Sebelum Gaspol Keliling Dunia, Abdul Kadir Sisir Jalur Ekstrem Asia Tengah

Syaifuddin Mahmud • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 01:00 WIB
Abdul Kadir bersama istri, Nunuk Sri Rahayu, saat menjajal kendaraannya di kawasan Agro Wisata Tamansuruh pada 22 Agustus lalu. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Abdul Kadir bersama istri, Nunuk Sri Rahayu, saat menjajal kendaraannya di kawasan Agro Wisata Tamansuruh pada 22 Agustus lalu. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Menaklukkan jalanan lintas negara tak cukup bermodal nyali dan mesin tangguh. Abdul Kadir memilih memastikan setiap kilometer yang bakal ditempuh benar-benar terukur. Sebelum memulai turing sepeda motor melintasi Asia Tengah, mantan Wakil Bupati Banyuwangi itu terbang ke Uzbekistan untuk menjalankan misi survei rute selama sepekan, mulai 3 hingga 8 Oktober. Tiga negara menjadi sasaran pemetaan: Uzbekistan, Kazakhstan, dan Tajikistan.

Langkah tersebut bukan sekadar pemanasan sebelum perjalanan panjang. Kadir ingin memastikan jalur yang akan dilalui aman, waktu tempuh realistis, serta kendaraan yang digunakan mampu menghadapi karakter medan yang berbeda-beda. Terlebih, sejumlah rute yang masuk dalam agenda ekspedisi berada di kawasan pegunungan dengan kontur jalan berliku dan menantang.

Kemarin siang (2/10), putra kelahiran Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, itu bertolak dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, pukul 12.45 WITA. Setelah transit di Kuala Lumpur, Malaysia, penerbangan dilanjutkan menuju Bandara Internasional Islam Karimov Tashkent (TAS), Uzbekistan.

Pesawat yang ditumpanginya mendarat pukul 21.50 waktu setempat. Setibanya di Asia Tengah, Kadir langsung bersiap menjalankan agenda survei yang telah disusun. Namun, kali ini dia belum akan memacu sepeda motor untuk menaklukkan lintasan antarnegara.

Bersama dua rekannya, Hari Cahyo dari Malang dan Bintoro dari Semarang, Kadir terlebih dahulu mematangkan perencanaan perjalanan. Survei lapangan menjadi tahapan krusial agar ekspedisi yang akan mereka jalani tidak sekadar mengandalkan keberanian, tetapi juga perhitungan teknis yang matang.

Memetakan Jalur, Menghitung Waktu Tempuh

Pada hari kedua dan ketiga, Kadir dijadwalkan bergerak menuju Turkistan, Kazakhstan. Kawasan tersebut menjadi salah satu titik penting untuk memetakan kondisi jalur selatan sekaligus mengidentifikasi pos pemeriksaan imigrasi di perbatasan.

Bukan hanya kondisi aspal yang menjadi perhatian. Kadir juga akan mencatat lokasi istirahat strategis, terutama di sekitar destinasi bersejarah seperti Mausoleum Khoja Ahmed Yasawi dan kompleks Karavansaray.

Dua lokasi tersebut menjadi bagian dari pemetaan perjalanan untuk memastikan mobilitas rombongan tetap efisien tanpa mengabaikan kesempatan menikmati destinasi yang dilalui.

”Ketepatan waktu dan estimasi jarak tempuh antarnegara menjadi fokus utama yang kami catat dalam dokumen survei,” ujarnya.

Perhitungan tersebut penting mengingat perjalanan lintas negara memiliki tantangan tersendiri. Selain jarak, kondisi jalan, proses pemeriksaan perbatasan, dan ketersediaan fasilitas pendukung turut menentukan kelancaran perjalanan.

Menguji Nyali di Jalur Pegunungan Tajikistan

Tantangan paling krusial dalam agenda survei dijadwalkan berlangsung pada hari kelima, 6 Oktober. Kadir akan meninjau kawasan pegunungan Tajikistan melalui jalur perbatasan Uzbekistan–Tajikistan.

Sasarannya adalah akses menuju Haft Kul atau Seven Lakes, rangkaian tujuh danau yang berada di kawasan pegunungan Tajikistan.

Jalur menuju destinasi tersebut dikenal memiliki karakter berliku, mengikuti kontur pegunungan yang mengitari danau-danau eksotis. Mulai Danau Mijgon hingga Marguzor, setiap ruas perjalanan membutuhkan kesiapan kendaraan dan kemampuan pengendara dalam menghadapi perubahan kondisi medan.

Bagi Kadir, survei langsung menjadi cara paling tepat untuk mengukur risiko sekaligus menentukan strategi berkendara.

”Lewat survei ini, saya bisa memastikan tipe ban dan spesifikasi kendaraan yang paling aman untuk digunakan saat turing nanti,” cetusnya.

Keputusan mengenai spesifikasi sepeda motor bukan perkara sepele. Karakter jalan yang berbeda antara satu negara dan negara lainnya menuntut penyesuaian teknis agar perjalanan tetap aman dan nyaman.

Samarkand, Memetakan Kenyamanan Perjalanan

Survei tidak melulu berkutat pada jalur ekstrem. Di Samarkand, Uzbekistan, Kadir juga memetakan aspek kenyamanan dan aksesibilitas destinasi yang akan dikunjungi selama ekspedisi.

Salah satu perhatian utamanya adalah akses zona penurunan penumpang di Registan Square, kompleks arsitektur bersejarah yang menjadi ikon Samarkand. Selain itu, area parkir di Kompleks Memorial Imam Al-Bukhari turut masuk dalam daftar pemeriksaan.

Pemetaan tersebut diperlukan agar rombongan dapat mengatur pergerakan secara lebih efektif, terutama ketika mengunjungi kawasan wisata yang memiliki pengaturan lalu lintas dan akses kendaraan tersendiri.

Ketersediaan bahan bakar dan akomodasi juga menjadi bagian dari data teknis yang dikumpulkan. Seluruh informasi itu akan menjadi bekal penting dalam menyusun jadwal perjalanan, menentukan titik pemberhentian, hingga mengantisipasi kebutuhan logistik selama turing.

Pulang ke Banyuwangi, Bersiap Kirim Motor

Misi survei dijadwalkan berakhir pada 8 Oktober, saat Kadir kembali ke Tashkent. Seluruh catatan lapangan akan dirangkum menjadi dokumen perjalanan yang menjadi acuan sebelum ekspedisi sesungguhnya dimulai.

Sehari kemudian, 9 Oktober, Kadir dijadwalkan terbang kembali ke Banyuwangi. Kepulangannya bukan berarti petualangan telah usai. Justru, tahap persiapan teknis memasuki fase yang lebih menentukan, yakni mempersiapkan pengiriman sepeda motor dari Indonesia menuju titik awal turing.

”Seluruh data teknis, mulai ketersediaan bahan bakar hingga akomodasi, akan dirangkum setibanya kembali di Tashkent pada 8 Oktober. Tanggal 9 Oktober saya pulang ke Banyuwangi untuk persiapan mengirim sepeda motor,” tandasnya.

Survei selama sepekan di Uzbekistan, Kazakhstan, dan Tajikistan menjadi fondasi penting bagi perjalanan Abdul Kadir bersama dua rekannya. Sebab, dalam ekspedisi lintas benua, keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh seberapa jauh roda berputar, melainkan juga seberapa matang setiap kilometer telah direncanakan. (aif)

Editor : Ali Sodiqin
Turing keliling dunia Uzbekistan Kazakhstan Survei rute turing abdul kadir Jawa Pos Radar Banyuwangi