Atap Empat Stasiun KAI Jadi Pembangkit Listrik, Hemat Energi 22 Persen

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 18:36 WIB
Panel surya terpasang di atap Stasiun Ketapang, Banyuwangi. PLTS berkapasitas 15 kWp tersebut menjadi bagian dari pemanfaatan energi surya di empat stasiun wilayah KAI Daop 9 Jember. (KAI)
Panel surya terpasang di atap Stasiun Ketapang, Banyuwangi. PLTS berkapasitas 15 kWp tersebut menjadi bagian dari pemanfaatan energi surya di empat stasiun wilayah KAI Daop 9 Jember. (KAI)

RADAR BANYUWANGI - Energi matahari kini ikut menopang operasional empat stasiun di wilayah PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember. Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) itu menekan konsumsi listrik. Penghematan tertinggi tercatat di Stasiun Jember sebesar 22 persen.

Tiga stasiun lain juga mencatat penghematan. Stasiun Probolinggo sebesar 14 persen, Stasiun Banyuwangi 13 persen, dan Stasiun Ketapang 10 persen.

Empat stasiun tersebut memiliki PLTS dengan total kapasitas 39 kilowatt peak (kWp). Rinciannya, Stasiun Jember 15 kWp, Banyuwangi 11 kWp, Ketapang 7 kWp, dan Probolinggo 6 kWp.

PLTS di Stasiun Probolinggo, Jember, dan Ketapang mulai beroperasi sejak Desember 2023. Sementara itu, PLTS di Stasiun Banyuwangi terpasang pada Maret 2025.

Panel surya ditempatkan di atap bangunan stasiun menggunakan sistem on-grid. Listrik yang dihasilkan terhubung dengan jaringan PLN dan dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan operasional. Mulai penerangan ruang tunggu, loket, area publik, hingga ruang kerja petugas.

Manajer Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember Cahyo Widiantoro mengatakan, pemasangan PLTS bukan sekadar menambah perangkat energi terbarukan.

“Pemanfaatan PLTS ini bukan hanya tentang memasang panel surya, tetapi bagaimana energi yang tersedia di sekitar kita dapat dimanfaatkan untuk mendukung operasional stasiun secara lebih efisien,” ujar Cahyo.

Menurut dia, energi surya di empat stasiun tersebut telah menjadi bagian dari pasokan listrik untuk mendukung pelayanan penumpang.

Efisiensi energi juga dilakukan melalui penggunaan lampu LED dan pengendalian penerangan dengan timer. Dengan cara itu, pemakaian listrik dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan waktu operasional stasiun.

“Efisiensi energi kami lakukan dari berbagai sisi. Selain memanfaatkan energi surya, penggunaan lampu LED dan pengaturan sistem penerangan secara otomatis juga menjadi bagian dari upaya mengurangi konsumsi listrik tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat,” kata Cahyo.

Jember, Ketapang, dan Probolinggo merupakan bagian dari 40 stasiun yang masuk program pemasangan PLTS KAI pada 2023. Saat itu, total kapasitas panel surya di 40 stasiun tersebut mencapai 1.072,5 kWp.

PLTS KAI Tembus 113 Unit

Program di Daop 9 menjadi bagian dari perluasan energi surya KAI secara nasional. Data KAI per 17 September 2026 menunjukkan perusahaan telah mengoperasikan 113 unit PLTS di 92 lokasi aset perkeretaapian. Total kapasitasnya mencapai 4.430,65 kWp atau sekitar 4,43 MWp.

Dari 92 lokasi tersebut, sebanyak 62 merupakan stasiun dengan total kapasitas 1.759,90 kWp. KAI memperkirakan seluruh PLTS itu berpotensi menghasilkan 5,8 juta hingga 6,6 juta kWh listrik per tahun.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pengelolaan energi menjadi bagian penting dalam operasional perkeretaapian.

“Pengelolaan energi menjadi salah satu aspek penting dalam operasional perkeretaapian,” ujar Anne.

KAI mengembangkan PLTS secara bertahap sejak 2022. Pada 2026, perusahaan juga menyiapkan tambahan kapasitas PLTS sebesar 500 kWp.

Pengembangan energi terbarukan itu berjalan seiring dengan efisiensi energi perusahaan. Berdasarkan Laporan Keberlanjutan KAI 2025, total konsumsi energi turun 15,39 persen, dari 11.945.467 gigajoule pada 2024 menjadi 10.107.302 gigajoule pada 2025. Intensitas energi per pelanggan juga turun sekitar 22,05 persen.

Menuju Green Station

Di Daop 9 Jember, pengembangan efisiensi energi selanjutnya diarahkan pada bangunan dengan aktivitas dan kebutuhan listrik tinggi pada siang hari. KAI juga berencana memanfaatkan lampu Penerangan Jalan Umum berbasis panel surya.

Dari sisi teknologi, Daop 9 akan mengembangkan sistem berbasis Internet of Things (IoT) dan Integrated Building Management System (IBMS). Teknologi tersebut disiapkan untuk memantau dan mengendalikan konsumsi energi secara waktu nyata sehingga peluang penghematan dapat diidentifikasi lebih cepat.

Cahyo mengatakan, konsep transportasi berkelanjutan tidak hanya menyangkut perjalanan kereta, tetapi juga pengelolaan fasilitas pendukung.

“Transportasi berkelanjutan tidak hanya berbicara tentang perjalanan keretanya, tetapi juga bagaimana fasilitas yang mendukung perjalanan tersebut dikelola dengan memperhatikan efisiensi dan lingkungan,” ujarnya.

Pemanfaatan PLTS, penghematan listrik, dan pengembangan teknologi pemantauan energi menjadi bagian dari upaya KAI Daop 9 mendorong konsep Green Station.

Dengan langkah itu, atap stasiun tak lagi sekadar pelindung penumpang dari panas dan hujan. Kini, bagian bangunan tersebut juga menghasilkan energi untuk menopang pelayanan sehari-hari.

Editor : Lugas Rumpakaadi
PLTS stasiun energi surya KAI Green Station Stasiun Jember KAI Daop 9 Jember