Yogyakarta Jadi Stasiun Keberangkatan WNA Terbanyak, Lampaui Gambir dan Bandung

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 09:20 WIB
Sejumlah penumpang WNA naik kereta api. KAI mencatat 93.189 pelanggan WNA berangkat dari stasiun Yogyakarta sepanjang Januari-Agustus 2026, tertinggi dibandingkan stasiun lain dalam jaringan KA jarak jauh dan lokal. (KAI)
Sejumlah penumpang WNA naik kereta api. KAI mencatat 93.189 pelanggan WNA berangkat dari stasiun Yogyakarta sepanjang Januari-Agustus 2026, tertinggi dibandingkan stasiun lain dalam jaringan KA jarak jauh dan lokal. (KAI)

RADAR BANYUWANGI - Stasiun Yogyakarta menjadi stasiun keberangkatan dengan jumlah pelanggan warga negara asing (WNA) terbanyak di jaringan kereta api jarak jauh dan lokal KAI sepanjang Januari-Agustus 2026.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat 93.189 pelanggan WNA berangkat dari Stasiun Yogyakarta selama delapan bulan pertama tahun ini. Jumlah tersebut melampaui Gambir dengan 84.011 pelanggan dan Bandung sebanyak 45.400 pelanggan.

Tingginya mobilitas pelanggan asing di Yogyakarta berlangsung seiring dengan peningkatan jumlah WNA yang menggunakan kereta api.

Sepanjang Januari-Agustus 2026, KAI melayani 498.232 pelanggan WNA pada kereta jarak jauh dan lokal. Angka itu naik 3,83 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 479.861 pelanggan.

Jika digabungkan dengan 262.369 penumpang WNA yang menggunakan Whoosh pada periode yang sama, jumlah pelanggan asing pada layanan KAI dan Whoosh mencapai 760.601 orang.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan kereta api menghubungkan kota-kota dengan karakter destinasi yang beragam.

“Kereta api menghubungkan berbagai kota dengan karakter destinasi yang beragam, mulai dari kawasan budaya, wisata alam, hingga pusat ekonomi,” ujar Anne.

Yogyakarta Ungguli Gambir

Selain Yogyakarta, Gambir dan Bandung, sejumlah stasiun lain juga mencatat aktivitas pelanggan WNA yang cukup tinggi.

Pasar Senen mencatat 25.080 pelanggan WNA, disusul Surabaya Gubeng 24.543 pelanggan, Semarang Tawang Bank Jateng 18.032 pelanggan, dan Malang 17.391 pelanggan.

Berikutnya, Probolinggo mencatat 12.148 pelanggan, Surabaya Pasar Turi 11.491 pelanggan, serta Solo Balapan 10.158 pelanggan.

Sebaran tersebut menunjukkan mobilitas pelanggan asing tidak hanya terkonsentrasi di Jakarta dan Bandung. Kota-kota yang dikenal sebagai tujuan wisata, seperti Yogyakarta, Malang, Solo, hingga kawasan yang menjadi pintu menuju destinasi lain seperti Probolinggo, juga mencatat jumlah pelanggan WNA yang tinggi.

Data KAI itu perlu dibaca secara hati-hati. Catatan perusahaan menunjukkan jumlah pelanggan berdasarkan kewarganegaraan, bukan jumlah wisatawan asing berdasarkan tujuan perjalanan.

Dengan demikian, tidak seluruh pelanggan WNA KAI dapat otomatis dikategorikan sebagai wisatawan.

Hampir Tiga Kali Lipat Dibanding 2022

Dalam empat tahun terakhir, penggunaan kereta api oleh pelanggan asing meningkat tajam.

Pada Januari–Agustus 2022, KAI mencatat 170.094 pelanggan WNA. Jumlah tersebut naik menjadi 383.732 pelanggan pada periode yang sama 2023 dan 447.655 pelanggan pada 2024.

Pada 2025, jumlahnya kembali meningkat menjadi 479.861 pelanggan. Tahun ini, angkanya mencapai 498.232 pelanggan.

Artinya, jumlah pelanggan WNA pada Januari–Agustus 2026 bertambah 328.138 orang atau 192,92 persen dibandingkan periode yang sama pada 2022. Volumenya kini hampir tiga kali lipat.

Puncak penggunaan sepanjang Januari–Agustus 2026 terjadi pada Juli dengan 96.940 pelanggan WNA. Pada Agustus, jumlahnya mencapai 92.418 pelanggan.

Wisman Indonesia Capai 10,58 Juta Kunjungan

Peningkatan mobilitas pelanggan asing terjadi ketika kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia juga tumbuh.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 10,58 juta kunjungan wisman sepanjang Januari–Agustus 2026. Jumlah itu naik 5,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Khusus Agustus 2026, kunjungan wisman mencapai sekitar 1,60 juta, naik 6,27 persen dibandingkan Agustus 2025.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut capaian tersebut sebagai yang tertinggi sejak pandemi Covid-19.

“Ini merupakan capaian tertinggi sejak tahun 2020. Grafiknya menunjukkan adanya kebangkitan ke arah kondisi sebelum pandemi Covid-19,” kata Ateng.

Meski bergerak dalam arah yang sama, data BPS dan KAI tidak dapat dibandingkan secara langsung. BPS mencatat kunjungan wisatawan mancanegara, sedangkan KAI menghitung pelanggan berdasarkan kewarganegaraan.

Karena itu, kenaikan kunjungan wisman belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa pertumbuhan tersebut secara langsung menyebabkan peningkatan pelanggan WNA KAI.

Malaysia Dominasi Penumpang Asing Whoosh

Mobilitas warga asing juga terlihat pada layanan Whoosh di koridor Jakarta–Bandung.

Sepanjang Januari–Agustus 2026, Whoosh melayani 262.369 penumpang WNA. Sebanyak 105.095 di antaranya merupakan warga Malaysia atau sekitar 40 persen dari seluruh penumpang asing Whoosh pada periode tersebut.

Sejak Whoosh beroperasi pada 2023 hingga Agustus 2026, jumlah penumpang WNA secara kumulatif mencapai 944.087 orang. Malaysia menjadi negara asal terbesar dengan 403.626 penumpang.

General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengatakan Malaysia menjadi pasar asing terbesar Whoosh.

“Wisatawan Malaysia menjadi pengguna Whoosh dari kalangan warga negara asing dengan jumlah terbesar,” ujar Eva.

Data KAI, KCIC, dan BPS memperlihatkan mobilitas warga asing di Indonesia yang terus meningkat.

Di jaringan KAI, Yogyakarta menjadi salah satu titik yang paling menonjol. Dengan 93.189 pelanggan WNA yang berangkat sepanjang Januari–Agustus 2026, Stasiun Yogyakarta berada di atas Gambir dan Bandung.

Pertumbuhan pelanggan WNA yang hampir tiga kali lipat dibandingkan 2022 sekaligus menunjukkan bahwa kereta api semakin banyak digunakan dalam mobilitas warga asing antarkota di Indonesia.

Editor : Lugas Rumpakaadi
wisatawan mancanegara KAI Stasiun Yogyakarta WHOOSH Kereta Api