sejarah pemugaran makam Imam Bukhari. Pada 1956, Presiden Soekarno disebut menjadi salah satu tokoh yang mendorong pemerintah Uni Soviet mencari dan memugar makam ulama besar tersebut. Upaya itu berkaitan dengan rencana kunjungan kenegaraan Bung Karno ke Moskow.

Dari Bukhara Mengembara ke Dunia Islam

Kompleks makam Imam Bukhari pagi itu masih relatif lengang. Di kawasan seluas sekitar 20 hektare tersebut, suasana religius berpadu dengan arsitektur khas Asia Tengah.

Imam Bukhari lahir di Bukhara pada 810 Masehi dengan nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari. Ia dikenal dengan gelar Amirul Mukminin fil Hadits karena penguasaannya yang sangat luas terhadap hadis.

Sejak usia muda, Imam Bukhari dikenal memiliki daya hafal luar biasa. Perjalanan keilmuannya kemudian membawanya mengembara ke berbagai pusat pengetahuan Islam, termasuk Makkah, Madinah, hingga Mesir.

Selama bertahun-tahun, ia mengumpulkan dan menyeleksi hadis dengan metode yang sangat ketat. Dari perjalanan panjang tersebut lahir Shahih Bukhari, kitab hadis yang menjadi salah satu rujukan terpenting dalam tradisi keilmuan Islam.

Imam Bukhari wafat pada usia sekitar 62 tahun pada 870 Masehi di Desa Khartand, kawasan yang kini menjadi bagian penting dari perjalanan wisata religi di Uzbekistan.

Bagi Kadir, berkunjung langsung ke tempat tersebut memberikan pengalaman berbeda. Perjalanan turing yang selama ini identik dengan jalan panjang, kendaraan, dan tantangan medan berubah menjadi perjalanan yang mempertemukan sejarah, agama, dan budaya.

Makam Imam Bukhari Jadi Destinasi Wisata Religi

Kompleks memorial Imam Bukhari kini telah tertata sebagai salah satu destinasi wisata religi internasional.

Makam utama berada di dalam kompleks dengan arsitektur berkubah biru yang kuat mencerminkan karakter bangunan Asia Tengah. Selain makam, terdapat masjid megah dan museum yang menyimpan berbagai koleksi terkait Imam Bukhari.

Pengunjung juga dapat melihat sejumlah peninggalan dan koleksi sejarah, termasuk pakaian serta kitab-kitab yang dikaitkan dengan perjalanan keilmuan sang ulama.

Kawasan tersebut juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Lapak makanan halal dan suvenir tumbuh di sekitar kompleks untuk melayani pengunjung dari berbagai negara.

Wisatawan mancanegara disebut tidak dikenai tiket untuk memasuki kawasan kompleks. Namun, untuk memasuki area makam, pengunjung dikenai tarif sekitar Rp 30 ribu jika dikonversikan ke mata uang Indonesia.

Napak Tilas Sejarah Indonesia di Uzbekistan

Bagi Kadir, kunjungan ke makam tersebut menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan keliling dunia yang sedang dijalaninya.

Di satu sisi, ia berziarah ke makam seorang ulama besar yang perjalanan hidupnya sarat dengan kisah pengembaraan ilmu. Di sisi lain, ia menemukan kembali jejak hubungan historis Indonesia dengan kawasan Asia Tengah.

Kisah Bung Karno yang disebut penjaga makam menjadi pengingat bahwa hubungan Indonesia dengan Uzbekistan memiliki catatan sejarah yang panjang.

Perjalanan Abdul Kadir pun berlanjut. Setelah mengenal lebih dekat salah satu situs penting sejarah Islam di Samarkand, ia kembali bersiap menghadapi perjalanan berikutnya dalam agenda turing Asia Tengah bersama Radar Banyuwangi.

Bagi seorang rider, perjalanan mungkin diukur dari panjangnya kilometer yang ditempuh. Namun di Samarkand, Kadir menemukan bahwa setiap kilometer juga bisa membawa cerita tentang sejarah, tokoh besar, dan hubungan antarkawasan yang melampaui batas negara. (aif)

Editor : Ali Sodiqin
Samarkand Uzbekistan Makam Imam Bukhari Soekarno Imam Bukhari abdul kadir imam bukhari