RADAR BANYUWANGI – Perjalanan panjang Rider Abdul Kadir menuju Afghanistan memasuki fase krusial. Di tengah persiapan menembus jalur darat Asia Tengah, mantan Wakil Bupati Banyuwangi itu kini mengurus visa Afghanistan di kantor konsulat negara tersebut di Kota Turkistan, Uzbekistan. Jika administrasi rampung sesuai jadwal, Kadir bersiap mengendarai sepeda motor menuju perbatasan Tajikistan-Afghanistan melalui Dushanbe.
Pengurusan visa menjadi salah satu tahapan penting sebelum perjalanan memasuki wilayah Afghanistan. Prosedur administrasi negara tersebut dikenal ketat sehingga Kadir harus memastikan seluruh data dan dokumen perjalanan sesuai persyaratan.
Kadir mendatangi kantor konsulat bersama pendamping lokal dari KBRI bernama Zoir. Tak hanya mengurus dokumen untuk dirinya sendiri, administrasi visa juga dipersiapkan untuk dua rekan touring, Hari Cahyo dan Bintoro, yang dijadwalkan menyusul ke Uzbekistan.
“Setelah dokumen resmi di-apply, proses penerbitan visa membutuhkan waktu sekitar tiga hari. Selain untuk paspor saya pribadi, saya juga sekaligus mengurus administrasi visa milik dua rekan turing, yakni Hari Cahyo dan Bintoro, yang dijadwalkan segera terbang menyusul ke Uzbekistan,” ujar Kadir saat dihubungi melalui telepon seluler, Minggu malam (5/10).
Proses pengajuan tersebut harus dilalui dengan antrean yang cukup panjang. Kadir menyebut terdapat puluhan pemohon dari berbagai negara yang juga mengurus dokumen di kantor konsulat.
Meski demikian, dia menilai pelayanan administrasi yang diterimanya berlangsung profesional dan sigap. Setelah dokumen diajukan, Kadir kini tinggal menunggu proses penerbitan visa yang diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari.
Bagi Kadir, visa tersebut menjadi dokumen penting sebelum melanjutkan ekspedisi bermotor yang telah memasuki kawasan Asia Tengah. Rute berikutnya diarahkan menuju Dushanbe, Tajikistan, sebelum perjalanan berlanjut ke tapal batas Afghanistan.
Perjalanan menuju Afghanistan bukan sekadar persoalan jarak. Setiap tahapan membutuhkan persiapan administrasi, pemetaan jalur, serta penyesuaian dengan kondisi wilayah yang akan dilalui.
Karena itu, masa tunggu visa dimanfaatkan Kadir untuk mengenal lebih dekat sejarah dan kebudayaan kawasan Asia Tengah. Di Samarkand, Uzbekistan, petualang asal Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, tersebut menyempatkan diri mengunjungi sejumlah situs bersejarah.
Salah satunya Gur-e-Amir, kompleks mausoleum yang menjadi tempat peristirahatan Amir Timur atau Timur Lenk, penguasa Dinasti Timurid. Bangunan yang rampung pada awal abad ke-15 tersebut menjadi salah satu peninggalan penting sejarah Samarkand.
Kadir juga menyempatkan diri berziarah di kompleks tersebut. Selain nilai sejarah, Gur-e-Amir memiliki dimensi spiritual karena makam Amir Timur berada dekat dengan makam guru spiritualnya, Syekh Mir Said Baraka.
Dari Gur-e-Amir, perjalanan wisata sejarah berlanjut ke Registan Square. Kawasan monumental di jantung Samarkand itu dikenal dengan tiga bangunan madrasah megah yang mengapit alun-alun dan membentuk komposisi arsitektur menyerupai huruf U.
Bagi Kadir, kunjungan tersebut menjadi selingan berharga di tengah persiapan ekspedisi. Perjalanan yang semula berfokus pada roda, peta, dan perbatasan kini juga membuka kesempatan untuk menyusuri jejak peradaban besar Asia Tengah.
Namun, tujuan utama tetap Afghanistan. Setelah visa diterbitkan, Kadir akan melanjutkan perjalanan darat menuju Dushanbe dan mempersiapkan penyeberangan menuju perbatasan Afghanistan.
Tahap pengurusan visa di Turkistan menjadi penentu berikutnya dalam ekspedisi tersebut. Jika seluruh dokumen selesai sesuai rencana, perjalanan motor lintas negara Kadir bersama rekan-rekannya akan memasuki salah satu bagian paling menantang dari rute Asia Tengah. (aif)
Editor : Ali Sodiqin